Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
APLIKASI populer yang berbasis di Rusia, FaceApp, menuai kecaman dari anggota Senat Amerika Serikat (AS), yang mendesak penyelidikan Biro Investigasi Federal (FBI). Hal itu tidak lepas dari fungsi aplikasi yang dapat mengubah tampilan seseorang, menjadi lebih tua atau lebih muda.
Pimpinan Minoritas Senat AS, Chuck Schumer, menyerukan kepada FBI dan FTC, yakni badan perlindungan konsumen AS, untuk meninjau aspek keamanan nasional dan risiko privasi yang terhubung dengan FaceApp. Mengingat, aplikasi telah digunakan jutaan warga AS, namun dikembangkan perusahaan yang berbasis di Saint Petersburg, Rusia.
Baca juga: Pemerintah Indonesia Protes Dewan Kota Oxford
"Basis FaceApp yang berlokasi di Rusia menimbulkan pertanyaan, bagaimana dan kapan perusahaan menyediakan akses data warga AS ke pihak ketiga. Termasuk, kemungkinan adanya peran pemerintah asing," ujar Schumer dalam sebuah surat kepada FBI.
"Ini sangat meresahkan, ketika informasi sensitif warga AS diberikan kepada kekuatan asing yang menjadi rival aktif dalam perang siber dengan AS," imbuhnya.
Schumer bukan satu-satunya anggota Partai Demokrat yang khawatir. The Washington Post melaporkan Komite Nasional Partai Demokrat mengingatkan para juru kampanye pemilihan presiden 2020, untuk menyerukan penghapusan aplikasi. Salah satu partai politik terbesar AS itu sangat sensitif terhadap potensi pengawasan yang melibatkan Moskow. Apalagi beberapa pejabat Partai Demokrat menjadi sasaran peretas Rusia dalam pemilihan presiden 2016.
Perwakilan FaceApp belum merespons surat Schumer. Namun, kepada The Washington Post, CEO FaceApp, Yaroslav Goncharov, menegaskan aplikasi itu tidak memanfaatkan foto pengguna untuk tujuan lain. Dia mengatakan sebagian besar foro dihapus dari ousat data dalam waktu 48 jam. Selain itu, otoritas berwenang Rusia tidak memiliki akses data pengguna.
Aplikasi FaceApp diluncurkan Rusia Wireless Lab pada 2017, dengan mengusung kecerdasan buatan untuk memodifikasi foto pengguna. Dari mengubah warna rambut, menambah kerutan, hingga mengurangi usia wajah. Saat ini, FaceApp merupakan aplikasi gratis yang paling banyak diunduh di Google Play, dengan lebih dari 100 juta pengguna. (AFP/OL-6)
Dalam psikologi perkembangan, remaja sedang berada pada fase meningkatnya kebutuhan otonomi.
Salah satu fenomena yang paling sering muncul dari penggunaan media sosial adalah kecenderungan remaja untuk melakukan perbandingan sosial secara ekstrem.
Laporan Kebahagiaan Dunia terbaru mengungkap dampak negatif algoritma TikTok dan Instagram pada mental pemuda.
Matcha memang kaya akan katekin, terutama epigallocatechin gallate (EGCG) yang bersifat antioksidan.
Cara seseorang mengekspresikan kesedihannya berkaitan erat dengan apa yang dirasa paling menguatkan bagi dirinya sendiri.
Narasi-narasi menyesatkan di media sosial menjadi salah satu pemicu utama keengganan orangtua untuk memberikan vaksinasi kepada anak mereka.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved