Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
Pesawat luar angkasa yang kita lihat di film-film fiksi ilmiah sering kali memiliki teknologi supercanggih, lengkap dengan bahan bakar tanpa batas dan kecepatan yang tak masuk akal. Namun di dunia nyata, wahana antariksa bergantung pada persediaan bahan bakar terbatas dan hukum fisika yang ketat. Untuk keluar dari Tata Surya, dibutuhkan strategi dan perhitungan ilmiah yang sangat presisi.
Hingga saat ini, hanya lima wahana luar angkasa buatan manusia yang telah mencapai kecepatan dan arah yang memungkinkan mereka meninggalkan Tata Surya dan menjelajah antarbintang:
Untuk memulai perjalanan luar angkasa, sebuah roket harus terlebih dahulu mencapai kecepatan lepas Bumi, yakni:
Kecepatan ini dibutuhkan agar roket dapat melawan gravitasi Bumi dan masuk ke luar angkasa. Namun, kecepatan ini belum cukup untuk keluar dari Tata Surya.
Setelah berada di luar pengaruh utama gravitasi Bumi, wahana masih berada dalam cengkeraman Matahari. Maka, dibutuhkan kecepatan lepas Matahari dari posisi orbit Bumi, yaitu:
Inilah kecepatan minimum agar sebuah benda bisa lolos dari gaya tarik Matahari dan keluar dari Tata Surya.
Salah satu tantangan utama dalam mencapai kecepatan ini adalah massa roket dan bahan bakar itu sendiri. Untuk mengatasinya, para insinyur memanfaatkan beberapa strategi:
Meluncur dari dekat khatulistiwa agar mendapat tambahan kecepatan dari rotasi Bumi.
Manuver gravitasi (gravity assist) menggunakan planet-planet besar seperti Jupiter untuk mempercepat laju wahana tanpa membuang banyak bahan bakar.
Meskipun benda-benda seperti Voyager dan New Horizons bisa keluar dari Tata Surya, misi berawak ke luar sistem tata surya masih sangat jauh dari kenyataan. Selain masalah bahan bakar, kita juga harus memikirkan kehidupan awak selama perjalanan yang bisa berlangsung selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Namun demikian, dengan teknologi saat ini, kita telah membuktikan bahwa manusia mampu mengirimkan objek buatan melampaui batas Tata Surya, dan ini adalah pencapaian luar biasa dalam sejarah eksplorasi antariksa.
Untuk keluar dari Tata Surya, sebuah wahana harus melaju dengan kecepatan lebih dari 42 km/detik. Melalui rekayasa canggih dan strategi fisika orbital, umat manusia telah berhasil mengirim lima wahana ke luar pengaruh Matahari—membuka jalan bagi eksplorasi antarbintang di masa depan. (IFLScience/Z-10)
Badan Antariksa Eropa (ESA) menargetkan tujuan jangka panjang untuk mengirim wahana antariksa ke Enceladus, salah satu bulan Saturnus yang diselimuti es.
Asteroid KY26, target terbaru misi Hayabusa2, ternyata jauh lebih kecil dari perkiraan. Observasi teleskop dunia, termasuk Very Large Telescope (VLT) di Chile dengan dukungan radar.
Wahana antariksa Kosmos 482 milik Uni Soviet yang gagal mencapai Venus diperkirakan akan jatuh ke Bumi dalam beberapa hari, dengan kemungkinan tetap utuh.
NASA mencetak sejarah baru dengan peluncuran Parker Solar Probe, wahana antariksa yang berhasil terbang sangat dekat dengan Matahari, mencapai jarak hanya 3,8 juta mil
Selama lebih dari lima dekade, manusia telah mengirimkan berbagai wahana ke luar angkasa, dimulai dengan peluncuran Pioneer 10 pada tahun 1972.
Wahana Voyager NASA mengungkap wilayah ekstrem di heliopause, batas Tata Surya dengan ruang antarbintang, dengan suhu mencapai 50.000 kelvin.
Perbedaan kecepatan ini menciptakan tegangan magnetik yang luar biasa. Plasma yang bergerak lebih cepat di ekuator "menarik" garis-garis medan magnet.
Fenomena ini berpotensi memicu keruntuhan gravotermal, yaitu kondisi ketika inti halo terus memadat akibat aliran energi ke luar.
Berbeda dengan Bumi yang solid, Matahari berotasi dengan kecepatan yang bervariasi tergantung letak dan kedalamannya.
Pesawat Juno milik NASA menangkap fenomena letusan serentak di Io, bulan Jupiter. Energi yang dihasilkan mencapai 260 terawatt, mengungkap rahasia magma di bawah permukaannya.
Fakta mengejutkan datang dari dunia sains, Bumi juga memiliki sesuatu yang menyerupai “ekor” raksasa di luar angkasa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved