Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
AKADEMISI filsafat Universitas Indonesia menilai laporan mengenai kekerasan seksual dan pembunuhan yang terjadi terhadap para perempuan Ukraina oleh militer Rusia merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. Kekerasan berbasiskan gender ini tidak dapat dianggap sebagai suatu kriminal biasa, karena ini sarat kebencian berlapis yang menyasar perempuan dan berhubungan erat terhadap gender dan identitasnya seperti bangsa, ras, dan etnis.
"Pemerkosaan dan pembunuhan terhadap para perempuan di Ukraina merupakan kekejian yang digunakan oleh militer Rusia sebagai senjata perang untuk menunjukkan kekuasaannya," ujar DR Saraswati Putri dalam keterangan tertulis, Selasa (26/4). Tentara Rusia diketahui dengan dalih operasi militer khusus tidak saja melakukan pelanggaran hukum humaniter, tetapi secara sengaja melakukan tindak pemerkosaan terhadap anak-anak, perempuan lansia, bahkan pria Ukraina.
Penasihat Kepala Kantor Presiden Ukraina, Oleksiy Arestovych, mendapati fakta banyak kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan yang menimpa anak-anak, perempuan lansia, hingga pria di wilayah yang sempat diduduki penjajah Rusia. "Dengan setiap desa dan kota yang baru dibebaskan di Ukraina, para pembela hak asasi manusia dan petugas penegak hukum mempelajari semakin banyak kasus pemerkosaan terhadap warga sipil dan bukan hanya wanita. Pemerkosaan telah menjadi ciri khas penjajah Rusia," tuturnya seperti dikutip dari Time.
Banyak kasus pemerkosaan tidak diketahui karena para korban mengalami trauma dan tidak kuasa membicarakannya, kata Jaksa Agung Ukraina Iryna Venediktova. "Dan ini bisa dimengerti. Ketakutan, kesakitan, keputusasaan, ketidakpercayaan total terhadap semua."
Lyudmyla Leontiyivna Denisova, politikus Ukraina kelahiran Rusia dan mantan Menteri Tenaga Kerja dan Kebijakan Sosial, menyatakan peristiwa pemerkosaan secara sistematis yang dilakukan tentara Rusia menyatakan 12 wanita setuju untuk secara terbuka mengatakan bahwa mereka hamil karena pemerkosaan oleh penjajah. Meski demikian, lanjut pejabat tinggi Hak Asasi Manusia Ukraina tersebut, hingga saat ini tidak diketahui jumlah wanita yang dipaksa hamil sejak awal perang skala penuh Rusia melawan Ukraina. Ini terutama karena banyak korban sudah mati dan tubuh mereka mungkin masih berada di wilayah pendudukan serta polisi Ukraina belum mengetahui kejahatan ini.
Pihak berwenang Ukraina saat ini berusaha menginventarisasi kejahatan seksual penjajah bekerja sama dengan organisasi hak asasi manusia setempat maupun internasional. Diketahui tindakan pemerkosaan oleh tentara Rusia terhadap warga sipil marak dilakukan ketika mereka secara strategis telah kalah dan menyadari akan ditarik mundur. Bukti-bukti pemerkosaan oleh tentara Rusia muncul sejak pertengahan April di kota Bucha dan Irpin. Di kota Bucha, ditemukan gadis 14 tahun yang dinyatakan positif hamil, setelah diperkosa lima tentara Rusia secara bergiliran.
Kebrutalan tentara utusan Presiden Vladimir Putin itu tidak berhenti di situ. Laporan lain menyebutkan anak laki-laki berusia 11 tahun pun menjadi korban pemerkosaan. Saat korban diperkosa, ibunya dipaksa untuk menonton sambil duduk di kursi dengan tangan terikat. Satu laporan lagi, tiga tentara Rusia memperkosa wanita usia 20 tahun di Irpin. Ada juga janda dua anak diperkosa dan dibunuh. Perilaku tentara Rusia makin menjijikan ketika insiden perkosaan direkam dalam video dan dibagian sesama mereka yang kemudian bocor ke media sosial.
Sederet dugaan pemerkosaan oleh tentara Rusia di Ukraina dibahas dalam sesi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Senin (11/4). Sesi ini menghadirkan perwakilan entitas PBB untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan (UN Women), organisasai hak asasi manusia La Strada Ukraina, serta perwakilan Dana Anak PBB (UNICEF). Direktur Eksekutif UN Women Sima Bahous menyebut pihaknya menerima berbagai laporan pemerkosaan dan kekerasan seksual terhadap perempuan di Ukraina harus diinvestigasi secara independen dan pengadilan terhadapnya ditegakkan. (OL-14)
SERANGAN udara terbaru Rusia menyebabkan gangguan besar pada infrastruktur vital di Ukraina. Listrik dan air dilaporkan tidak dapat diakses di ibu kota Kyiv
Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan serangan ke 148 target militer Ukraina, termasuk depot amunisi, formasi militer, dan menembak jatuh ratusan drone.
Rusia kembali serang Kyiv, ibu kota Ukraina, dengan drone pada 5 Februari 2026. Dua warga luka, gedung TK dan perkantoran rusak di tengah kelanjutan perundingan damai di Abu Dhabi.
Sebelumnya, FIFA dan UEFA telah membekukan keanggotaan Rusia dari seluruh kompetisi internasional sejak Februari 2022, sesaat setelah invasi skala penuh ke Ukraina dimulai.
KEPALA Dana Investasi Langsung Rusia Kirill Dmitriev, pada Selasa (27/1), mengatakan bahwa penarikan pasukan Ukraina dari Donbas dapat mendorong perdamaian di Ukraina.
Presiden Zelenskyy menyatakan dokumen jaminan keamanan AS-Ukraina siap diteken usai pertemuan trilateral di Abu Dhabi. Isu teritorial masih jadi ganjalan utama.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved