Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
NASA mencetak sejarah baru dengan peluncuran Parker Solar Probe, wahana antariksa yang berhasil terbang sangat dekat dengan Matahari, mencapai jarak hanya 3,8 juta mil (6,1 juta kilometer) dari permukaannya.
Ini adalah pencapaian bersejarah dalam eksplorasi antariksa, memberikan wawasan baru tentang Matahari dan dampaknya terhadap tata surya.
Dilansir dari laman resmi NASA, peristiwa ini terjadi pada 24 Desember 2024. Setelah beberapa hari kehilangan komunikasi akibat panas ekstrem, tim NASA akhirnya menerima sinyal bahwa Parker Solar Probe dalam kondisi aman dan berfungsi normal.
“Momen ini sangat monumental. Dengan mempelajari Matahari dari jarak sedekat ini, kita bisa memahami lebih baik pengaruhnya pada tata surya, termasuk dampaknya terhadap teknologi di Bumi dan luar angkasa,” kata Nicky Fox, Direktur Misi Sains NASA di Washington.
Selain jarak terdekat, Parker Solar Probe mencatat rekor sebagai objek buatan manusia tercepat dengan kecepatan 430.000 mil per jam (700.000 km/jam). Kecepatan luar biasa ini diperlukan untuk mendekati Matahari tanpa terjebak oleh gravitasi atau panas ekstrem.
Diluncurkan pada 2018, wahana ini menggunakan tujuh lintasan dekat Venus untuk mempercepat dan mengarahkan orbitnya menuju Matahari. Strategi ini memungkinkan Parker Solar Probe mendekati Matahari setiap tiga bulan, mengumpulkan data ilmiah yang belum pernah ada sebelumnya.
“Parker Solar Probe menghadapi lingkungan ekstrem yang belum pernah dihadapi wahana lain, dan hasilnya melampaui ekspektasi,” ujar Nour Rawafi, ilmuwan proyek di Laboratorium Fisika Terapan Johns Hopkins.
Korona Matahari, bagian terluar dari atmosfer Matahari, memiliki suhu hingga lebih dari 1 juta derajat Fahrenheit. Namun, Parker Solar Probe dirancang khusus dengan pelindung karbon yang mampu menahan suhu hingga 2.600 derajat Fahrenheit, menjaga instrumen di dalamnya tetap dingin seperti suhu ruangan.
“Proyek ini merupakan pencapaian teknologi yang telah dirancang selama puluhan tahun,” kata John Wirzburger, insinyur sistem dari Johns Hopkins.
Parker Solar Probe tidak hanya mendekati Matahari, tetapi juga memberikan data revolusioner tentang fenomena korona dan angin matahari. Para ilmuwan menemukan bahwa korona memiliki struktur berkerut, berbeda dari prediksi awal. Wahana ini juga berhasil melacak pola zig-zag angin matahari yang berasal dari fotosfer.
“Data ini memberikan perspektif baru. Parker Solar Probe benar-benar merevolusi cara kita memahami Matahari,” kata Kelly Korreck, ilmuwan NASA.
Parker Solar Probe akan melanjutkan misinya, dengan lintasan mendatang dijadwalkan pada 22 Maret 2025 dan 19 Juni 2025. Setiap lintasan dirancang untuk memperdalam pemahaman tentang berbagai proses di Matahari dan dampaknya terhadap tata surya.
Data terbaru dari lintasan terakhir sedang diunduh dan dianalisis oleh para ilmuwan untuk mengungkap wawasan baru tentang lingkungan antariksa.
“Informasi ini akan membuka jalan bagi eksplorasi manusia yang lebih jauh di luar angkasa,” ujar Joe Westlake, Direktur Divisi Heliofisika NASA.
Misi Parker Solar Probe diharapkan tidak hanya memperluas pengetahuan tentang Matahari tetapi juga memperkaya pemahaman manusia tentang alam semesta. (Science NASA, BBC News/Z-10)
Badan Antariksa Eropa (ESA) menargetkan tujuan jangka panjang untuk mengirim wahana antariksa ke Enceladus, salah satu bulan Saturnus yang diselimuti es.
Asteroid KY26, target terbaru misi Hayabusa2, ternyata jauh lebih kecil dari perkiraan. Observasi teleskop dunia, termasuk Very Large Telescope (VLT) di Chile dengan dukungan radar.
Pelajari seberapa cepat pesawat luar angkasa harus melaju untuk keluar dari Tata Surya. Temukan fakta ilmiah di balik kecepatan lepas Bumi dan Matahari.
Wahana antariksa Kosmos 482 milik Uni Soviet yang gagal mencapai Venus diperkirakan akan jatuh ke Bumi dalam beberapa hari, dengan kemungkinan tetap utuh.
Selama lebih dari lima dekade, manusia telah mengirimkan berbagai wahana ke luar angkasa, dimulai dengan peluncuran Pioneer 10 pada tahun 1972.
Flare Matahari merupakan ledakan besar energi elektromagnetik yang terjadi akibat perubahan mendadak pada medan magnet di atmosfer Matahari.
Gerhana ini tidak aman untuk dilihat tanpa pelindung mata dengan filter matahari.
Perbedaan kecepatan ini menciptakan tegangan magnetik yang luar biasa. Plasma yang bergerak lebih cepat di ekuator "menarik" garis-garis medan magnet.
Fakta mengejutkan datang dari dunia sains, Bumi juga memiliki sesuatu yang menyerupai “ekor” raksasa di luar angkasa.
Matahari meletuskan ledakan X-Class dan CME raksasa melaju ke Bumi. Badai geomagnetik kuat berpotensi terjadi dalam 24 jam ke depan.
Fenomena pertama gerhana matahari cincin dijadwalkan terjadi pada 17 Februari 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved