Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
MENGUMPAT atau menggunakan kata-kata kasar sering kali dianggap sebagai tabu dalam pola asuh tradisional. Namun, survei terbaru dari C.S. Mott Children’s Hospital National Poll menunjukkan adanya pergeseran perspektif di kalangan orangtua modern mengenai kebiasaan "mulut kotor" pada anak usia 6 - 17 tahun.
Data menunjukkan meskipun 47% orangtua tetap tegas menyatakan anak tidak boleh mengumpat, sisanya cenderung lebih fleksibel. Sekitar 35% orangtua merasa penggunaan kata kasar bergantung pada situasi, sementara 12% lainnya melihat pada jenis kata yang digunakan. Sisanya, sekitar 6%, menganggap kata-kata kasar bukanlah masalah besar.
Fenomena ini semakin nyata saat anak menginjak usia remaja. Sebanyak 37% orangtua melaporkan anak remaja mereka mengumpat setidaknya sesekali. Alasan di baliknya beragam, mulai dari sekadar kebiasaan, keinginan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, mencoba melucu, hingga mencari perhatian.
Reaksi orangtua pun bervariasi, mulai dari memberikan teguran keras, menjelaskan mengapa hal itu buruk, hingga mengabaikan perilaku tersebut sebagai bagian dari fase pertumbuhan.
Para ahli menekankan konteks adalah segalanya. Anne Josephson, PsyD, seorang pakar psikologi, menyatakan orangtua memegang peranan krusial sebagai teladan.
"Anak-anak harus belajar, baik dari Anda maupun dari lingkungan, bahwa ada waktu dan tempat untuk menggunakan kata-kata umpatan," tegas Josephson.
Menariknya, penggunaan kata kasar tidak selalu berdampak negatif. Deborah Vinall, PsyD, menjelaskan individu yang mampu mengekspresikan diri secara autentik cenderung lebih sehat secara psikologis.
"Mereka yang mengumpat umumnya lebih sehat secara psikologis, karena membatasi kosa kata setiap saat dapat menyebabkan emosi terpendam dan meningkatkan kecemasan," ujar Vinall.
Namun, ia memberi catatan tegas: "Kata-kata kasar tidak boleh digunakan untuk menyerang atau merujuk pada seseorang."
Bagi orang tua dengan anak kecil, tantangannya adalah menyaring apa yang didengar anak dari TV, internet, atau teman. Jika orang tua tidak sengaja mengumpat di depan anak, Josephson menyarankan untuk meminta maaf dan mengakuinya sebagai kesalahan.
Sementara untuk remaja, pakar menyarankan orangtua untuk lebih bijak memilih "medan perang". Jika seorang remaja berprestasi dan sopan namun sesekali mengumpat untuk ekspresi diri, orangtua mungkin bisa lebih longgar. Namun, jika umpatan disertai perilaku tidak hormat, tindakan tegas diperlukan.
Tujuan akhirnya bukan mencapai kesempurnaan moral, melainkan mengajarkan kecerdasan emosional. Seperti kata Dr. Vinall, kuncinya adalah menemukan kebebasan emosional untuk berekspresi, namun tetap memiliki kedewasaan untuk mengontrol kapan dan di mana kata-kata tersebut pantas diucapkan. (Parents/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved