Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
GARDA Revolusi Iran memperingatkan negara manapun yang menyerang Iran akan melihat wilayahnya menjadi medan perang utama.
Pernyataan tersebut diumumkan sebagai respon atas langkah Amerika Serikat (AS) yang akan mengirimkan pasukan militer AS ke kawasan Teluk dan menerapkan sanksi baru terhadap Iran.
Hal itu merupakan buntut tuduhan ke Iran sebagai pelaku serangan terhadap instalasi minyak milik Arab Saudi. Tuduhan dilontarkan AS dan Arab Saudi.
Komandan Korps Garda Revolusi Iran Mayor Jenderal Hossein Salami mengatakan Iran siap untuk semua jenis skenario.
"Siapa pun yang ingin tanah mereka menjadi medan perang utama, kami persilakan. Kami tidak akan pernah membiarkan perang merambah wilayah Iran,” katanya dalam konferensi pers di Teheran, Sabtu (21/9).
Baca juga : Kelompok Houthi Siap Berdamai dan Hentikan Serangan ke Saudi
"Kami berharap bahwa mereka tidak membuat kesalahan strategis", tambahnya, mengingatkan pengalaman militer AS melawan Iran.
Saat pembukaan Museum Revolusi Islam dan Pertahanan Suci di Teheran, Salami menekankan bahwa negaranya telah mengungguli AS dalam pertahanan udara dan teknologi pesawat nirawak.
Ia juga memperingatkan bahwa agresi terbatas akan menemui jalan tak berujung, karena Iran bertekad untuk merespon dan tidak akan tinggal diam sampai agresor runtuh.
"Apa yang dilakukan pesawat tanpa awak kalian di wilayah udara kami? Kami akan menembak jatuh, menembak apa pun yang melanggar batas wilayah udara kami," ujarnya, dikutip AFP.
Di museum tersebut turut dipamerkan sejumlah drone yang pernah ditangkap di wilayahnya. Di antaranya bangkai pesawat mata-mata AS yaitu RQ-4 Global Hawk yang ditembak jatuh Iran pada Juni lalu dan RQ-170 Sentinel yang ditangkap pada 2011 dalam keadaan yang masih utuh.
Di Riyadh, menteri negara Arab Saudi untuk urusan luar negeri, Adel al-Jubeir, memperingatkan langkah-langkah tepat setelah sumber serangan terhadap fasilitas minyaknya dikonfirmasi.
"Kami telah meminta PBB untuk melakukan investigasi dan ada juga negara lain yang terlibat dalam penyelidikan. Kami yakin serangan itu tidak diluncurkan dari Yaman, tetapi dari utara (Iran),” katanya dalam konferensi pers.
Baca juga : Trump Kirim Pasukan ke Kawasan Teluk
"Ketika (penyelidikan) selesai, kami akan mengambil prosedur yang sesuai untuk menangani agresi ini," imbuh Jubeir.
Ketegangan meningkat Iran dan AS setelah serangan terhadap dua kilang minyak raksasa energi Arab Saudi, Saudi Aramco, di pabrik pemrosesan Abqaiq dan ladang minyak Khurais yang mengurangi separuh produksi minyak kerajaan Saudi pada Sabtu (14/9).
Pemberontak Houthi dari Yaman telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut, namun AS mengatakan pihaknya telah menyimpulkan bahwa serangan itu melibatkan rudal jelajah dari Iran dan dianggapnya sebagai tindakan perang.
Sebelumnya, Washington menyetujui pengerahan pasukan ke Arab Saudi atas permintaan Arab Saudi dan Uni Emirate Arab. Menteri Pertahanan AS Mark Esper mengatakan, pasukan AS akan bersifat defensif, dan berfokus pada pertahanan udara dan rudal. (AFP/OL-7)
Pemerintahan Trump bersiap menarik seluruh pasukan AS dari Suriah dalam beberapa bulan ke depan. Fokus militer kini bergeser ke arah ketegangan yang memuncak dengan Iran.
Militer AS dilaporkan siap melancarkan serangan ke Iran paling cepat akhir pekan ini. Di tengah mobilisasi jet tempur dan kapal induk, Donald Trump masih menimbang opsi.
Ayatollah Khamenei remehkan ancaman militer AS dan tegaskan kedaulatan nuklir Iran sebagai hak yang tak bisa diganggu gugat di tengah ketegangan dengan Trump.
KETEGANGAN antara Iran dan Amerika Serikat memanas setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, memperingatkan bahwa kapal perang AS bisa dikirim ke dasar laut selama perundingan nuklir
IRAN menyatakan bahwa sikap Amerika Serikat (AS) terkait nuklirnya menunjukkan perubahan ke arah yang lebih realistis, sehari menjelang putaran kedua perundingan
CITRA satelit mengungkap keberadaan kapal induk AS USS Abraham Lincoln di Laut Arab, 700 kilometer dari Iran,menjelang putaran baru perundingan nuklir antara Iran dan AS
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved