Headline

Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit TNI.

Krisis Covid-19 masih Panjang

Nur Aivanni
24/4/2020 00:10
Krisis Covid-19 masih Panjang
(AFP)

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa krisis virus korona baru (covid-19) tidak akan berakhir dalam waktu dekat.

Peringatan serius dari Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, itu muncul ketika beberapa negara mulai mencabut pembatasan penguncian wilayah atau lockdown.

“Jangan lengah. Kita masih harus menempuh jalan panjang. Virus ini akan bersama kita untuk waktu yang lama,” kata Tedros dalam konferensi pers virtual, kemarin.

“Sebagian besar negara masih dalam tahap awal wabah mereka. Dan beberapa yang terkena dampak awal pandemi sekarang mulai melihat kenaikan dalam beberapa kasus,” ucapnya.

Angka kematian global akibat covid-19 telah melampaui 180 ribu dan virus itu telah menginfeksi hampir 2,6 juta orang di seluruh dunia. Pandemi tersebut telah memicu tidak hanya keadaan darurat kesehatan, tetapi juga kekacauan ekonomi global, dengan bisnis-bisnis yang berjuang untuk tetap bertahan, jutaan orang kehilangan pekerjaan, dan jutaan lainnya menghadapi kelaparan.

Negara yang mulai melonggarkan pembatasan itu salah satunya ialah Vietnam. Meskipun berbatasan dengan Tiongkok, negara di Asia Tenggara itu hanya mencatat 268 kasus virus korona dan nol kematian.

Vietnam ialah salah satu negara pertama yang melarang penerbangan ke dan dari Tiongkok. Pada awal Februari, ketika negara itu baru memiliki lebih dari selusin kasus, desa-desa dengan 10 ribu orang yang dekat dengan ibu kota negara itu ditempatkan di bawah karantina. Ada juga pelacakan kontak yang agresif.

Direktur Regional WHO untuk Pasifik Barat, Takeshi Kasai, menyatakan kunci kesuksesan Vietnam ialah kemampuan pemerintahnya dalam meyakinkan masyarakat untuk bekerja sama. Setelah melaporkan tidak ada infeksi baru untuk hari keenam berturut-turut, pemerintah Vietnam mengatakan beberapa toko dan layanan akan diizinkan untuk dibuka kembali.

Prancis juga berencana melonggarkan langkah-langkah pembatasan karena situasi epidemi virus korona memberikan beberapa tanda menggembirakan setelah lima minggu lockdown. Namun, jajak pendapat yang dirilis pekan ini menunjukkan masyarakat Prancis prihatin dengan rencana pemerintah untuk melonggarkan pembatasan pergerakan mulai 11 Mei itu.


Izin inspeksi

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, telah mendesak Tiongkok untuk mengizinkan pemeriksa masuk dan menginspeksi laboratorium di Kota Wuhan, Tiongkok.

“Anda harus ingat, laboratoriumlaboratorium ini masih terbuka di Tiongkok, laboratorium-laboratorium ini yang berisi patogen kompleks yang sedang dipelajari. Bukan hanya Institut Virologi Wuhan. Penting bahwa bahan-bahan itu ditangani dengan cara yang aman dan terjamin sehingga tidak ada pelepasan yang tidak disengaja,” kata Pompeo kepada wartawan.

Pompeo mengutip contoh fasilitas nuklir, menunjuk pada inspeksi global yang ketat untuk memastikan keselamatan. Dia mengatakan kembali kekhawatirannya bahwa Tiongkok belum membagikan sampel virus awal, yang dikenal secara ilmiah sebagai SARS-CoV-2. “Kami masih belum memiliki sampel virus itu, dunia juga tidak memiliki akses ke fasilitas atau lokasi lain di mana virus ini mungkin awalnya berasal di dalam Wuhan,” kata Pompeo. (AFP/Hym/X-11)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya