Headline
Istana minta Polri jaga situasi kondusif.
PEMERINTAHAN Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mendeklarasikan keadaan darurat iklim sebagai langkah simbolis untuk meningkatkan tekanan memerangi pemanasan global. Mereka akan mengajukan mosi untuk mengumumkan keadaan darurat pada Rabu (2/12) depan.
"Kami selalu menganggap perubahan iklim sebagai ancaman besar bagi wilayah kami, dan itu adalah sesuatu yang harus segera kami tindak lanjuti," kata Ardern.
"Sayangnya, kami tidak dapat membuat mosi seputar darurat iklim di parlemen pada masa jabatan terakhir, tapi sekarang kami bisa,” imbuhnya.
Ardern kembali berkuasa bulan lalu, memberikan kemenangan pemilu terbesar untuk Partai Buruh dalam setengah abad saat para pemilih menghadiahinya karena tanggapan yang tegas terhadap covid-19.
Kemenangan gemilang memungkinkan partai Ardern untuk memerintah sendiri, meskipun dia telah bergabung dengan Partai Hijau untuk masa jabatan tiga tahun berikutnya.
Baca juga: 100 Paus dan Lumba-lumba Tewas Terdampar di Selandia Baru
Anggota parlemen yang baru terpilih dilantik pada Selasa dan kembali bekerja pada Rabu. Parlemen ini memiliki beberapa orang kulit berwarna, anggota komunitas pelangi dan wanita dalam jumlah besar.
Dalam masa jabatan terakhirnya, pemerintah Ardern mengesahkan RUU Nol Karbon yang menetapkan kerangka kerja nol emisi bersih pada 2050, dengan dukungan lintas partai di parlemen.
Jika keadaan darurat iklim dapat dilalui, Selandia Baru akan bergabung dengan negara-negara seperti Kanada, Prancis, dan Inggris yang telah mengambil jalur yang sama untuk memfokuskan upaya mengatasi perubahan iklim.
Minggu lalu, anggota parlemen Jepang mengumumkan keadaan darurat iklim dan berkomitmen memiliki rencana yang pasti untuk nol emisi.(CNA/OL-5)
Penelitian terbaru mencatat lebih dari 5.000 mamalia laut terdampar di pesisir Skotlandia sejak 1992.
Studi terbaru di jurnal One Earth mengungkap 60% wilayah daratan Bumi kini berisiko, dengan 38% menghadapi risiko tinggi.
Banjir monsun telah menyapu bersih seluruh desa, memicu tanah longsor, dan menyebabkan banyak orang hilang.
Studi terbaru mengungkap populasi burung tropis turun hingga 38% sejak 1950 akibat panas ekstrem dan pemanasan global.
Dengan cara mengurangi emisi gas rumah kaca, beradaptasi perubahan iklim, dan mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.
Perubahan iklim ditandai dengan naiknya suhu rata-rata, pola hujan tidak menentu, serta kelembaban tinggi memicu ledakan populasi hama seperti Helopeltis spp (serangga penghisap/kepik)
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved