Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
MENJADI seorang ibu baru seharusnya menjadi masa penuh kebahagiaan sekaligus tantangan. Dalam banyak budaya, kehadiran sosok ibu kandung dianggap penting sebagai tempat bersandar dan sumber dukungan emosional. Namun, laporan terbaru menunjukkan bahwa tidak semua ibu baru memiliki kesempatan tersebut.
Menurut hasil studi dari The Motherless Mothers (TMM) dan Peanut, aplikasi yang menghubungkan orangtua di berbagai tahap pengasuhan, satu dari tiga ibu baru menjalani masa pascapersalinan tanpa kehadiran ibu kandung di sisi mereka. Kondisi tersebut bisa disebabkan oleh kematian, penyakit, jarak fisik, atau hubungan yang renggang.
Studi mengungkap tingkat depresi dan gangguan kesehatan mental perinatal jauh lebih tinggi pada kelompok ini dibandingkan rata-rata nasional. Di Amerika Serikat, misalnya, ibu tanpa ibu kandung lima kali lebih berisiko mengalami depresi perinatal dibandingkan rata-rata nasional yang dilaporkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC).
Selain itu, 81% responden mengalami gangguan kesehatan mental perinatal. Sementara 85% mengaku proses menjadi ibu kembali membuka luka kehilangan yang lama tertutup.
“Ketidakhadiran sosok ibu bukan hanya berarti kehilangan dukungan, tetapi juga kehilangan pijakan emosional,” jelas Kiana Shelton, terapis dari Mindpath Health.
Laporan yang sama mengungkap fakta lain, 74% responden tidak pernah ditanya tenaga kesehatan apakah mereka memiliki dukungan ibu, dan hanya separuh dari mereka yang mendapat bantuan bermakna.
Psikolog Dr. Emily Guarnotta menilai, hal ini menunjukkan duka akibat kehilangan ibu jarang diakui dalam budaya masyarakat. “Ketika bayi lahir, perhatian publik lebih banyak tertuju pada bayi, bukan pada kesejahteraan sang ibu,” ujarnya. “Padahal, duka dan tekanan batin ibu baru perlu mendapat ruang dan pengakuan.”
Meski kehilangan sosok ibu kandung, para ahli menegaskan dukungan bisa datang dalam berbagai bentuk. Dr. Catherine Cunningham, pakar kejiwaan dari Hackensack Meridian Ocean University Medical Center, menyebut pentingnya membangun jaringan sosial yang kuat.
“Dukungan sosial tidak hanya soal bantuan fisik, tetapi juga penopang emosional yang menumbuhkan rasa percaya diri dan kebersamaan,” katanya.
Beberapa langkah yang disarankan untuk ibu baru tanpa dukungan ibu kandung antara lain:
“Duka dan kebahagiaan bisa hadir bersamaan dalam perjalanan menjadi ibu,” ujar Dr. Kocher menutup. “Menerima keduanya tanpa penolakan membantu pemulihan mental dan emosional.”
Kehadiran ibu memang tak tergantikan, tetapi dengan kesadaran diri, dukungan sosial, dan perawatan emosional yang tepat, setiap ibu dapat menemukan kekuatan baru, bagi dirinya dan anak yang ia besarkan. (Parents/Z-2)
Dinas Pemberdayaan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta menegaskan bahwa keluarga memegang peran penting dalam menjaga kesehatan mental ibu.
Tes darah pertama di dunia untuk mendeteksi risiko depresi pascamelahirkan akan segera diluncurkan di AS.
Berdasarkan studi yang diterbitkan di JAMA, kesehatan mental ibu mengalami penurunan sejak 2016. Namun kesehatan mental ayah tidak mengalami gangguan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved