Selasa 28 Mei 2019, 02:50 WIB

Myanmar Bebaskan 7 Tentara Kasus Rohingya Lebih Awal

Myanmar Bebaskan 7 Tentara Kasus Rohingya Lebih Awal

AFP
Petugas kepolisian Myanmar sedang berjaga

 

MYANMAR membebaskan lebih awal tujuh tentara yang membunuh sejumlah warga etnik Rohingya, dalam operasi militer di negara bagian Rakhine pada 2017. Hal itu diungkapkan sumber pejabat penjara, mantan narapidana, berikut kalangan tentara.

Beberapa tentara dibebaskan pada November 2018. Artinya, mereka menjalani hukuman penjara kurang dari setahun. Padahal, total hukuman atas pembunuhan di Inn Din mencapai 10 tahun. Masa tahanan mereka juga kurang dari penahanan dua wartawan Reuters, Wa Lone dan Kyaw Soe Oo, yang mengungkap kasus pembunuhan.

Kedua wartawan berada di balik jeruji besi selama lebih dari 16 bulan, dengan tuduhan membongkar rahasia negara. Pada 6 Mei, keduanya dibebaskan dalam sebuah amnesti.

Kepala Sipir Penjara Sittwe Rakhine, Win Naing, dan seorang pejabat senior penjara Naypyitaw, membenarkan sejumlah tentara tidak berada di penjara selama beberapa bulan.

"Hukuman mereka dikurangi pihak militer," ujar pejabat senior Naypyitaw yang enggan disebutkan namanya.

Kedua pejabat penjara juga menolak untuk memberikan rincian lebih lanjut. Mereka mengaku tidak mengetahui tanggal pembebasan yang tidak diumumkan secara publik.

Juru bicara militer, Zaw Min Tun dan Tun Tun Nyi, tidak mau memberikan tanggapan. Ketujuh tentara merupakan pasukan keamanan yang mendapatkan hukuman atas operasi militer 2017.

Peristiwa mematikan yang mendorong lebih dari 700 ribu orang muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh. Para penyelidik PBB menekankan tindakan kekerasan berlandaskan tujuan genosida, yang mencakup pembunuhan massal, pemerkosaan, dan pembakaran permukiman warga.

Otoritas Myanmar membantah kesalahan yang meluas. Para pejabat menyebut pemenjaraan tujuh tentara dalam kasus pembunuhan di Desa Inn Din, sebagai bukti pasukan keamanan Myanmar tidak kebal hukum.

"Saya menegaskan bahwa kami sudah mengambil tindakan atas kasus yang diselidiki," ujar komandan militer Jenderal Min Aung Hlaing.

Seorang pria bernama Zin Paing Soe yang mengaku salah satu dari tujuh tentara, mengaku sudah dibebaskan. Namun, dia menolak berkomentar lebih lanjut. "Kami diminta diam," ucapnya.

Operasi militer 2017 yang menyasar ratusan desa di wilayah utara Rakhine, sebagai respons terhadap pemberontak Rohingya. Reuters mengungkap kasus pembunuhan tersebut dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada Februari 2018.

Pasukan dari Divisi Infantri Cahaya ke-33, yang dikenal karena operasi penumpasan para pemberontak, bekerja sama dengan anggota pasukan kepolisian paramiliter dan anggota wihara, untuk mengusir seluruh populasi muslim di Inn Din. (Channelnewsasia/Tes/I-1)

Baca Juga

ASHRAF SHAZLY / AFP

PM Ethiopia Klaim Pertempuran di Tigray Selesai

👤Nur Aivanni 🕔Minggu 29 November 2020, 08:32 WIB
Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed  mengatakan bahwa operasi militer di wilayah Tigray selesai setelah tentara mengklaim kendali...
MI/Pius Erlangga

Pertukaran Pemuda Untuk Tingkatkan SDM dan Diplomasi

👤Haufan Hasyim Salengke 🕔Minggu 29 November 2020, 07:34 WIB
Program pemuda internasional ini tidak hanya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, namun juga untuk mendukung...
AUDU MARTE / AFP

Boko Haram Kembali Bunuh 43 Buruh Tani

👤Siswantini Suryandari 🕔Minggu 29 November 2020, 06:36 WIB
Kelompok pejuang  Boko Haram menewaskan sedikitnya 43 buruh tani  dan melukai enam lainnya di sawah dekat kota Maiduguri di...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya