Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Fenomena Bad Mother, Mengapa Ibu Selalu Merasa Bersalah di Era Media Sosial?

Thalatie K Yani
26/3/2026 08:00
Fenomena Bad Mother, Mengapa Ibu Selalu Merasa Bersalah di Era Media Sosial?
Ilustrasi(freepik)

DALAM lingkungan sosial yang serba terpantau, menjadi ibu terasa seperti hidup dalam penjara panopticon, sebuah ruang di mana setiap gerak-gerik diawasi dan dihakimi. Fenomena inilah yang dibedah Ej Dickson, penulis sekaligus editor senior The Cut, dalam buku terbarunya, "One Bad Mother".

Dickson mengangkat kegelisahan kolektif para ibu yang terus-menerus merasa gagal memenuhi standar masyarakat. Melalui wawancara mendalam, ia mengungkapkan bagaimana definisi "ibu yang buruk" kini menjadi begitu luas dan tidak masuk akal.

Standar Ganda dan Budaya Menghakimi

Menurut Dickson, label "ibu buruk" bisa disematkan pada siapa saja yang sedikit melenceng dari cetakan ideal budaya arus utama. Standar ini sering kali bersifat kontradiktif dan menjebak.

"Seorang ibu bisa dianggap terlalu permisif atau kurang permisif. Dia bisa berpakaian terlalu terbuka atau terlalu tertutup. Ini hanyalah frasa yang digunakan untuk menggambarkan siapa pun yang menyimpang dari pola budaya," ujar Dickson.

Ironisnya, standar ini tidak berlaku bagi para ayah. Dickson menyoroti ketimpangan ekspektasi gender dalam pengasuhan.

"Ayah masih mendapat pujian hanya karena 'hadir', sementara ibu dihakimi atas hampir semua hal yang mereka lakukan. Standar untuk ayah sangatlah rendah," tegasnya.

Bahaya Intensive Parenting

Salah satu pemicu utama stres pada ibu modern adalah intensive parenting atau pola asuh helikopter. Pola ini menuntut keterlibatan ekstrem dalam setiap aspek kehidupan anak, mulai dari asupan makanan hingga durasi layar (screen time).

Dickson menilai tren ini justru merugikan kesehatan mental ibu dan perkembangan anak. Tekanan untuk menjadi sempurna menghilangkan kegembiraan dalam mengasuh anak. Anak-anak pun kehilangan ruang untuk melakukan kesalahan sebagai bagian dari proses pendewasaan.

"Tingkat kecemasan dan depresi pada ibu sangat tinggi, dan alasannya jelas. Saat pengasuhan menjadi makin intens, muncul standar yang mustahil untuk dipenuhi," tambahnya.

Melawan Rasa Bersalah dan Eksploitasi

Untuk mengatasi mom guilt (rasa bersalah ibu), Dickson menyarankan para ibu untuk melihat kembali perspektif sejarah. Ia mengingatkan sepanjang sejarah manusia, ibu telah bekerja di luar rumah. Tekanan untuk menetap di rumah barulah menguat pasca-Perang Dunia II sebagai upaya mendorong perempuan kembali ke ranah domestik.

Selain tekanan sosial, ibu juga menjadi sasaran empuk industri yang memanfaatkan rasa tidak aman mereka. Dickson memperingatkan agar ibu lebih cerdas dalam memilah iklan atau produk yang menjanjikan solusi instan atas masalah pengasuhan.

Fokus pada Kesehatan dan Kebahagiaan

Di tengah hiruk-pikuk tuntutan tahun 2026, Dickson mengajak para ibu untuk menyederhanakan indikator keberhasilan pola asuh. Alih-alih mengejar prestasi akademik atau karier masa depan anak sebagai tolok ukur, ia menyarankan fokus pada hal yang paling dasar.

"Bagi saya, satu-satunya metrik yang harus dipertimbangkan adalah kesehatan dan kebahagiaan, terutama saat anak-anak kita masih kecil," kata Dickson.

Ia menutup dengan pesan sederhana namun kuat: tidak apa-apa membiarkan anak menonton TV sejenak demi memberi ruang bagi ibu untuk bernapas. Memberi jeda pada diri sendiri bukanlah tanda kegagalan, melainkan kunci untuk tetap waras dalam menjalankan peran sebagai orang tua. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya