Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM lingkungan sosial yang serba terpantau, menjadi ibu terasa seperti hidup dalam penjara panopticon, sebuah ruang di mana setiap gerak-gerik diawasi dan dihakimi. Fenomena inilah yang dibedah Ej Dickson, penulis sekaligus editor senior The Cut, dalam buku terbarunya, "One Bad Mother".
Dickson mengangkat kegelisahan kolektif para ibu yang terus-menerus merasa gagal memenuhi standar masyarakat. Melalui wawancara mendalam, ia mengungkapkan bagaimana definisi "ibu yang buruk" kini menjadi begitu luas dan tidak masuk akal.
Menurut Dickson, label "ibu buruk" bisa disematkan pada siapa saja yang sedikit melenceng dari cetakan ideal budaya arus utama. Standar ini sering kali bersifat kontradiktif dan menjebak.
"Seorang ibu bisa dianggap terlalu permisif atau kurang permisif. Dia bisa berpakaian terlalu terbuka atau terlalu tertutup. Ini hanyalah frasa yang digunakan untuk menggambarkan siapa pun yang menyimpang dari pola budaya," ujar Dickson.
Ironisnya, standar ini tidak berlaku bagi para ayah. Dickson menyoroti ketimpangan ekspektasi gender dalam pengasuhan.
"Ayah masih mendapat pujian hanya karena 'hadir', sementara ibu dihakimi atas hampir semua hal yang mereka lakukan. Standar untuk ayah sangatlah rendah," tegasnya.
Salah satu pemicu utama stres pada ibu modern adalah intensive parenting atau pola asuh helikopter. Pola ini menuntut keterlibatan ekstrem dalam setiap aspek kehidupan anak, mulai dari asupan makanan hingga durasi layar (screen time).
Dickson menilai tren ini justru merugikan kesehatan mental ibu dan perkembangan anak. Tekanan untuk menjadi sempurna menghilangkan kegembiraan dalam mengasuh anak. Anak-anak pun kehilangan ruang untuk melakukan kesalahan sebagai bagian dari proses pendewasaan.
"Tingkat kecemasan dan depresi pada ibu sangat tinggi, dan alasannya jelas. Saat pengasuhan menjadi makin intens, muncul standar yang mustahil untuk dipenuhi," tambahnya.
Untuk mengatasi mom guilt (rasa bersalah ibu), Dickson menyarankan para ibu untuk melihat kembali perspektif sejarah. Ia mengingatkan sepanjang sejarah manusia, ibu telah bekerja di luar rumah. Tekanan untuk menetap di rumah barulah menguat pasca-Perang Dunia II sebagai upaya mendorong perempuan kembali ke ranah domestik.
Selain tekanan sosial, ibu juga menjadi sasaran empuk industri yang memanfaatkan rasa tidak aman mereka. Dickson memperingatkan agar ibu lebih cerdas dalam memilah iklan atau produk yang menjanjikan solusi instan atas masalah pengasuhan.
Di tengah hiruk-pikuk tuntutan tahun 2026, Dickson mengajak para ibu untuk menyederhanakan indikator keberhasilan pola asuh. Alih-alih mengejar prestasi akademik atau karier masa depan anak sebagai tolok ukur, ia menyarankan fokus pada hal yang paling dasar.
"Bagi saya, satu-satunya metrik yang harus dipertimbangkan adalah kesehatan dan kebahagiaan, terutama saat anak-anak kita masih kecil," kata Dickson.
Ia menutup dengan pesan sederhana namun kuat: tidak apa-apa membiarkan anak menonton TV sejenak demi memberi ruang bagi ibu untuk bernapas. Memberi jeda pada diri sendiri bukanlah tanda kegagalan, melainkan kunci untuk tetap waras dalam menjalankan peran sebagai orang tua. (CNN/Z-2)
Studi terbaru dari Health Collaborative Center mengungkap tingginya kejadian mom shaming di Indonesia. Sebagian besar pelaku justru berasal dari keluarga dan orang-orang sekitar.
Tindakan merendahkan, mencela atau menghakimi seorang ibu tentang keputusan melahirkan secara normal atau sesar, mengasuh anak hingga perubahan fisik bisa masuk dalam kategori mom shaming.
Ribuan ibu berisiko mengalami gangguan mental pascamelahirkan (PMADs) di 2026. Simak gejala, kendala skrining, dan cara mendapatkan bantuan medis yang tepat.
Laporan terbaru Care.com mengungkap krisis pengasuhan anak memicu stres ekstrem hingga niat merugikan diri sendiri bagi orangtua, terutama ibu.
Apakah anak Anda tidak bisa lepas dari pelukan? Kenali fenomena Velcro Baby, alasan di balik sikap manja si kecil, dan tips ahli untuk menghadapinya tanpa stres.
Dinas Pemberdayaan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta menegaskan bahwa keluarga memegang peran penting dalam menjaga kesehatan mental ibu.
Tes darah pertama di dunia untuk mendeteksi risiko depresi pascamelahirkan akan segera diluncurkan di AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved