Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA Penjaga Revolusioner (Revolutionary Guards) Iran mengatakan pada Kamis (21/4) mereka tidak akan berhenti menuntut balas atas seorang jenderal top mereka yang terbunuh dalam serangan AS. Ini menjadi salah satu syarat untuk mengakhiri sanksi. Ini titik perdebatan dalam pembicaraan nuklir.
Iran telah terlibat selama satu tahun dalam negosiasi dengan Prancis, Jerman, Inggris, Rusia, dan Tiongkok secara langsung, dan Amerika Serikat secara tidak langsung, untuk menghidupkan kembali kesepakatan 2015, yang dikenal sebagai rencana aksi komprehensif bersama (JCPOA). Jenderal Qasem Soleimani, yang memimpin Angkatan Quds, lengan operasi Penjaga Revolusioner di luar negeri, tewas dalam serangan drone AS di ibu kota Irak Baghdad pada Januari 2020.
"Musuh meminta kami beberapa kali untuk melupakan pembalasan darah Qasem Soleimani agar mengangkat beberapa sanksi, tetapi ini fantasi," kata Kepala AL Guards Laksamana Alireza Tangsiri, dikutip oleh situs web berita Guards. Guards merupakan pasukan ideologis militer Iran.
Mantan Presiden AS Donald Trump memerintahkan Soleimani dibunuh. Iran menanggapi pembunuhannya dengan menembakkan rudal beberapa hari kemudian di pangkalan Irak yang menampung tentara AS sehingga menyebabkan cedera.
Baca juga: Kepala Pasukan Quds IRGC Iran Bicara Hizbullah dan Houthi
Pada 2018, dua tahun sebelum pembunuhan Soleimani, AS secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir dan mengenakan sanksi kepada Iran. Ini mendorong Teheran mundur dari komitmennya.
Di antara poin perdebatan yang tersisa yaitu permintaan Teheran untuk menghapus Penjaga Revolusioner dari daftar teror AS. Sanksi itu dikenakan oleh Trump setelah ia menarik diri dari perjanjian nuklir. Sayap kanan politisi AS dan Israel memperingatkan Washington terhadap pencabutan sanksi kepada Guards.
Iran pekan ini mengatakan bahwa masalah teknis dalam negosiasi untuk memulihkan perjanjian nuklir telah diselesaikan. Namun masalah politik masih bertahan.
Baca juga: Tuding Agresi Zionis, Iran Janjikan Bantuan Baru untuk Palestina
"Kami berulang kali menekankan (ke Washington) bahwa Iran tidak mau meninggalkan garis merahnya," kata Menteri Luar Negeri Iran Amir-Abdollahian, Kamis, tanpa memberikan perincian lebih lanjut. Pada Senin, juru bicara kementerian luar negeri Iran Saeed Khatibzadeh mengatakan, "Para pelaku, pejabat, kaki tangan, dan penasihat dalam kematian Soleimani tidak akan dihukum, tetapi orang-orang ini harus dibawa ke pengadilan." (AFP/OL-14)
MENTERI Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth menegaskan kesiapan penuh militer AS menghadapi Iran, di tengah meningkatnya ketegangan.
IRAN memperkuat kemampuan militernya dengan mengintegrasikan 1.000 drone tempur baru ke dalam angkatan bersenjata, di tengah meningkatnya ketegangan dan ancaman serangan AS.
Donald Trump mendesak Teheran segera berunding untuk mencapai kesepakatan baru terkait senjata nuklir atau bersiap menghadapi serangan dari AS.
PARA menteri luar negeri Uni Eropa untuk pertama kali dalam pertemuan pada Kamis (29/1) menyebut Amerika Serikat sebagai ancaman bagi benua tersebut.
PRESIDEN AS Donald Trump tengah mempertimbangkan semua opsi terkait situasi dengan Iran, termasuk melancarkan serangan kuat dan menentukan. CNN melaporkan itu pada Rabu (28/1).
KETEGANGAN geopolitik di Timur Tengah mencapai titik didih baru pada awal 2026. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran.
TIONGKOK menolak usulan Presiden Donald Trump untuk perundingan pengendalian senjata nuklir sebagai tidak masuk akal. Apa alasannya?
PERLOMBAAN nuklir baru dimulai. Kini AS harus bersiap menghadapi dua pesaing sekaligus di saat kehilangan keunggulan industri dan ekonominya.
Di Xinjiang barat jauh, citra satelit dan analisis ahli menunjukkan bahwa Tiongkok dengan cepat memperluas lokasi uji coba nuklir bersejarah.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan keberhasilan uji coba rudal jelajah bertenaga nuklir Burevestnik, di tengah meningkatnya serangan udara di Ukraina.
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyatakan siap mendukung kesepakatan Donald Trump dan Kim Jong Un terkait pembekuan produksi senjata nuklir Korea Utara.
Peimpin Korea Utara, Kim Jong Un, serukan percepatan perluasan kemampuan senjata nuklir di negaranya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved