Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mendesak Amerika Serikat (AS) dan NATO untuk menghentikan pasokan senjata ke Ukraina. Itu menjadi syarat untuk membuat kesepakatan damai yang diajukan Rusia.
"Jika mereka benar-benar tertarik untuk menyelesaikan krisis Ukraina, jika AS dan NATO benar-benar tertarik untuk menyelesaikan krisis Ukraina, pertama-tama, mereka harus bangun dan berhenti memasok senjata dan amunisi kepada rezim Kyiv,” katanya dalam sebuah wawancara dengan kantor berita resmi Tiongkok, Xinhua.
AS dan beberapa negara Eropa telah memasok senjata bernilai miliaran dolar ke Ukraina dalam perang melawan agresi Rusia. Presiden AS Joe Biden telah meminta Kongres untuk US$33miliar untuk mendukung Ukraina.
Baca juga : Biden Kecam Komentar Trump Terkait NATO sebagai "Mengerikan dan Berbahaya"
Moskow telah berulang kali memperingatkan Washington agar tidak melanjutkan bantuan militernya ke Kyiv. Sikap AS tersebut diklaim Rusia sebagai penyulut yang nyata terhadap perang tidak berkesudahan di Ukraina.
Kremlin, sebelumnya, menyebut pengiriman senjata Barat ke Ukraina sebagai ancaman bagi keamanan Eropa. Beberapa bulan setelah invasi yang gagal dalam tujuan jangka pendeknya untuk merebut Kyiv, Moskow sekarang mengintensifkan operasi di wilayah Donbas timur Ukraina.
Lavrov juga mengatakan operasi militer khusus Rusia di Ukraina berjalan sesuai rencana. Tiongkok telah menghindar untuk mengutuk invasi Rusia ke Ukraina dan mempertahankan kerja sama bilateral.
Baca juga : Pertemuan NATO: Peringatan Terhadap Kemajuan Ukraina Tanpa Dukungan AS
Rusia mengatakan sanksi Barat dan pengiriman senjata ke Ukraina menghambat negosiasi damai. Lavrov mengatakan pembicaraan terus berlanjut tetapi kemajuannya sulit dicapai.
Sementara Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan kepada wartawan Polandia bahwa kemungkinan pembicaraan tinggi untuk mengakhiri konflik dapat berakhir tanpa kesepakatan.
"Risiko bahwa pembicaraan akan berakhir tinggi karena apa yang mereka (Rusia) tinggalkan di belakang mereka, kesan bahwa mereka memiliki pedoman tentang pembunuhan orang," ujarnya kepada kantor berita Interfax.
Baca juga : Tank-Tank Barat jadi Target Prioritas Serangan Rusia di Ukraina
Barat telah memberlakukan sanksi luas yang sebagian besar yang menargetkan sektor keuangan Rusia. Ratusan perusahaan multinasional juga telah keluar dari Rusia.
Negara-negara Eropa telah berjanji mengurangi ketergantungan pada gas Rusia untuk menghilangkan pendapatan Moskow. Lavrov mengatakan sanksi akan berdampak pada keruntuhan niali dolar AS dan Rusia akan mengurangi impor, sambil meningkatkan kemandirian teknologi.
Moskow telah menerapkan kebijakan dedolarisasi selama beberapa tahun, meminta mitra seperti Tiongkok dan India untuk melakukan pembayaran dalam mata uang lain.
Sementara itu, jaksa Ukraina mengatakan mereka telah menuduh lebih dari 8.000 kejahatan perang dan sedang menyelidiki 10 tentara Rusia atas dugaan kekejaman di Bucha, tempat puluhan mayat dengan pakaian sipil ditemukan setelah mundurnya Moskow. Moskow membantah klaim tersebut. (Aljazeera/OL-1)
Donald Trump kembali memicu polemik global dengan rencana negosiasi pengambilalihan Greenland. Mengapa pulau Arktik ini begitu penting bagi AS?
Sekjen NATO Mark Rutte mengklarifikasi bahwa pertemuannya dengan Donald Trump fokus pada keamanan Arktik, bukan pengalihan kedaulatan Greenland.
Klaim Donald Trump soal kesepakatan masa depan Greenland disambut skeptisisme tajam oleh warga lokal di Nuuk. Mereka tegas menolak kendali Amerika Serikat.
Donald Trump sampaikan pidato provokatif di Davos. Dari ambisi kuasai Greenland tanpa militer hingga kritik tajam terhadap budaya Eropa.
Menteri Luar Negeri Denmark merespons positif pernyataan Donald Trump yang membatalkan ancaman militer ke Greenland dan menunda perang dagang.
Donald Trump sempat mengancam tarif 35% demi Greenland, memicu blokade kesepakatan dagang oleh Parlemen Eropa.
Rusia menegaskan tidak memiliki rencana merebut Greenland. Menlu Sergei Lavrov menyatakan AS memahami Moskow dan Beijing tak mengancam wilayah tersebut.
Menlu Rusia Sergei Lavrov menyebut Greenland bukan bagian alami dari Denmark. Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan AS dan Eropa terkait rencana Donald Trump.
Di balik ketegangan NATO, media pemerintah Rusia justru memuji rencana Donald Trump mencaplok Greenland. Apakah ini taktik pecah belah Barat?
PENGAMAT militer Khairul Fahmi, mencurigai adanya jalur klandestin atau perantara yang memfasilitasi rekrutmen eks personel Brimob Bripda Rio menjadi tentara bayaran Rusia
Pengamat kepolisian Bambang Rukminto menyoroti kasus Bripda Muhammad Rio, mantan personel Satuan Brimob Polda Aceh, yang diketahui bergabung dengan pasukan tentara bayaran di Rusia
Seorang anggota dapat dijatuhi PTDH jika meninggalkan tugasnya secara tidak sah (desersi) dalam waktu lebih dari 30 hari kerja secara berturut-turut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved