Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Mengapa Banyak Ibu Baru Takut Jujur Alami PMADs?

Thalatie K Yani
17/2/2026 09:00
Mengapa Banyak Ibu Baru Takut Jujur Alami PMADs?
Ilustrasi(freepik)

PADA 2026, diperkirakan 3,6 juta perempuan di Amerika Serikat akan melahirkan. Namun, sebuah realita kelam membayangi, hingga 720.000 di antaranya berisiko mengalami Perinatal Mood and Anxiety Disorders (PMADs) atau gangguan suasana hati dan kecemasan perinatal. Ironisnya, mayoritas dari mereka mungkin tidak akan pernah mendapatkan bantuan yang dibutuhkan.

Studi terbaru dari Nested, lembaga riset kesehatan mental keluarga nirlaba, mengungkap adanya celah kritis dalam sistem skrining PMADs. Skrining yang mencakup depresi, kecemasan, hingga Obsessive-Compulsive Disorder (OCD).

Ketakutan di Balik Jawaban Palsu

Data Nested menunjukkan 40% pengasuh yang mengalami PMADs tidak pernah menjalani skrining saat pemeriksaan rutin pascamelahirkan. Lebih mengejutkan lagi, hampir separuh (48%) dari mereka yang menjalani skrining mengaku tidak menjawab pertanyaan dengan jujur.

Alasannya memilukan: mereka takut dihakimi atau, yang paling ekstrem, takut kehilangan hak asuh anak. Padahal, membiarkan gejala PMADs tanpa penanganan bisa berdampak panjang bagi ibu dan bayi.

Mengapa Sistem Gagal Mendeteksi?

Dr. Erin O'Connor, salah satu penulis studi, menyebut adanya "pemisahan" historis dalam dunia medis. "Dalam pelatihan spesialisasi medis, fokusnya sering kali terbagi antara 'leher ke bawah' dan 'leher ke atas'. Seorang dokter kandungan mungkin ahli bedah yang terampil, tetapi belum tentu memahami seluk-beluk kebutuhan kesehatan mental," jelasnya.

Selain masalah pelatihan, kendala asuransi dan keterbatasan waktu konsultasi membuat isu mental sering terpinggirkan. Padahal, masa perinatal sangat panjang, mencakup masa kehamilan hingga 18-24 bulan setelah persalinan.

Mengenali Gejala yang Tak Terlihat

Gejala PMADs sering kali halus dan tersembunyi. Bri Rice, seorang doula bersertifikat, mencatat bahwa perilaku seperti melakukan riset berlebihan secara obsesif terhadap setiap gerakan bayi bisa menjadi sinyal adanya pikiran intrusif.

Beberapa tanda bahaya lainnya meliputi:

  • Sleep-Wake Mismatch: Ibu tetap terjaga menatap monitor bayi meski bayi sudah tidur lelap dan kondisi tenang.
  • Perubahan Ekstrim: Ibu yang biasanya tenang tiba-tiba mengalami kemarahan meledak-ledak (rage episodes) atau perubahan nafsu makan yang drastis.
  • Postpartum OCD: Penolakan untuk membiarkan orang lain memegang atau merawat bayi karena rasa cemas berlebih.

Langkah Menuju Pemulihan

Jika Anda merasa ada yang salah, para ahli menyarankan untuk tidak menanggungnya sendiri. "Beban untuk menyadari gejala sering kali jatuh pada orang tua sendiri, dan itu adalah beban yang sangat besar," ujar Dr. Robin Neuhaus.

Berikut langkah yang bisa diambil:

  • Gunakan Alat Skrining: Gunakan skala EPDS untuk depresi/kecemasan atau PASS untuk mendeteksi OCD, lalu bawa hasilnya ke dokter.
  • Jujur pada Orang Kepercayaan: Jika belum siap bicara pada dokter, mulailah bicara pada pasangan, teman, atau doula.
  • Minta Akomodasi Medis: Di dunia kerja, PMADs adalah kondisi medis. Anda berhak meminta penyesuaian jam kerja atau beban tugas tanpa harus membeberkan diagnosis secara mendetail.

Kesehatan mental ibu bukanlah sebuah kemewahan, melainkan fondasi bagi kesejahteraan keluarga. Jangan ragu untuk "mencairkan" bantuan dari orang-orang sekitar demi pemulihan Anda. (Parents/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik