Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
KOREA Utara menembakkan dua rudal balistik pada Rabu (31/7). Hal itu diungkapkan Korea Selatan, beberapa hari setelah peluncuran serupa yang disinyalir sebagai peringatan atas rencana latihan militer gabungan.
Seperti diketahui, Korea Selatan berencana terlibat dalam latihan militer yang dinisiasi Amerika Serikat (AS). Kepala Staf Gabungan Korea Selatan menyatakan kedua rudal dilepaskan dari daerah Wonsan, dan melaju sekitar 250 kilometer (km) ke arah laut.
Baca juga: Boris Johnson Gandeng Kekasih Tinggal di Downing Street
"Kami tekankan bahwa serangkaian peluncuran rudal tidak berdampak untuk meredakan ketegangan di Semenanjung Korea. Kami mendesak Korea bisa menahan diri dari tindakan seperti itu," bunyi pernyataan militer Korea Selatan. Adapun Gedung Biru menyampaikan kekhawatiran yang kuat.
Berdasarkan resolusi Dewan Keamanan PBB, Korea Utara dilarang meluncurkan rudal balistik. Namun, tindakan ini merupakan yang kedua dalam waktu kurang dari sepekan. Padahal bulan lalu, terjadi pertemuan antara Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, dan Presiden AS, Donald Trump.
Pyongyang dan Washington terlibat dalam proses diplomatik jangka panjang terkait program nuklir dan rudal yang digulirkan Korea Utara. Dalam waktu satu tahun, kedua pemimpin negara sudah beremu sebanyak tiga kali. Mereka sepakat untuk melanjutkan perundingan bilateral ketika bertemu di Zona Demiliterisasi yang membagi wilayah semenanjung, pada Juni lalu. Namun, dialog tingkat kerja belum juga dimulai.
Sebelumnya, Korea Utara memperingatkan negosiasi berpotensi dirusak oleh AS, serta penolakan Korea Utara untuk membatalkan manuver tahunan pasukan militer Seoul-Washington. Selama bertahun-tahun, Korea Utara menentang isolasi dan sanksi terkait pengembangan kekuatan senjata.
Dalam forum regional Asia, persoalan Korea Utara menjadi agenda pembahasan utama. Akan tetapi, kemungkinan besar Menteri Luar Negeri Korea Utara tidak hadir. Kepada wartawan, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, mengatakan negosiasi diperkirakan berlangsung selama beberapa pekan, namun butuh waktu lebih lama untuk memulainya.
Sejauh ini, belum ada tanggapan dari Pyongyang mengenai peluncuran terbaru. Perwakilan dari Pusat Kepentingan Nasional di Washington, Harry Kazianis, memandang langkah itu menjadi peringatan bagi kedua sekutu untuk menghentikan latihan militer gabungan. Apabila tetap berlanjut, Korea Utara diyakini akan meningkatkan ketegangan.
"Pyongyang tidak akan ragu melakukan lebih banyak peluncuran, sebelum latihan gabungan dimulai pekan depan. Setelahnya pun bisa kembali terjadi. Pertanyaan besarnya, apakah rezim Kim berani menguji ICBM atau rudal jarak jauh yang bisa menghantam wilayah AS," tukas Kazianis.
"Dengan peluncuran rudal jarak pendek, Pyongyang berupaya menekan Washington agar datang ke meja perundingan untuk memenuhi tuntutannya," imbuh Direktur Institut Studi Korea, Jeong Young-tae.
Pada Kamis lalu, Korea Utara melepaskan rudal dengan jarak cukup jauh, salah satunya melaju hampir 700 km. Pyongyang menyatakan itu adalah senjata berpemandu taktis yang baru dirancang. Sekaligus menjadi peringatan serius terhadap rencana latihan gabungan AS-Korea Selatan.
Pekan lalu, Korea Utara memamerkan kapal selam baru, yang mampu meluncurkan tiga rudal balistik. Washington menempatkan sekitar 30 ribu tentara di Korea Selatan, sebagai antisipasi serangan dari negara tetangga.
Baca juga: Indonesia-Tiongkok Cari Solusi Masalah Pengantin Pesanan
Trump yang berulang kali sesumbar hubungannya dengan Kim, berusaha menepis anggapan negatif mengenai Pyongyang. Menurutnya, peluncuran rudal merupakan peringatan yang mengarah kepada Korea Selatan.
"Dia (Kim) tidak mengirim peringatan kepada AS. Mereka (Pyongyang-Seoul) memang tengah berselisih," cetus Trump. (AFP/OL-6)
Mantan Presiden Korsel Yoon Suk-yeol dijatuhi hukuman 5 tahun penjara.
Di drakor ini, Kim Seon-ho memerankan karakter bernama Joo Ho-jin. Ho-jin merupakan penerjemah multibahasa yang ditugaskan sebagai penerjemah untuk bintang top Cha Mu-hee (Go Youn-jung).
Pengadilan Seoul akan membacakan vonis terhadap mantan Presiden Yoon Suk Yeol atas tuduhan menghalangi penyidikan terkait deklarasi darurat militer 2024.
Korea Selatan dilanda tren "Dubai Chewy Cookie". Terinspirasi dari cokelat viral Dubai, hidangan penutup ini laku keras berkat pengaruh K-Pop dan visual yang menggoda.
Jaksa khusus menuntut hukuman mati bagi mantan Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol terkait upaya pemberontakan melalui deklarasi darurat militer yang gagal.
PT Bank KEB Hana Indonesia (Hana Bank) menyalurkan beasiswa senilai Rp100 juta kepada Jakarta Indonesia Korean School (JIKS).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved