Headline
Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.
Kumpulan Berita DPR RI
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO), Senin (22/3), mengecam semakin lebarnya jurang vaksin covid-19 yang telah diberikan di negara kaya dan negara miskin.
WHO mengkritik negara-negara kaya yang telah mulai memvaksinasi orang-orang muda yang berisiko rendah tertular covid-19. Lembaga PBB itu mengatakan negara-negara kaya itu melakukan hal tersebut meski banyak orang yang hidupnya terancam di negara-negara miskin.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan dirinya sangat terkejut melihat sangat minimnya upaya mencegah 'bencana kegagalan moral' yang sebenarnya telah diramalkan untuk memastikan distribusi vaksin covid-19 yang adil.
Baca juga: Swiss Setujui Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson
"Jurang antara jumlah vaksinasi yang diberikan di negara kaya dengan jumlah vaksinasi yang diberikan melalui Covax terus melebar setiap harinya dan itu sangat mengerikan," ujar Tedros mengacu pada program untuk memastikan negara-negara miskin mendapatkan akses pada vaksin covid-19.
"Negara-negara kini telah mulai memvaksinasi orang-orang muda dan sehat yang berisiko rendah. Hal itu berarti mereka mengabaikan nasib tenaga kesehatan, lansia, dan warga risiko tinggi di negara lain."
"Ketidakseimbangan distribusi vaksin ini bukan hanya kegagalan moral namun kegagalan secara ekonomi dan epidemiologi."
"Sejumlah negara berlomba memvaksinasi seluruh warga mereka sementara negara lain tidak memiliki vaksin satu pun," imbuhnya.
Tedros kemudian mengatakan negara kaya, saat ini, membeli kenyamanan jangka pendek namun hanya semu.
Dia mengatakan semakin lama penyebaran covid-19 berarti virus memiliki kesempatan untuk bermutasi sehingga variannya akan semakin banyak. Nantinya, akan ada virus korona yang kebal terhadap vaksin.
"Selama virus terus bersirkulasi, jumlah orang yang meninggal akan semakin banyak. Perdagangan dan perjalanan akan terus terganggu. Kepulihan ekonomi akan terus tertunda," tegas Tedros. (AFP/OL-1)
Studi terbaru The Lancet Oncology mengungkap ketimpangan tragis, angka kematian kanker payudara turun di negara maju, namun melonjak hampir 100% di negara miskin.
WHO menyebut vaksin influenza generasi baru berpotensi mencegah hingga 18 miliar kasus flu dan menyelamatkan 6,2 juta nyawa hingga 2050 dengan perlindungan yang lebih luas dan tahan lama.
Virus Nipah adalah virus zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia. Selain melalui kontak langsung dengan hewan, virus ini juga dapat menyebar melalui makanan yang terkontaminasi.
Prof. Tjandra Yoga Aditama ingatkan kewaspadaan terhadap Flu Burung, MERS-CoV, Super Flu, & Virus Nipah. Simak risiko dan data terbaru WHO 2026 di sini.
Mengonsumsi ikan akan memberi energi, protein dan berbagai jenis nutrien yang penting bagi kesehatan.
Tiga tinjauan Cochrane yang ditugaskan WHO mengungkap potensi besar obat GLP-1 untuk penurunan berat badan, namun pakar peringatkan risiko jangka panjang.
Riset terbaru menunjukkan vaksin Covid-19 berbasis mRNA seperti Pfizer dan Moderna dapat memicu sistem imun melawan sel kanker.
DUA tenaga kesehatan menerima vaksin Covid-19 di hari yang sama, pola respons antibodi setiap orang ternyata berbeda-beda menentukan berapa lama perlindungan vaksin bertahan
Pengurus IDI, Iqbal Mochtar menilai bahwa kekhawatiran masyarakat terhadap vaksin berbasis Messenger Ribonucleic Acid (mRNA) untuk covid-19 merupakan hal yang wajar.
Menteri Kesahatan AS Robert F. Kennedy Jr. membuat gebrakan besar dengan mencabut kontrak dan membatalkan pendanaan proyek vaksin berbasis teknologi mRNA, termasuk untuk covid-19.
Sejalan dengan penjelasan Kementerian Kesehatan yang menyebutkan vaksinasi booster covid-19 tetap direkomendasikan.
Pemakaian masker, khususnya di tengah kerumunan mungkin dapat dijadikan kebiasaan yang diajarkan kepada anak-anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved