Headline
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Kumpulan Berita DPR RI
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pada hari Rabu bahwa mereka sangat prihatin dengan jumlah penderita long covid yang masih tidak diketahui secara pasti jumlahnya.
WHO mendesak orang-orang yang telah melewati fase akut namun masih berjuang dengan dampak virus untuk tetap mencari bantuan medis.
Baca juga: AS Tolak Seruan WHO Moratorium Suntikan Penguat Vaksin Covid-19
Menurut WHO, Long Covid tetap menjadi salah satu aspek pandemi yang paling misterius.
“Sindrom pasca-Covid ini, atau Long Covid, adalah sesuatu yang sangat dikhawatirkan oleh WHO,” ujar Maria Van Kerkhove, pimpinan teknis Covid-19 badan kesehatan PBB, mengatakan pada konferensi pers.
“Kami menyarankan siapa pun yang menderita efek jangka panjang untuk mencari bantuan,” tambahnya.
Sedikit yang diketahui tentang mengapa beberapa orang, setelah melewati fase akut, berjuang untuk pulih dan menderita gejala yang berkelanjutan termasuk sesak napas, kelelahan ekstrim dan kabut otak serta gangguan jantung dan neurologis.
Pakar AS juga mengatakan bahwa mereka belum sepenuhnya memahami apa yang menyebabkan gejala pasca-virus, dengan berbagai hipotesis termasuk masalah neurologis, respons kekebalan terhadap infeksi, dan virus bertahan di beberapa organ.
"Kami tidak tahu berapa lama efek ini bertahan dan kami bahkan sedang mengerjakan definisi kasus untuk lebih memahami dan menggambarkan apa sindrom pasca-Covid ini," ujar Van Kerkhove.
Dia mengatakan bahwa WHO sedang bekerja untuk memiliki program rehabilitasi yang lebih baik untuk penderita Long Covid.
Mereka juga sedang menambah penelitian yang lebih luas untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang apa sindrom itu dan bagaimana hal itu dapat dikelola.
Janet Diaz, pemimpin perawatan klinis dalam program kedaruratan WHO yang memimpin upaya Long Covid, mengatakan ada lebih dari 200 gejala yang dilaporkan.
Mereka termasuk nyeri dada, kesemutan dan ruam, katanya pada sesi media sosial langsung WHO pada hari Selasa.
Diaz mengatakan beberapa pasien memiliki gejala yang berlanjut dari fase akut; yang lain menjadi lebih baik dan kemudian kambuh, dengan kondisi yang bisa datang dan pergi; sementara yang lain memiliki gejala yang baru muncul setelah sembuh dari fase akut.
Studi hanya dapat kembali sejauh pasien pertama yang pulih dari Covid-19, yang pertama kali muncul di China pada Desember 2019.
Diaz mengatakan beberapa orang tampaknya memiliki kondisi pasca-Covid selama tiga bulan, dan yang lain hingga enam bulan.
"Kami khawatir mungkin ada sebagian kecil yang berlangsung hingga sembilan bulan -- dan lebih lama dari itu," kata Diaz. (OL-6)
WHO menyebut vaksin influenza generasi baru berpotensi mencegah hingga 18 miliar kasus flu dan menyelamatkan 6,2 juta nyawa hingga 2050 dengan perlindungan yang lebih luas dan tahan lama.
Virus Nipah adalah virus zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia. Selain melalui kontak langsung dengan hewan, virus ini juga dapat menyebar melalui makanan yang terkontaminasi.
Prof. Tjandra Yoga Aditama ingatkan kewaspadaan terhadap Flu Burung, MERS-CoV, Super Flu, & Virus Nipah. Simak risiko dan data terbaru WHO 2026 di sini.
Mengonsumsi ikan akan memberi energi, protein dan berbagai jenis nutrien yang penting bagi kesehatan.
Tiga tinjauan Cochrane yang ditugaskan WHO mengungkap potensi besar obat GLP-1 untuk penurunan berat badan, namun pakar peringatkan risiko jangka panjang.
WHO terus memantau sejumlah penyakit infeksi paru berat seperti flu burung, MERS, influenza berat, dan virus Nipah yang berisiko tinggi bagi kesehatan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved