Jumat 30 Oktober 2020, 07:41 WIB

Prancis Berlakukan Darurat Keamanan Pasca Serangan Teroris

Faustinus Nua | Internasional
Prancis Berlakukan Darurat Keamanan Pasca Serangan Teroris

AFP/Valery Hache
Kepala jaksa anti-teroris Jean Francois Ricard

 

OTORITAS Prancis menaikan level keamanan pada tingkat darurat pasca serangan mematikan di Basilika Notre-Dome Nice, Prancis pada Kamis (29/10). Serangan menggunakan pisau yang menelan 3 korban jiwa itu menjadi peringatan terhadap respons anti-terorusme Prancis. Presiden Emanuel Macron, yang dengan cepat melakukan perjalanan ke Nice, mengumumkan peningkatan pengawasan gereja oleh patroli militer Sentinelle Prancis. Pasukan keamanan ditingkatkan menjadi 7.000 tentara dari 3.000 di seluruh negara itu, termasuk keamanan di sekolah juga akan ditingkatkan.

"Sangat jelas, Prancis sedang diserang. Kami tidak akan menyerah pada nilai-nilai kami," kata Presiden Macron.

Pembunuhan, yang terjadi menjelang hari suci Katolik All Saints Day pada hari Minggu, telah mendorong pemerintah untuk menaikkan level siaga teror ke tingkat darurat maksimum secara nasional. Gereja-gereja di seluruh Prancis membunyikan lonceng kematian, lonceng tradisional untuk menandai kematian, pada pukul 3 sore.

Diketahui, dalam aksi pembunuhan hampir setengah jam di basilika Notre-Dame di pusat kota Nice, penyerang menggunakan pisau berukuran 30 sentimeter (12 inci) untuk memotong tenggorokan seorang wanita berusia 60 tahun sedemikian dalam sehingga terlihat seperti memenggal kepalanya.

Jenazah seorang pria, pegawai gereja berusia 55 tahun, juga ditemukan di dalam basilika, tenggorokannya juga digorok. Wanita lain, 44 tahun yang sempat melarikan diri dari gereja ke restoran terdekat, meninggal tak lama kemudian karena beberapa luka pisau yang parah.

"(Korban) orang-orang yang menjadi sasaran karena mereka hadir di gereja ini pada saat itu," kata Kepala Jaksa anti-teroris Jean Francois Ricard. 

Serangan itu, tambahnya, adalah pengingat bahwa ideologi mematikan dari terorisme Islam sangat hidup. Walikota Nice Christian Estrosi mengatakan kepada wartawan di tempat kejadian bahwa penyerang terus mengulang 'Allahu Akbar' bahkan saat dalam pengobatan ketika dibawa ke rumah sakit.

baca juga: Pria Tunisia Jadi Tersangka Serangan Teroris di Gereja Prancis

Prancis telah menjadi sasaran kemarahan yang meluas di dunia Islam setelah Macron mengatakan untuk melakukan perlawanan terhadap kaum radikal. Hal itu terkait pemenggalan kepala guru sejarah pada 16 Oktober oleh seorang ekstremis karena telah menunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada murid-muridnya dalam pelajaran kebebasan berbicara. Tetapi beberapa orang mengklaim Macron secara tidak adil menargetkan lima hingga enam juta muslim di Prancis-komunitas terbesar di Eropa.

Beberapa negara mayoritas muslim telah meluncurkan kampanye untuk memboikot produk Prancis, sementara pengunjuk rasa membakar bendera Prancis dan poster Macron saat demonstrasi diadakan di Suriah, Libya, Bangladesh, Afghanistan, Pakistan, dan wilayah Palestina. Macron pada hari Kamis mendesak orang-orang dari semua agama untuk bersatu dan tidak menyerah pada semangat perpecahan.(AFP/OL-3)

Baca Juga

AFP/Ahmad Gharabli

Israel Hancurkan Tangga Bersejarah Masjid Al-Aqsa

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 03 Desember 2020, 23:03 WIB
Pemerintah pendudukan Israel di Yerusalem tidak mengomentari pembongkaran...
AFP/Karim Sahib

Uni Emirat Arab Luncurkan Visa Turis untuk Warga Israel

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 03 Desember 2020, 22:43 WIB
Langkah tersebut termasuk sementara sampai kesepakatan pembebasan visa bersama...
AFP/Cristian Hernandez

Menlu Iran Desak Biden Akhiri Perilaku Nakal Amerika

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 03 Desember 2020, 22:34 WIB
Ketegangan lama AS-Iran selama puluhan tahun meningkat setelah Trump secara sepihak menarik diri dari perjanjian nuklir pada...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya