Headline

Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.

Ketika Biaya Pengasuhan Anak Menjadi Ancaman Kesehatan Mental Orangtua

Thalatie K Yani
05/2/2026 11:00
Ketika Biaya Pengasuhan Anak Menjadi Ancaman Kesehatan Mental Orangtua
Ilustrasi(freepik)

BAGI banyak orangtua, mengasuh anak kini bukan sekadar kewajiban moral, melainkan sumber stres utama yang menyaingi persoalan finansial. Laporan Cost of Care 2026 dari Care.com mengungkapkan fakta mengejutkan, 36% orangtua menempatkan pengasuhan anak sebagai pemicu stres tertinggi, tepat di bawah masalah keuangan (44%).

Krisis ini menciptakan efek domino yang merusak. Naaz Nichols, Chief Customer Experience Officer di Care.com sekaligus ibu tunggal, menjelaskan betapa eratnya keterkaitan antar tekanan tersebut.

"Bagi kebanyakan orangtua, tekanan-tekanan ini sangat terkait erat," ujar Nichols. "Pengasuhan memengaruhi keuangan. Keuangan memengaruhi pekerjaan. Dan ketika pekerjaan serta uang terasa tidak stabil, kesehatan mental sering kali menjadi hal pertama yang dikorbankan."

Dampak Fatal pada Kesehatan Mental

Data menunjukkan situasi yang kian mengkhawatirkan. Sebanyak 34% responden mengaku pernah mempertimbangkan bunuh diri atau melukai diri sendiri akibat beban pengasuhan. Angka ini meningkat dari 29% pada tahun sebelumnya.

Kondisi ini diperparah oleh hilangnya waktu pribadi. Laporan tersebut mencatat isu pengasuhan memengaruhi 90% komitmen orangtua terhadap aktivitas hidup yang penting, termasuk waktu bersama teman (51%) dan hobi (49%).

Ibu Menanggung Beban Terberat

Laporan ini memberikan sorotan khusus pada ketimpangan beban yang dipikul para ibu. Ekspektasi sosial masih menempatkan perempuan sebagai manajer utama pengasuhan, bahkan jika kedua orang tua bekerja.

Data menunjukkan perbedaan kontras:

  • Merasa kewalahan: 60% ibu vs 42% ayah.
  • Rasa bersalah terkait pengasuhan: 31% ibu vs 13% ayah.
  • Waktu tanpa istirahat: 85% ibu menghabiskan hampir seluruh waktu terjaga untuk orang lain.

Akibatnya, lebih dari 455.000 perempuan meninggalkan angkatan kerja antara Januari hingga Agustus 2025. Kebijakan kembali ke kantor (return-to-office) tanpa solusi penitipan anak yang terjangkau menjadi pendorong utama tren ini.

Strategi Bertahan di Tengah Sistem yang Rusak

Meski perubahan kebijakan publik sangat mendesak, para ahli menyarankan beberapa langkah praktis bagi orangtua:

  1. Bangun "Desa" Pendukung: Nichols menekankan bahwa tidak ada yang bisa melakukannya sendirian. Cari dukungan dari teman, keluarga, atau pengasuh paruh waktu.
  2. Manfaatkan Manfaat Pajak: Klaim kredit pajak pengasuhan anak dan gunakan manfaat tunjangan dari pemberi kerja untuk meringankan beban finansial.
  3. Tetapkan Ekspektasi Realistis: Dr. Nona Kocher mengingatkan bahwa merawat diri sendiri bukanlah sikap egois. "Pilih tugas terpenting setiap hari dan biarkan sisanya menunggu jika perlu," ujarnya.
  4. Berani Bersuara: Jangan menunggu sistem runtuh sebelum meminta bantuan kepada pasangan atau atasan.

"Pengasuhan perlu diperlakukan sebagai infrastruktur penting, bukan masalah pribadi yang harus diselesaikan keluarga sendirian," tegas Nichols.

Perjuangan ini bukan sekadar masalah individu, melainkan kegagalan sistemik yang memerlukan advokasi bersama agar suara orang tua tidak lagi bisa diabaikan oleh para pembuat kebijakan. (Parents/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik