Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
Pesawat luar angkasa yang kita lihat di film-film fiksi ilmiah sering kali memiliki teknologi supercanggih, lengkap dengan bahan bakar tanpa batas dan kecepatan yang tak masuk akal. Namun di dunia nyata, wahana antariksa bergantung pada persediaan bahan bakar terbatas dan hukum fisika yang ketat. Untuk keluar dari Tata Surya, dibutuhkan strategi dan perhitungan ilmiah yang sangat presisi.
Hingga saat ini, hanya lima wahana luar angkasa buatan manusia yang telah mencapai kecepatan dan arah yang memungkinkan mereka meninggalkan Tata Surya dan menjelajah antarbintang:
Untuk memulai perjalanan luar angkasa, sebuah roket harus terlebih dahulu mencapai kecepatan lepas Bumi, yakni:
Kecepatan ini dibutuhkan agar roket dapat melawan gravitasi Bumi dan masuk ke luar angkasa. Namun, kecepatan ini belum cukup untuk keluar dari Tata Surya.
Setelah berada di luar pengaruh utama gravitasi Bumi, wahana masih berada dalam cengkeraman Matahari. Maka, dibutuhkan kecepatan lepas Matahari dari posisi orbit Bumi, yaitu:
Inilah kecepatan minimum agar sebuah benda bisa lolos dari gaya tarik Matahari dan keluar dari Tata Surya.
Salah satu tantangan utama dalam mencapai kecepatan ini adalah massa roket dan bahan bakar itu sendiri. Untuk mengatasinya, para insinyur memanfaatkan beberapa strategi:
Meluncur dari dekat khatulistiwa agar mendapat tambahan kecepatan dari rotasi Bumi.
Manuver gravitasi (gravity assist) menggunakan planet-planet besar seperti Jupiter untuk mempercepat laju wahana tanpa membuang banyak bahan bakar.
Meskipun benda-benda seperti Voyager dan New Horizons bisa keluar dari Tata Surya, misi berawak ke luar sistem tata surya masih sangat jauh dari kenyataan. Selain masalah bahan bakar, kita juga harus memikirkan kehidupan awak selama perjalanan yang bisa berlangsung selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Namun demikian, dengan teknologi saat ini, kita telah membuktikan bahwa manusia mampu mengirimkan objek buatan melampaui batas Tata Surya, dan ini adalah pencapaian luar biasa dalam sejarah eksplorasi antariksa.
Untuk keluar dari Tata Surya, sebuah wahana harus melaju dengan kecepatan lebih dari 42 km/detik. Melalui rekayasa canggih dan strategi fisika orbital, umat manusia telah berhasil mengirim lima wahana ke luar pengaruh Matahari—membuka jalan bagi eksplorasi antarbintang di masa depan. (IFLScience/Z-10)
Badan Antariksa Eropa (ESA) menargetkan tujuan jangka panjang untuk mengirim wahana antariksa ke Enceladus, salah satu bulan Saturnus yang diselimuti es.
Asteroid KY26, target terbaru misi Hayabusa2, ternyata jauh lebih kecil dari perkiraan. Observasi teleskop dunia, termasuk Very Large Telescope (VLT) di Chile dengan dukungan radar.
Wahana antariksa Kosmos 482 milik Uni Soviet yang gagal mencapai Venus diperkirakan akan jatuh ke Bumi dalam beberapa hari, dengan kemungkinan tetap utuh.
NASA mencetak sejarah baru dengan peluncuran Parker Solar Probe, wahana antariksa yang berhasil terbang sangat dekat dengan Matahari, mencapai jarak hanya 3,8 juta mil
Selama lebih dari lima dekade, manusia telah mengirimkan berbagai wahana ke luar angkasa, dimulai dengan peluncuran Pioneer 10 pada tahun 1972.
Temukan perbandingan usia Neptunus, Saturnus, dan Uranus. Benarkah raksasa gas terbentuk lebih dulu daripada raksasa es? Simak fakta astronomi terbaru.
Teleskop James Webb temukan jejak lubang hitam pelarian yang melesat 3.000 km/detik. Simak bagaimana fenomena kosmos ini mengubah pemahaman kita tentang galaksi.
Ilmuwan mengungkap asal-usul Titan Saturnus dari tabrakan bulan purba. Simak kaitan pembentukan Titan dengan usia cincin Saturnus dan misi Dragonfly 2026.
Teleskop SPHEREx milik NASA mendeteksi molekul organik seperti air dan karbon dioksida pada komet antarbintang 3I/ATLAS, membuka peluang riset asal-usul kehidupan.
Sempat diprediksi akan menghiasi langit malam tahun 2020, Komet C/2019 Y4 ATLAS justru hancur berkeping-keping. Kini, astronom menemukan bukti baru sisa fragmennya.
TELESKOP Luar Angkasa Hubble milik NASA kembali menghadirkan temuan penting dalam dunia astronomi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved