Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) berkunjung ke Tiongkok untuk menyelidiki asal-usul penyakit covid-19. Hal ini bisa menjadi kesempatan untuk membuka bukti yang sudah dikumpulkan para ilmuwan negara tersebut kepada publik. Mengingat, bukti penelitian awal belum dibuka secara luas oleh otoritas di Beijing kepada ilmuwan internasional.
Ahli epidemiologi hewan Dirk Pfeiffer, yang juga profesor di Universitas Kota Hong Kong, mengharapkan data penelitian bisa dibuka secara transparan. Sehingga, semua ilmuwan di dunia bisa bekerja bersama-sama dengan maksimal.
"Saya harapkan laporan bisa diterbitkan. Dengan setiap wabah, ada laporan yang memberi tahu anda apa yang telah dilakukan, apa yang salah dan apa yang disimpulkan, secara transparan," ujar Pfeiffer.
Dia berharap, pertemuan tatap muka antara ilmuwan Tiongkok dan internasional dapat membantu memfasilitasi komunikasi tentang penelitian Tiongkok di masa lalu dan yang sedang berlangsung. Hal itu di luar apa yang telah diterbitkan dalam jurnal internasional dan daring yang dinilai belum transparan.
Baca juga: AS Dukung WHO Cari Sumber Covid-19 di Tiongkok
Para ilmuwan mengatakan, hasil penelitian yang dirilis Tiongkok tidak cukup. Seorang spesialis dalam epidemi penyakit menular di Universitas Georgetown di AS Daniel Lucey menilai ada kesenjangan informasi yang diidentifikasi.
"Mereka belum mengatakan hewan apa yang dijadikan sampel atau tes apa yang mereka lakukan, apakah (hewan) diuji di tenggorokan atau kulit atau hidung atau darah, tidak ada yang disampaikan dan mengapa tidak?" tanya Lucey.
Diketahui, dua staf WHO mendarat di Tiongkok akhir pekan ini untuk bertemu dengan para pejabat dari Komisi Kesehatan Nasional serta Kementerian Sains dan Teknologi. Hal itu, digunakan oleh WHO untuk menyelidiki asal-usul hewan dari virus di kemudian hari.
"Ketika kami mengatakan sebuah tim akan melakukan persiapan ke Tiongkok, itu tidak berarti Tiongkok belum meneliti hal ini. Itu tidak berarti kami akan memulai dari awal," ungkap Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.(SCMP/OL-5)
LIMA mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (FK USK) berhasil meraih prestasi gemilang di panggung dunia.
Penelitian ini menawarkan rekomendasi yang dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi tantangan keamanan regional.
Para ilmuan menemukan bahwa bagian otak yang awalnya dianggap hanya memproses penglihatan ternyata dapat memicu gema sensasi sentuhan.
Resiliensi petani merupakan syarat penting jika pengelolaan usaha kelapa di provinsi tersebut ingin berkelanjutan.
Hasil penelitian menemukan persoalan kental manis bukan hanya perihal ekonomi, tetapi juga regulasi yang terlalu longgar.
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI menilai Kitab Fikih Zakat karya Dr. Nawawi Yahya Abdul Razak Majene sangat relevan bagi pengelolaan zakat di era modern.
BARU-baru ini outbreak virus Nipah menyebabkan kewaspadaan kesehatan di banyak negara Asia. Infeksi virus Nipah pada manusia menyebabkan berbagai gejala, kenali penularan dan pengobatannya
LEDAKAN teknologi digital telah menyusup ke setiap sudut kehidupan anak-anak Indonesia, membawa kemudahan sekaligus ancaman diam-diam: krisis gaya hidup pasif.
AMERIKA Serikat keluar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) per Kamis 22 Januari 2026. Keputusan ini berdasarkan Keputusan Presiden bernomor 14155 yang dirilis pada 20 Januari 2025.
DIREKTUR Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengatakan untuk penanggulangan kusta perlu diangkat sebagai prioritas nasional.
WHO menyatakan 500 juta perempuan di dunia terkena anemia. Yuk kenali dan ketahui cara mencegahnya.
Indonesia disebut telah mengambil langkah besar melalui pendekatan primary healthcare.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved