Headline
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Kumpulan Berita DPR RI
SEGALA sesuatu yang lama kini menjadi baru kembali. Tren nostalgia tidak hanya menjangkiti dunia mode dan film dewasa, tetapi juga mulai merambah ke ruang keluarga. Orangtua dari generasi X dan milenial kini beramai-ramai mengajak anak-anak mereka (Gen Alpha) untuk kembali menonton program "Gentle TV" dari era 90-an dan 2000-an.
Serial klasik seperti Franklin, Little Bear, hingga Max & Ruby kembali naik daun. Alasan utamanya? Banyak orangtua merasa tontonan modern saat ini terlalu cepat, bising, dan memberikan stimulasi berlebih (overstimulation) pada otak anak.
Michael Hirsh, produser di balik berbagai tayangan ikonik tersebut, mengaku tidak terkejut dengan fenomena ini. Ia menjelaskan setiap acaranya dirancang dengan karakteristik unik yang menenangkan.
"Warna-warna lembut dan musik yang terinspirasi oleh Schubert berkontribusi pada suara acara yang tenang, menyejukkan, dan lembut," ujar Hirsh merujuk pada serial Little Bear.
Menurutnya, tayangan era tersebut sangat dipengaruhi regulasi ketat dan kelompok lobi orangtua yang mengutamakan nilai edukasi. Berbeda dengan era streaming saat ini yang lebih didorong oleh apa yang ingin ditonton anak daripada apa yang seharusnya mereka tonton.
Psikolog dari MamaPsychologists, Caitlin Slavens, menilai tren ini sebagai langkah positif bagi regulasi emosi anak. "Pergeseran ke arah TV gaya lama ini menunjukkan penceritaan yang diperlambat dan lebih sengaja membantu pengaturan emosi," kata Slavens.
Senada dengan hal tersebut, Stephanie O’Dea, penulis buku Slow Living, menekankan pentingnya durasi fokus. Salah satu tonggak perkembangan anak adalah kemampuan duduk tenang mendengarkan cerita selama 10 menit. Gambar yang bergerak terlalu cepat dan alur cerita yang dipotong-potong pada tayangan modern dianggap kurang tepat bagi otak yang sedang berkembang.
Meskipun tayangan "Gentle TV" jauh lebih aman secara psikologis, Hirsh tetap menyarankan pentingnya keterlibatan orangtua. Di tengah gempuran gawai pribadi, memantau konten menjadi tantangan berat.
"Mengingat banyak anak memiliki layar sendiri sejak usia sangat muda, tugas memastikan apa yang ditonton anak menjadi sangat sulit. Namun, menonton bersama (co-viewing) adalah bagian besar dari solusinya," tegas Hirsh.
Bagi orangtua yang ingin memulai, Hirsh merekomendasikan judul klasik seperti Little Bear atau Rolie Polie Olie untuk balita, serta Magic School Bus yang memadukan sains dengan komedi ringan. Untuk anak usia 6-11 tahun, beralih ke serial seperti Beetlejuice versi animasi bisa menjadi pilihan transisi yang tetap terjaga kualitasnya. (Parents/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved