Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA 2026, diperkirakan 3,6 juta perempuan di Amerika Serikat akan melahirkan. Namun, sebuah realita kelam membayangi, hingga 720.000 di antaranya berisiko mengalami Perinatal Mood and Anxiety Disorders (PMADs) atau gangguan suasana hati dan kecemasan perinatal. Ironisnya, mayoritas dari mereka mungkin tidak akan pernah mendapatkan bantuan yang dibutuhkan.
Studi terbaru dari Nested, lembaga riset kesehatan mental keluarga nirlaba, mengungkap adanya celah kritis dalam sistem skrining PMADs. Skrining yang mencakup depresi, kecemasan, hingga Obsessive-Compulsive Disorder (OCD).
Data Nested menunjukkan 40% pengasuh yang mengalami PMADs tidak pernah menjalani skrining saat pemeriksaan rutin pascamelahirkan. Lebih mengejutkan lagi, hampir separuh (48%) dari mereka yang menjalani skrining mengaku tidak menjawab pertanyaan dengan jujur.
Alasannya memilukan: mereka takut dihakimi atau, yang paling ekstrem, takut kehilangan hak asuh anak. Padahal, membiarkan gejala PMADs tanpa penanganan bisa berdampak panjang bagi ibu dan bayi.
Dr. Erin O'Connor, salah satu penulis studi, menyebut adanya "pemisahan" historis dalam dunia medis. "Dalam pelatihan spesialisasi medis, fokusnya sering kali terbagi antara 'leher ke bawah' dan 'leher ke atas'. Seorang dokter kandungan mungkin ahli bedah yang terampil, tetapi belum tentu memahami seluk-beluk kebutuhan kesehatan mental," jelasnya.
Selain masalah pelatihan, kendala asuransi dan keterbatasan waktu konsultasi membuat isu mental sering terpinggirkan. Padahal, masa perinatal sangat panjang, mencakup masa kehamilan hingga 18-24 bulan setelah persalinan.
Gejala PMADs sering kali halus dan tersembunyi. Bri Rice, seorang doula bersertifikat, mencatat bahwa perilaku seperti melakukan riset berlebihan secara obsesif terhadap setiap gerakan bayi bisa menjadi sinyal adanya pikiran intrusif.
Beberapa tanda bahaya lainnya meliputi:
Jika Anda merasa ada yang salah, para ahli menyarankan untuk tidak menanggungnya sendiri. "Beban untuk menyadari gejala sering kali jatuh pada orang tua sendiri, dan itu adalah beban yang sangat besar," ujar Dr. Robin Neuhaus.
Berikut langkah yang bisa diambil:
Kesehatan mental ibu bukanlah sebuah kemewahan, melainkan fondasi bagi kesejahteraan keluarga. Jangan ragu untuk "mencairkan" bantuan dari orang-orang sekitar demi pemulihan Anda. (Parents/Z-2)
Laporan terbaru Care.com mengungkap krisis pengasuhan anak memicu stres ekstrem hingga niat merugikan diri sendiri bagi orangtua, terutama ibu.
Apakah anak Anda tidak bisa lepas dari pelukan? Kenali fenomena Velcro Baby, alasan di balik sikap manja si kecil, dan tips ahli untuk menghadapinya tanpa stres.
Dinas Pemberdayaan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta menegaskan bahwa keluarga memegang peran penting dalam menjaga kesehatan mental ibu.
Tes darah pertama di dunia untuk mendeteksi risiko depresi pascamelahirkan akan segera diluncurkan di AS.
Riset menunjukkan satu dari tiga ibu baru jalani masa pascapersalinan tanpa dukungan ibu kandung, dengan risiko depresi perinatal lima kali lebih tinggi.
Tes darah pertama di dunia untuk mendeteksi risiko depresi pascamelahirkan akan segera diluncurkan di AS.
Studi ungkap 1 dari 8 ibu alami kecemasan pascapersalinan (PPA). Kenali gejala, risikonya, dan pentingnya dukungan mental setelah melahirkan.
PEREMPUAN yang baru saja melahirkan rentan mengalami masalah kesehatan mental, yakni sindrom baby blues hingga depresi pascamelahirkan atau postpartum depression (PPD).
Prevalensinya meningkat signifikan dari 9,4 persen pada tahun 2010 menjadi 19 persen pada tahun 2021, sebagian besar pada ibu dengan obesitas.
Baby blues maupun depresi pada perempuan selepas melahirkan bisa berdampak buruk pada kesejahteraan ibu maupun bayi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved