Kamis 08 April 2021, 15:12 WIB

Korban Covid-19 Naik Dratis, Presiden Brasil Tetap Tolak Lockdown

Atikah Ishmah Winahyu | Internasional
Korban Covid-19 Naik Dratis, Presiden Brasil Tetap Tolak Lockdown

EVARISTO SA / AFP
Presiden Brasil Jair Bolsonaro kembali menegaskan bahwa dia tidak berencana untuk memberlakukan lockdown nasional.

 

PRESIDEN Brasil Jair Bolsonaro kembali menegaskan bahwa dia tidak berencana untuk memberlakukan penguncian nasional, meski sehari sebelumnya negara tersebut mencatat jumlah kematian tertinggi dalam 24 jam.

Kementerian Kesehatan Brasil melaporkan 3.829 kasus kematian akibat Covid-19 pada Rabu (7/4), sedikit menurun dari 4.195 kasus yang tercatat pada hari sebelumnya.

“Kami tidak akan menyetujui aturan politik untuk tinggal di rumah dan menutup segalanya,” kata Bolsonaro dalam pernyataannya di Chapeco, menolak tekanan yang meningkat pada pemerintahnya untuk mempertanggungjawabkan penanganan terhadap pandemi yang melonjak.

“Tidak akan ada penguncian nasional,” tegasnya.

Bolsonaro yang skeptis terhadap Covid-19 telah meremehkan bahaya pandemi dan tetap menentang para ahli kesehatan masyarakat yang semakin menyuarakan perlunya menerapkan pembatasan virus korona yang ketat untuk mengatasi krisis tersebut.

Sejauh ini, lebih dari 336.000 orang telah meninggal dunia akibat Covid-19 di Brasil, menurut data Universitas Johns Hopkins. Proyeksi menunjukkan bahwa jumlah korban akan terus meningkat jika tidak ada upaya yang dilakukan untuk mengekang virus.

Pada Rabu, direktur Organisasi Kesehatan Pan Amerika (PAHO) Carissa Etienne mengatakan Brasil termasuk di antara negara-negara yang melaporkan kasus Covid-19 harian baru tertinggi di dunia. Kementerian Kesehatan Brasil melaporkan 92.625 infeksi baru pada Rabu.

"Selama seminggu terakhir, Amerika Serikat, Brasil, dan Argentina termasuk di antara 10 negara di dunia yang mencatat jumlah infeksi baru tertinggi di seluruh dunia," kata Etienne dalam jumpa pers mingguan.

Sementara itu, pihak berwenang melaporkan kasus pertama yang dikonfirmasi di Brasil dari varian virus korona Afrika Selatan pada hari Rabu (7/4), memicu kekhawatiran tambahan tentang kemampuan negara itu untuk mengatasi infeksi yang melonjak.

Varian yang pertama kali ditemukan di negara bagian Amazonas Brasil, yang dikenal sebagai P1, dan varian Afrika Selatan diyakini lebih mudah ditularkan daripada strain asli dari virus korona baru.

"Ini bisa menjadi duel besar," kata koordinator penelitian di institut biomedis Butantan Brasil Maria Carolina Sabbaga tentang dua varian tersebut.

“Saya pikir P.1 sudah mengambil alih. Saya tidak yakin apakah Afrika Selatan akan menyalip P.1, mari kita lihat,” imbuhnya.

Brasil meluncurkan kampanye vaksinasi pada bulan Januari, tetapi sejauh ini hanya 8 persen dari populasi yang telah diimunisasi di tengah persediaan dosis yang terbatas.

Brasil sejauh ini mendapatkan vaksin dari AstraZeneca dan Sinovac Tiongkok.

Sao Paulo, kota terbesar Brasil, pada hari Rabu mengatakan akan mulai membuka sekitar 600 makam baru setiap hari di tengah lonjakan kematian akibat virus korona, jauh melampaui rekor 426 pemakaman harian pada 30 Maret.

Kota ini juga sedang mempersiapkan rencana untuk pemakaman vertikal, ruang bawah tanah dengan 26.000 kuburan seperti laci yang dapat dibangun dalam 90 hari setelah disetujui. (Aiw/Aljazeera/OL-09)

Baca Juga

Antaranews.com

Sanksi AS Sebabkan Perusahaan Tekstil Tiongkok Rugi Rp895,8 Miliar

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 21 April 2021, 23:10 WIB
Huafu menjadi pemasok utama merek pakaian jadi ternama berjaringan global, seperti H&M, Uniqlo, Adidas, Nike, dan...
digital-strategy.ec.europa.eu

Malaysia Keluarkan SOP untuk Pasien Indonesia yang Berobat

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 21 April 2021, 21:56 WIB
SOP ini menjamin keduanya selamat untuk dimasuki sehingga begitu tiba langsung ke rumah sakit dan menerima perawatan yang...
AFP

Polisi Rusia Tahan Pendukung Navalny Jelang Pidato Putin

👤Nur Aivanni 🕔Rabu 21 April 2021, 21:49 WIB
Polisi telah melakukan pencarian dan menahan aktivis di setidaknya 20 kota di seluruh...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Jejak Herbal Cagar Biosfer

Lingkungan alam di Malang menunjang pembudidayaan tanaman obat. Ada sejarah panjang yang melingkupinya

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya