Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa ia akan memulai evaluasi independen atas penanganan pandemi virus korona.
"Saya akan memulai evaluasi independen pada saat yang tepat paling awal untuk meninjau pengalaman dan pelajaran yang didapat dan membuat rekomendasi untuk meningkatkan kesiapan dan respons pandemi nasional dan global," katanya dalam pertemuan virtual Majelis Kesehatan Dunia (WHO), seperti dikutip dari AFP, Selasa (19/5).
Sejumlah besar pemimpin negara dan menteri kesehatan memuji upaya WHO, tetapi Menteri Kesehatan AS Alex Azar justru mengatakan WHO gagal untuk memperoleh dan memberikan informasi penting tentang covid-19.
"Kita harus jujur tentang salah satu alasan utama wabah ini berputar di luar kendali: ada kegagalan oleh organisasi ini untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dunia dan kegagalan itu menelan banyak korban jiwa," kata Azar dalam pertemuan tersebut.
Pertemuan Majelis Kesehatan Dunia tahun ini telah dipangkas dari yang biasanya berlangsung selama tiga minggu menjadi hanya dua hari. Pertemuan tersebut kali ini hanya fokus pada pandemi.
Baca juga: Brasil Minta Dokter Asal Kuba Praktik Lagi
Meskipun ada ketegangan yang meningkat antara dua ekonomi terbesar di dunia, negara-negara anggota berharap WHO akan mengadopsi resolusi yang ditujukan untuk membentuk tanggapan bersama, termasuk komitmen pada akses yang adil ke perawatan dan vaksin potensial.
Presiden Tiongkok Xi Jinping menyuarakan dukungan untuk pendekatan bersama dan berjanji dalam pidatonya untuk membuat vaksin apa pun yang dikembangkan negaranya tersedia bagi semua pihak.
Negara tersebut juga menawarkan bantuan sebesar US$2 miliar. Tiongkok saat ini memiliki lima vaksin potensial yang tengah dilakukan uji klinis.
Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Angela Merkel pun menegaskan bahwa vaksin apa pun harus tersedia untuk semua orang. (AFP/A-2)
Para ilmuan baru-baru ini telah menemukan virus corona baru pada kelelawar di Brasil yang memiliki kemiripan dengan virus MERS yang dikenal mematikan.
Hal itu meningkatkan kemungkinan bahwa virus tersebut suatu hari nanti dapat menyebar ke manusia, demikian yang dilaporkan para peneliti Tiongkok.
Pemberian berbagai bansos diperlukan untuk menjaga daya beli masyarakat.
“Saya beserta jajaran anggota DPRD DKI Jakarta turut berduka cita sedalam-dalamnya atas berpulang ke Rahmatullah sahabat, rekan kerja kami Hj. Umi Kulsum."
Para peneliti melengkapi setiap relawan dengan pelacak kontak untuk merekam rute mereka di arena dan melacak jalur aerosol, partikel kecil yang dapat membawa virus.
Mensos Juliari berharap bantuan ini berdampak signifikan terhadap perputaran perekonomian lokal.
WHO menyebut vaksin influenza generasi baru berpotensi mencegah hingga 18 miliar kasus flu dan menyelamatkan 6,2 juta nyawa hingga 2050 dengan perlindungan yang lebih luas dan tahan lama.
Virus Nipah adalah virus zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia. Selain melalui kontak langsung dengan hewan, virus ini juga dapat menyebar melalui makanan yang terkontaminasi.
Prof. Tjandra Yoga Aditama ingatkan kewaspadaan terhadap Flu Burung, MERS-CoV, Super Flu, & Virus Nipah. Simak risiko dan data terbaru WHO 2026 di sini.
Mengonsumsi ikan akan memberi energi, protein dan berbagai jenis nutrien yang penting bagi kesehatan.
Tiga tinjauan Cochrane yang ditugaskan WHO mengungkap potensi besar obat GLP-1 untuk penurunan berat badan, namun pakar peringatkan risiko jangka panjang.
WHO terus memantau sejumlah penyakit infeksi paru berat seperti flu burung, MERS, influenza berat, dan virus Nipah yang berisiko tinggi bagi kesehatan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved