Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
POUND sterling, Selasa (12/3), terjun bebas setelah rencana Inggris meninggalkan Uni Eropa (UE) mendapat pukulan telak setelah parlemen Inggris menolak kesepakatan Brexit yang dicapai oleh Perdana Menteri Theresa May dan UE.
Pound sterling mengalami penurunan terbesar pada Selasa (12/3) pagi saat salah satu penasehat utama pemerintah Inggris, Jaksa Agung Geoffrey Cox, mengatakan kesepakatan yang dicapai May dengan UE tidak akan mengubah risiko legal Inggris.
"Pound sterling terjun bebas menanggapi pernyataan Cox," ungkap analis ThinkMarkets Naeem Aslam.
Baca juga: Anggota Parlemen Inggris Tolak Kesepakatan May dengan UE
"Pendapatnya sangat penting. Kini, dia dengan tegas mengatakan kesepakatan yang baru itu tidak berarti. Itu berarti pintu terbuka lebar bagi pound sterling untuk kembali melemah." imbuhnya.
Pelemahan itu benar terjadi dengan pound sterling mencapai titik terendah US$1,3005 dari sebelumnya US$1,3143 sebelum pernyataan Cox. Adapun euro menguat dari 86,55 pence menjadi 87,75 pence.
Padahal, sebelumnya, pascakabar May mencapai kata sepakat dengan UE, pound sterling mencapai angka tertingginya dalam tiga pekan US$1,3289 dan 84,76 pence untuk euro. (AFP/OL-2)
Pemerintah Inggris investasi £100 juta buka kembali pabrik CO2 di Teesside. Langkah darurat ini diambil guna menjaga pasokan pangan di tengah konflik Iran.
KABAR bohong atau hoaks mengenai pemberlakuan penguncian wilayah (lockdown) di Kent, Inggris, mulai Mei 2026 akibat wabah meningitis, beredar luas di media sosial.
Wabah meningitis MenB di Inggris terkait klaster kampus. Kenali gejala awal, cara penularan, dan langkah pencegahannya.
UKHSA melaporkan 29 kasus penyakit meningokokus di Kent, Inggris, dengan dua korban jiwa. Otoritas kesehatan terus lakukan vaksinasi dan pemberian antibiotik.
TIM perencana militer dari Inggris dilaporkan tengah bekerja sama dengan militer Amerika Serikat (AS) untuk menyusun langkah membuka kembali Selat Hormuz.
Pemerintah AS menginginkan Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Australia, Kanada, yordania, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Teluk untuk bergabung dalam koalisi tersebut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved