Minggu 01 Mei 2022, 09:53 WIB

Rusia Tuding AS dan NATO Hambat Kesepakatan Damai dengan Ukraina

Cahya Mulyana | Internasional
Rusia Tuding AS dan NATO Hambat Kesepakatan Damai dengan Ukraina

AFP/Maxim SHIPENKOV
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov

 

MENTERI Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mendesak Amerika Serikat (AS) dan NATO untuk menghentikan pasokan senjata ke Ukraina. Itu menjadi syarat untuk membuat kesepakatan damai yang diajukan Rusia.

"Jika mereka benar-benar tertarik untuk menyelesaikan krisis Ukraina, jika AS dan NATO benar-benar tertarik untuk menyelesaikan krisis Ukraina, pertama-tama, mereka harus bangun dan berhenti memasok senjata dan amunisi kepada rezim Kyiv,” katanya dalam sebuah wawancara dengan kantor berita resmi Tiongkok, Xinhua.

AS dan beberapa negara Eropa telah memasok senjata bernilai miliaran dolar ke Ukraina dalam perang melawan agresi Rusia. Presiden AS Joe Biden telah meminta Kongres untuk US$33miliar untuk mendukung Ukraina.

Baca juga: Rusia Diduga Jadikan Perkosaan dan Pembunuhan Massal Senjata Perang

Moskow telah berulang kali memperingatkan Washington agar tidak melanjutkan bantuan militernya ke Kyiv. Sikap AS tersebut diklaim Rusia sebagai penyulut yang nyata terhadap perang tidak berkesudahan di Ukraina.

Kremlin, sebelumnya, menyebut pengiriman senjata Barat ke Ukraina sebagai ancaman bagi keamanan Eropa. Beberapa bulan setelah invasi yang gagal dalam tujuan jangka pendeknya untuk merebut Kyiv, Moskow sekarang mengintensifkan operasi di wilayah Donbas timur Ukraina.

Lavrov juga mengatakan operasi militer khusus Rusia di Ukraina berjalan sesuai rencana. Tiongkok telah menghindar untuk mengutuk invasi Rusia ke Ukraina dan mempertahankan kerja sama bilateral.

Rusia mengatakan sanksi Barat dan pengiriman senjata ke Ukraina menghambat negosiasi damai. Lavrov mengatakan pembicaraan terus berlanjut tetapi kemajuannya sulit dicapai.

Sementara Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan kepada wartawan Polandia bahwa kemungkinan pembicaraan tinggi untuk mengakhiri konflik dapat berakhir tanpa kesepakatan.

"Risiko bahwa pembicaraan akan berakhir tinggi karena apa yang mereka (Rusia) tinggalkan di belakang mereka, kesan bahwa mereka memiliki pedoman tentang pembunuhan orang," ujarnya kepada kantor berita Interfax.

Sanksi Barat

Barat telah memberlakukan sanksi luas yang sebagian besar yang menargetkan sektor keuangan Rusia. Ratusan perusahaan multinasional juga telah keluar dari Rusia.

Negara-negara Eropa telah berjanji mengurangi ketergantungan pada gas Rusia untuk menghilangkan pendapatan Moskow. Lavrov mengatakan sanksi akan berdampak pada keruntuhan niali dolar AS dan Rusia akan mengurangi impor, sambil meningkatkan kemandirian teknologi.

Moskow telah menerapkan kebijakan dedolarisasi selama beberapa tahun, meminta mitra seperti Tiongkok dan India untuk melakukan pembayaran dalam mata uang lain. 

Sementara itu, jaksa Ukraina mengatakan mereka telah menuduh lebih dari 8.000 kejahatan perang dan sedang menyelidiki 10 tentara Rusia atas dugaan kekejaman di Bucha, tempat puluhan mayat dengan pakaian sipil ditemukan setelah mundurnya Moskow. Moskow membantah klaim tersebut. (Aljazeera/OL-1)

Baca Juga

AFP/Kepresidenan Iran.

Iran Harap Perluas Hubungan dengan Presiden Baru UEA

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 16 Mei 2022, 21:43 WIB
Iran yang mayoritas Syiah dan UEA yang mayoritas Sunni juga mendukung pihak-pihak yang bersaing dalam perang saudara tujuh tahun...
AFP/Alexander Nemenov.

Putin: Swedia, Finlandia Masuk NATO bukan Ancaman tapi Picu Respons

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 16 Mei 2022, 21:31 WIB
Aliansi militer yang dipimpin Moskow mencakup enam negara bekas Uni Soviet yakni Rusia, Belarus, Armenia, Kazakhstan, Kirgistan, dan...
AFP/Henrik Montgomery.

Swedia akan Dialog dengan Turki tentang Rencana Masuk NATO

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 16 Mei 2022, 21:17 WIB
Partai Sosial Demokrat yang berkuasa di Swedia mengakhiri penentangan mereka selama 73 tahun untuk bergabung dengan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya