Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
Aksi unjuk rasa yang memprotes rancangan undang-undang ekstradisi di Hong Kong menunjukkan tanda mereda. Polisi menembakkan peluru karet dan melontarkan gas air mata ke arah ribuan demonstran pro-demokrasi. Ribuan demonstran berkerumun di dekat sebuah gedung utama perwakilan Tiongkok. Otoritas setempat meminta masyarakat untuk menutup pintu dan jendeal rumah mereka.
Kekacauan tampak di beberapa blok wilayah barat Hong Kong hingga Minggu (29.7) malam. Polisi berusaha memukul mundur dan membubarkan para demonstran dari gedung perhubung pemerintah Tiongkok dan sebuah kantor polisi.
Tindakan polisi dibalas oleh para demonstran dengan lemparan batu bata, benda seadanya, dan gelas-gelas kertas. Polisi antihuru hara dengan petungan merangsek ke arah kerumunan demonstran dan bentrokan pun tak terhindari. Bentrokan antara polisi dan para demonstran yang terjadi di Hong Kong telah memasuki pekan ketujuh.
Pasukan khusus antihuru hara yang sangat terlatih dengan sebutan pasukan ‘Raptor’ telah menangkap puluhan pemuda pria dan wanita. Sejumlah demonstran mengalami termasuk dua wartawan.
Para demonstran melamparkan telur ke arah gedung penghubung pemerintah Tiongkok akhir pekan lalu. Mereka juga menyemprotkan cat ke lambang nasional Tiongkok. Aksi tersebut telah memnacing amarah otoritas Beijing.
“Kami mengecam keras para demonstran radikal yang melanggar hukum dan ketertuban dan melanggar perdamaian publik,” demikian pernyataan dari pemerintah Hong Kong.
“Kami akan melanjutkan dukungan penuh terhadap polisi untuk menegakan hukum dan menghentikan semua tindaka yang merusak,” tegas pemerintah Hong Kong.
Terkait apa yang terjadi di Hong Kong telah membuat Beijing tidak bisa membiarkan begitu saja aksi unjuk rasa menentang undang-undang ekstradisi yang diwarnai kekerasan.
Dalam editorialnya yang terbit Senin (29/7), surat kabar miliki pemerintah Tiongkok, China Daily, menampilkan pembahasan apa yang terjadi di Hong Kong.
“Apa yang terjadi di Hong Kong bukan lagi ungkapan kenyatan atau keluhan yang digambarkan. Itu sama rona dengan revolusi warna yang dipicu di Timur Tengah dan Afrika Utara - elemen anti-pemerintah lokal berkolusi dengan pasukan eksternal untuk menggulingkan pemerintah menggunakan teknologi komunikasi modern untuk menyebarkan desas-desus, ketidakpercayaan dan ketakutan," tulis editorial surat kabar propemerintah Tiongkok tersebut. (OL-09)
Perang tersebut terlalu menguras anggaran negara. Padahal, menurut dia, situasi internal di Amerika Serikat tidak baik-baik saja dan membutuhkan sokongan.
Delpedro Marhaen bentangkan bendera Iran di PN Jakpus, tuntut Presiden Prabowo mundur dari Board of Peace (BoP) dalam sidang putusan kasus penghasutan.
Gelombang protes pecah di penjuru Amerika Serikat usai tewasnya Ali Khamenei. Demonstran sebut kebijakan Trump sebagai bentuk tirani dan menyeret AS ke perang tanpa akhir.
Dewan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (Dema PTKIN) Se-Indonesia mengapresiasi pola pengamanan kepolisian dalam aksi unjuk rasa mahasiswa.
Mahasiswa diimbau untuk tetap menyampaikan aspirasi secara damai dan konstitusional, khususnya di bulan suci Ramadan.
Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut pidana penjara 10 bulan terhadap 21 terdakwa kasus kerusuhan demonstrasi yang terjadi pada Agustus 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved