Headline

Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit TNI.

WHO Luncurkan Inisiatif Bagikan Obat, Tes, dan Vaksin

Haufan Hasyim Salengke
25/4/2020 02:05
WHO Luncurkan Inisiatif Bagikan Obat, Tes, dan Vaksin
(AFP)

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan kolaborasi penting hari ini untuk mempercepat pengembangan obat-obatan
yang aman dan efektif, tes, serta vaksin untuk mencegah, mendiagnosis, dan mengobati virus korona baru (covid-19).

Organisasi yang bermarkas di Jenewa itu mengatakan setuju dengan mitra untuk menyediakan teknologi melawan penyakit yang disebabkan covid-19 dapat diakses semua orang yang membutuhkan di seluruh dunia.

Aliansi vaksin GAVI, Gates Foundation, dan Global Fund termasuk pendonor besar tradisional untuk badan PBB itu, selain 194 negara anggotanya. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan sebelumnya bahwa ia berencana menyetujui rencana untuk meningkatkan penelitian, pengembangan, dan produksi vaksin serta mendukung hubungan untuk distribusi yang adil.

“Seharusnya tidak ada jurang pemisah antara kaya dan miskin,” katanya.

Tedros memuji Presiden Kos ta Rika Carlos Alvadaro yang mengajukan proposal memfasilitasi kelompok sukarela untuk tes, obat-obatan, dan vak sin dengan akses gratis atau lisensi dengan persyaratan yang masuk akal dan akses untuk semua negara.


Gagal dalam uji coba

Remdesivir, obat eksperimental untuk virus korona, dilaporkan gagal dalam uji klinis acak pertama. Hasil yang terungkap dalam rilis yang tidak sengaja, Kamis (23/4), mengurangi harapan untuk obat yang diawasi dengan ketat.

Draf ringkasan disiarkan daring di situs web WHO dan pertama kali dilaporkan Financial Times dan Stat, yang mengunggah tangkapan layar itu. Namun, Gilead Sciences Inc, perusahaan di balik obat itu, membantah unggahan yang telah dihapus mengarakterisasi temuan dan mengatakan data menunjukkan ‘potensi manfaat’.
 
Ringkasan itu mengatakan uji coba Tiongkok yang melibatkan 237 pasien, dengan perincian 158 peserta menggunakan obat itu dan 79 pasien kategori kelompok kontrol. Dari situ terungkap bahwa pemberian remdesivir dihentikan lebih awal pada 18 pasien karena efek samping.

Setelah satu bulan uji coba, 13,9% pasien yang menggunakan remdesivir meninggal jika dibandingkan dengan 12,8% pada kelompok kontrol. Perbedaannya tidak signifikan secara statistik.

WHO mengatakan draf tersebut sedang menjalani peer review dan terpublikasikan lebih awal karena kesalahan. Namun, Gilead Sciences mengatakan hasil dari penelitian di Tiongkok tidak konklusif karena dihentikan lebih awal.

“Dengan demikian, hasil penelitian tidak dapat disimpulkan meskipun tren dalam data menunjukkan manfaat potensial untuk remdesivir, terutama di antara pasien yang diobati di awal penyakit,” kata seorang juru bicara.

Remdesivir merupakan salah satu obat pertama yang disarankan sebagai pengobatan untuk covid-19. Karenanya, harapan besar ada pada obat itu untuk penggunaannya. (CNA /I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya