Headline
Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.
Kumpulan Berita DPR RI
PERNAHKAN Anda merasa sudah berbaring lama, tapi tidur tak kunjung datang? Tubuh lelah, mata berat, namun pikiran justru terus aktif. Banyak orang langsung menyalahkan kopi, layar ponsel, atau tekanan pekerjaan. Padahal, tanpa disadari, ada satu elemen sederhana di kamar tidur yang bisa jadi biang keladinya, dan sering luput dari perhatian. Salah satu yang paling sering ditemukan? Cermin. Interior ini justru bisa diam-diam merusak kualitas tidur.
Cermin memang sering dianggap sebagai elemen dekorasi yang fungsional. Selain membantu saat bersiap, cermin juga mampu membuat ruangan terlihat lebih luas dan terang. Tapi di balik manfaat itu, penempatannya bisa berdampak langsung pada kualitas tidur.
Davies menjelaskan bahwa cermin yang menghadap langsung ke tempat tidur dapat membuat otak tetap dalam kondisi siaga. Hal ini terjadi karena cermin memantulkan cahaya dan gerakan, bahkan ketika seseorang berada dalam fase tidur ringan.
Bayangkan cahaya lampu kendaraan yang melintas, sorot lampu jalan, atau bayangan orang yang lewat di luar jendela. Semua itu bisa terpantul kembali ke dalam kamar. Meski tak selalu disadari, rangsangan visual kecil ini cukup untuk mengganggu ritme istirahat dan membuat tubuh sulit benar-benar rileks.
Bukan berarti Anda harus menyingkirkan cermin dari kamar tidur sepenuhnya. Kuncinya ada pada penempatan. Posisi cermin yang tidak langsung menghadap tempat tidur, misalnya di sudut ruangan atau secara diagonal, dapat tetap memberikan manfaat pencahayaan tanpa mengganggu tidur.
Dengan penataan yang tepat, cermin tetap bisa membantu memaksimalkan cahaya alami di siang hari, sekaligus menjaga suasana kamar tetap nyaman saat malam tiba.
Lebih dari sekadar pantulan cahaya, cermin juga berpengaruh pada suasana psikologis ruang. Dalam prinsip feng shui, cermin diyakini memantulkan energi. Jika pantulan tersebut berisi cahaya terang atau gerakan di malam hari, hal ini bisa membuat suasana kamar terasa “aktif”, bukan menenangkan.
Bahkan, pantulan diri sendiri yang muncul tiba-tiba di tengah malam bisa memicu respons kaget yang mengganggu tidur.
Selain cermin, kondisi kamar secara keseluruhan juga berperan besar. Tren dekorasi yang cenderung “ramai” atau maksimalis bisa membuat kamar terasa penuh dan tidak kondusif untuk beristirahat. Terlalu banyak permukaan reflektif, ditambah barang-barang yang berantakan, dapat menciptakan kesan visual yang melelahkan bagi otak.
Padahal, untuk mendapatkan tidur berkualitas, tubuh membutuhkan lingkungan yang sederhana, tenang, dan minim distraksi.
Mengubah kualitas tidur tidak selalu harus dengan langkah besar. Terkadang, cukup dengan menata ulang kamar, memindahkan cermin, merapikan barang, dan mengurangi elemen yang mengganggu, sudah bisa memberikan perbedaan signifikan.
Karena pada akhirnya, tidur yang nyenyak bukan hanya soal seberapa lelah Anda, tetapi juga seberapa siap lingkungan di sekitar Anda untuk membantu tubuh benar-benar beristirahat. (H-4)
Perubahan pola tidur yang drastis selama masa liburan disinyalir dapat membuat tubuh mudah lelah hingga memicu penurunan konsentrasi yang signifikan.
Ketika waktu tidur berkurang, tubuh secara alami akan mencari kompensasi energi dari sumber lain, salah satunya melalui makanan.
Agar tidak tidur berlebihan saat puasa, cukup tidur malam hari selama 6 sampai 8 jam, bangun sahur tepat waktu, jangan tidur lama setelah sahur, serta atur tidur siang maksimal 20 hingga 30 menit.
Tidur cukup bukan sekadar istirahat. Ini 7 manfaat tidur berkualitas bagi kesehatan tubuh dan mental.
Kombinasi gerakan mengayun dan suara mesin kendaraan bekerja secara sinergis menenangkan sistem saraf anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved