Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
KOMISI Eropa meluncurkan sebuah badan krisis kesehatan yang akan mengoordinasikan pengeluaran Uni Eropa sebesar hampir 30 miliar euro untuk mempersiapkan pandemi di masa depan.
Otoritas kesiapsiagaan dan respons darurat kesehatan (HERA) yang baru akan menilai potensi ancaman kesehatan, mempromosikan penelitian, memastikan ketersediaan produksi kritis dan membantu membangun persediaan.
Jika krisis kesehatan baru melanda, badan tersebut akan mengaktifkan pendanaan darurat dan membantu mengoordinasikan pemantauan, pengadaan dan pembelian peralatan atau perawatan medis.
Otoritas tersebut sebagian dirancang untuk menghindari pengulangan tindakan ad hoc yang diambil oleh masing-masing negara UE pada awal pandemi covid-19, beberapa di antaranya tidak efisien, sementara yang lain mengorbankan anggota UE lainnya.
Badan baru itu akan melengkapi badan kesehatan Uni Eropa lainnya, Badan Obat Eropa serta Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa.
Baca juga: Pasca Pandemi, Semua Lapisan Masyarakat Dapatkan Jaminan Sosial
Wakil Presiden Komisi Eropa Margaritis Schinas mengatakan kedua lembaga telah diperkuat, tetapi itu saja tidak cukup.
"Kedua lembaga memiliki peran yang sangat penting untuk dimainkan tetapi terutama setelah pandemi melanda kita," kata Schinas dalam konferensi pers.
"HERA akan menjadi instrumen utama kami untuk mengoordinasikan kesiapsiagaan dan, jika diperlukan, tanggapan. Inilah yang kami lewatkan hari ini,” imbuhnya.
HERA, yang akan beroperasi penuh pada awal 2022, akan memiliki 6 miliar euro dari anggaran UE untuk 2022-2027, dengan program lain membawa total pengeluaran UE untuk keamanan kesehatan menjadi hampir 30 miliar euro.
Bersama dengan proyek-proyek individu anggota UE dan bisnis, pengeluaran dapat mencapai total 50 miliar euro.(Straitstimes/OL-5)
DIREKTUR Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan potensi influenza A (H3N2) subclade K atau Super Flu menjadi pandemi tergantung dari 3 faktor.
Peneliti simulasi wabah H5N1 pada manusia. Hasilnya, hanya ada jendela waktu sangat sempit untuk mencegah pandemi sebelum penyebaran tak terkendali.
ANCAMAN kesehatan global kembali muncul dari Tiongkok. Setelah virus corona yang menyebabkan pandemi covid-19, kali ini virus baru influenza D (IDV) ditemukan.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ghufron Mukti mengatakan selama tidak ada deklarasi epidemi di daerah maka korban keracunan MBG akan ditanggung oleh BPJS Kesehatan.
Adanya hewan hidup dan hewan yang baru disembelih di area yang sama meningkatkan paparan cairan tubuh dan feses yang mengandung virus.
Ahli epidemiologi Michael Osterholm memperingatkan dunia agar bersiap menghadapi pandemi mematikan berikutnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved