Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA pemimpin ekonomi utama dunia G20 menyetujui pajak minimum perusahaan global pada Sabtu (30/10). Dalam pengumuman besar pertama dari KTT G20 di Roma, Menteri Keuangan AS Janet Yellen, yang menghadiri pembicaraan tersebut, mengatakan bahwa blok itu mendukung kesepakatan bersejarah yang akan membuat perusahaan multinasional dikenakan pajak minimal 15%.
"Kesepakatan itu akan mengakhiri perlombaan yang merusak ke dasar perpajakan perusahaan," katanya dalam suatu pernyataan. Rencana reformasi itu, yang telah didukung oleh hampir 140 negara, berupaya mengakhiri praktik perusahaan besar seperti Apple dan induk Google, Alphabet, dalam melindungi keuntungan di negara-negara dengan pajak rendah.
Namun belum ada konsensus yang muncul tentang komitmen kolektif tentang perubahan iklim, menjelang konferensi penting COP26 yang dimulai di Glasgow pada Minggu. Seorang pejabat senior AS mengatakan elemen dari pernyataan akhir G20 masih dinegosiasikan dan KTT Roma yaitu tentang membantu membangun momentum sebelum pembicaraan iklim PBB.
Pada jamuan makan malam di istana Qurinale yang mewah pada Sabtu malam, Presiden Italia Sergio Mattarella mendesak para pemimpin untuk bertindak demi generasi mendatang. "Darurat perubahan iklim membayangi segalanya," kata pria berusia 80 tahun itu. "Mata miliaran orang, dari seluruh bangsa, tertuju pada kita dan hasil yang akan kita capai," ucapnya.
Sebelumnya, ribuan pengunjuk rasa iklim, banyak dari mereka masih muda, berkumpul di pusat kota untuk menuntut tindakan yang lebih keras. "Kami meminta para pemimpin G20 untuk berhenti bermain-main di antara mereka sendiri dan akhirnya mendengarkan orang-orang dan bertindak untuk iklim, seperti yang diminta ilmu pengetahuan selama bertahun-tahun," kata aktivis Fridays for Future Simone Ficicchia kepada AFP.
Baca juga: KTT G20: Jokowi Serukan Penguatan Kesehatan Global yang Inklusif
Italia mendorong G20 untuk secara kolektif mendukung tujuan PBB membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat celsius di atas tingkat praindustri, salah satu aspirasi dari kesepakatan iklim Paris 2015. "Dari pandemi hingga perubahan iklim serta perpajakan yang adil dan merata, melakukannya sendiri bukanlah pilihan," kata Perdana Menteri Italia Mario Draghi kepada para pemimpin menjelang pembicaraan yang dilakukan secara tertutup tersebut. (AFP/OL-14)
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Studi cincin pohon pinus di Spanyol mengungkap anomali cuaca paling ekstrem sejak 1500-an. Ketidakstabilan curah hujan kini mencapai titik kritis.
Analisis mendalam Avatar: Fire and Ash sebagai metafora krisis iklim. Menghubungkan 'Bangsa Abu' dengan data kebakaran hutan global 2025-2026.
Cuaca 2026 semakin tak menentu. Simak panduan medis menjaga imunitas tubuh, mencegah penyakit pancaroba, dan tips menghadapi gelombang panas (heatwave).
Lautan dunia menyerap panas ekstrem tahun 2025, memecahkan rekor selama sembilan tahun berturut-turut. Simak dampak mengerikannya bagi iklim global.
Peneliti Oxford mengungkap bagaimana bentuk garis pantai dapat menjebak spesies laut saat suhu memanas. Garis pantai Timur-Barat tingkatkan risiko kepunahan.
Studi terbaru mengungkap sisi emosional hilangnya gletser dunia. Dari tujuan wisata "kesempatan terakhir" hingga ritual pemakaman es, bagaimana manusia merespons kepunahan gletser?
Perubahan iklim global kini menjadi realitas ilmiah yang tidak terbantahkan dan berdampak langsung pada meningkatnya risiko bencana di berbagai wilayah, termasuk Sumatra.
Analisis global terhadap 31.000 spesies pohon mengungkap tren mengkhawatirkan: spesies pohon yang tumbuh lambat mulai punah, digantikan pohon cepat tumbuh yang rapuh.
Fenomena Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi dijelaskan secara ilmiah oleh pakar IPB University.
Di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim dan pemanasan laut, diskusi tentang energi dan kelautan kini tidak lagi berdiri sendiri.
Peneliti mengungkap mekanisme seluler yang membantu tanaman tetap tumbuh meski cuaca ekstrem. Temuan ini menjadi kunci masa depan ketahanan pangan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved