Selasa 08 Oktober 2019, 14:28 WIB

Negosiasi Kembali Krusial, Irlandia Bersiap dengan No-deal Brexit

Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Negosiasi Kembali Krusial, Irlandia Bersiap dengan No-deal Brexit

AFP/Jeff Overs
Menteri Brexit Inggris Steve Barclay.

 

INGGRIS memasuki hari negosiasi krusial lainnya, Selasa (7/10), untuk mencapai kesepakatan dengan Uni Eropa tiga pekan sebelum 31 Oktober.

Hari tersebut akan menentukan Perdana Menteri Boris Johnson untuk menarik Inggris keluar dari blok Uni Eropa atau tanpa kesepakatan (no-deal Brexit).

Pada Senin (7/10), kepala pejabat Brexit Inggris, David Frost, berada di Brussels, Belgia, dan Menteri Brexit Inggris Steve Barclay mengunjungi Belanda dalam upaya untuk menggalang dukungan bagi proposal Johnson.

Rencana Johnson itu termasuk penekanan bahwa Irlandia Utara meninggalkan serikat pabean bersama, tetapi tetap dalam pasar tunggal untuk barang.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Irlandia, Paschal Donohoe, bersiap untuk menyajikan rencana Brexit tanpa kesepakatan pada Selasa (8/10), menguraikan rencana untuk mengisolasi negara itu jika Inggris meninggalkan Uni Eropa tanpa kesepakatan.

Pemerintah Irlandia sebelumnya telah memperingatkan sebanyak 80 ribu pekerjaan menghadapi risiko di Irlandia jika Inggris keluar dari UE tanpa kesepakatan.

Para pemimpin bisnis juga telah menyerukan intervensi tegas dan berjangkauan luas untuk mencegah dampah ekonomi dari Brexit tanpa kesepakatan.

Johnson dan para pendukungnya terus mengulangi pesan tidak akan ada penundaan Brexit baru pada akhir bulan ini--meskipun parlemen Inggris telah membuat undang-undang yang secara efektif mewajibkan perdana menteri untuk mengajukan perpanjangan lain jika tidak ada kesepakatan yang disepakati dengan Uni Eropa.

Ketua Perunding Uni Eropa, Michel Barnier, mengatakan, berdasarkan mandatnya dari Uni Eropa, ia tidak percaya kemajuan dapat dicapai kecuali Inggris mengubah posisi mereka.

“Brexit tanpa kesepakatan akan selalu menjadi pilihan Inggris, bukan pilihan kami," ujarnya, sebuah komentar yang oleh beberapa orang dianggap sebagai awal dari permainan menyalahkan. Pemerintah Inggris pun menuduh Uni Eropa kurang fleksibel.

Komisi Eropa menyebut rencana Inggris yang diajukan minggu lalu tidak memberikan dasar untuk mencapai kesepakatan. (AFP/Euronews/OL-09)

Baca Juga

Dok Medcom.id

Tiga Wanita Pekerja Media Ditembak di Afghanistan

👤Nur Aivanni 🕔Rabu 03 Maret 2021, 06:53 WIB
Tiga wanita yang bekerja untuk sebuah stasiun televisi Afghanistan dilaporkan tewas setelah ditembak di timur kota...
 SAUL LOEB / AFP

Sebut Navalny Diracuni, AS Jatuhkan Sanksi kepada Pejabat Rusia

👤Nur Aivanni 🕔Rabu 03 Maret 2021, 06:26 WIB
AS menjatuhkan sanksi kepada pejabat senior Rusia ketika intelijen AS menyimpulkan bahwa Moskow mengatur untuk meracuni kritikus...
Kola Sulaimon / AFP

Negara-Negara Afrika Terima Vaksin Covid-19 dari Covax

👤Nur Aivanni 🕔Rabu 03 Maret 2021, 05:46 WIB
Jutaan suntikan virus korona dari skema Covax tiba di Nigeria, Angola dan Republik Demokratik Kongo pada Selasa, ketika negara-negara...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya