Selasa 24 November 2020, 11:33 WIB

Tiongkok Luncurkan Misi Luar Angkasa Bawa Puing dari Bulan ke Bumi

Atikah Ishmah Winahyu | Internasional
Tiongkok Luncurkan Misi Luar Angkasa Bawa Puing dari Bulan ke Bumi

AFP
Peluncuran roket luar angkasa Tiongkok untuk kumpulkan puing dari bulan

 

TIONGKOK meluncurkan misi ambisius untuk membawa kembali batu dan puing-puing dari permukaan bulan untuk pertama kalinya dalam lebih dari 40 tahun. Misi ini merupakan upaya untuk meningkatkan pemahaman manusia terhadap bulan dan tata surya secara umum.

Chang’e merupakan misi bulan yang paling berani di negara itu. Jika berhasil, misi ini akan menjadi kemajuan besar bagi program luar angkasa Tiongkok. Sejumlah pakar mengatakan misi ini akan membuka jalan untuk membawa material dari Mars atau bahkan misi bulan berawak.

Keempat modul pesawat ruang angkasa Chang’e 5 diluncurkan pada Selasa (24/11) tepat setelah pukul 04.30 pagi waktu setempat di atas roket Long March-5Y dari pusat peluncuran Wenchang, di sepanjang pantai provinsi pulau selatan Hainan.

Beberapa menit setelah lepas landas, pesawat ruang angkasa itu terpisah dari roket tahap pertama dan kedua, kemudian meluncur ke orbit transfer bumi-bulan. Sekitar satu jam kemudian, Chang'e 5 membuka panel surya untuk menyediakan sumber listrik independennya.

Pesawat ruang angkasa biasanya membutuhkan waktu tiga hari untuk mencapai bulan.

Peluncuran tersebut disiarkan langsung oleh CCTV penyiar nasional, yang kemudian beralih ke animasi komputer untuk menunjukkan proses menuju ke luar angkasa.

Menurut NASA, tugas utama misi ini untuk mengebor sedalam 2 meter di bawah permukaan bulan dan mengumpulkan sekitar 2 kilogram batuan serta puing-puing lainnya untuk dibawa kembali ke bumi. Ini akan memberikan kesempatan pertama bagi para ilmuwan untuk mempelajari material bulan yang baru diperoleh sejak misi Amerika dan Rusia pada 1960-an dan 1970-an silam.

Baca juga: Akhir Pekan ini, SpaceX Kirim lagi 4 Astronot ke Luar Angkasa

Waktu pendarat Chang'e 5 di bulan dijadwalkan singkat. Pesawat tersebut hanya dapat bertahan selama satu siang bulan atau sekitar 14 hari bumi, karena tidak memiliki unit pemanas radioisotop untuk menahan suhu malam di bulan yang membeku.

Pendarat akan menggali material dengan bor dan lengan robotnya, kemudian memindahkannya ke tempat yang disebut ascender, yang akan lepas landas dari bulan dan berlabuh dengan kapsul servis. Material tersebut kemudian akan dipindahkan kembali ke kapsul untuk diangkut ke bumi.

“Kompleksitas teknis Chang'e 5 dengan empat komponennya membuatnya luar biasa dalam banyak hal,” kata pakar luar angkasa di US Naval War College Joan Johnson-Freese.

"Tiongkok menunjukkan dirinya mampu mengembangkan dan berhasil melaksanakan program teknologi tinggi yang berkelanjutan. Hal ini penting untuk pengaruh regional dan kemungkinan kemitraan global," imbuhnya.

“Secara khusus, kemampuan untuk mengumpulkan sampel dari luar angkasa semakin meningkat nilainya,” sambut astronom di Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics Jonathan McDowell.

“Negara lain yang berencana mengambil material dari asteroid atau bahkan Mars dapat belajar dari pengalaman Tiongkok,” ungkapnya.

McDowell mengatakan Tiongkok telah mendarat dua kali di bulan dengan misi Chang'e 3 dan Chang'e 4 dan menunjukkan misi uji coba Chang'e 5 pada 2014 yang dapat diarahkan kembali ke bumi, memasukkan kembali dan mendaratkan kapsul. Kini yang tersisa hanya menunjukkan bahwa ia dapat mengumpulkan sampel dan lepas landas lagi dari bulan.

"Sebagai hasilnya, saya cukup optimistis Tiongkok bisa melakukan ini," tukasnya.

Misi ini termasuk salah satu di antara sejumlah misi Tiongkok yang paling berani sejak pertama kali meluncurkan manusia ke luar angkasa pada 2003 dan menjadikannya negara ketiga yang telah melakukan hal tersebut setelah AS dan Rusia.

“Chang'e 5 dan misi bulan di masa depan bertujuan untuk memberikan dukungan teknis yang lebih baik untuk kegiatan ilmiah dan eksplorasi di masa depan,” kata juru bicara misi dan wakil direktur Pusat Eksplorasi Bulan dan Teknik Luar Angkasa Badan Antariksa Nasional China (CNSA) Pei Zhaoyu.

"Kebutuhan ilmiah serta kondisi teknis dan ekonomi akan menentukan apakah Tiongkok memutuskan untuk mengirim misi berawak ke bulan,” ujar Pei.

"Saya pikir kegiatan eksplorasi masa depan di bulan kemungkinan besar akan dilakukan dalam kombinasi manusia-mesin,” imbuhnya.

Sejauh ini sudah banyak pencapaian penerbangan luar angkasa berawak Tiongkok, termasuk membangun stasiun ruang angkasa eksperimental dan melakukan perjalanan ruang angkasa, mereproduksi prestasi negara lain dari tahun-tahun sebelumnya, CNSA sekarang bergerak ke wilayah baru.

Hubungan Tiongkok dengan negara asing dalam misi tampak semakin erat, dan Badan Antariksa Eropa akan memberikan informasi stasiun darat yang penting untuk Chang'e 5.(CNA/OL-5)

Baca Juga

AFP

Anwar Ibrahim Siap Kucurkan Subsidi untuk Warga Berpenghasilan Rendah

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Minggu 27 November 2022, 17:24 WIB
Perdana Menteri Malaysia yang belum lama dilantik itu, menjanjikan upaya peningkatan biaya hidup ketika roda perekonomian nasional...
AFP

Gedung Putih Kecam Donald Trump yang Bertemu Supremasi Kulit Putih

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Minggu 27 November 2022, 14:16 WIB
Dalam agenda makan malam yang berlangsung di Mar-a-Lago, Donald Trump diketahui turut mengundang Kanye West, yang belakangan tergabung...
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Indonesia Siap Nahkodai ASEAN Maju dan Damai

👤Cahya Mulyana 🕔Sabtu 26 November 2022, 13:41 WIB
"Indonesia menginginkan agar ASEAN tetap penting dan relevan. Indonesia juga ingin kawasan Asia Tenggara tetap menjadi pusat...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya