Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

Menteri Abdul Mu'ti Letakkan Batu Pertama di Bireun Untuk Revitalisasi 116 Sekolah Terdampak Bencana

Syarief Oebaidillah
10/3/2026 22:42
Menteri Abdul Mu'ti Letakkan Batu Pertama di Bireun Untuk Revitalisasi 116 Sekolah Terdampak Bencana
Ilustrasi(Dok Istimewa)

MENANDAI dimulainya program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2026 di Kabupaten Bireuen, Aceh,Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, melakukan prosesi peletakan batu pertama di sejumlah sekolah penerima bantuan, yakni UPTD TK Negeri Mujahidin, UPTD SMP Negeri 2 Peudada, dan SMK Kesehatan Muhammadiyah. Langkah ini menjadi bagian dari upaya percepatan pemulihan sarana pendidikan, khususnya di wilayah yang terdampak bencana.

“Hari ini kita akan melakukan peletakan batu pertama pembangunan di TK Negeri Muhajidin yang mendapatkan bantuan revitalisasi untuk tahun 2026. Ini merupakan realisasi dari revitalisasi tahun 2026 yang alhamdulillah sebagian sudah kita tetapkan dan sudah bisa dimulai pembangunannya,” kata Menteri Mu'ti di  Bireuen, Aceh, Selasa (10/3).

Untuk program revitalisasi satuan pendidikan tahun 2026 di Kabupaten Bireuen, tercatat 116 sekolah terdampak bencana telah menandatangani perjanjian kerja sama (PKS) dengan total nilai bantuan mencapai Rp167,4 miliar. Dari jumlah tersebut, 86 sekolah akan dikerjakan secara swakelola oleh sekolah, sementara 30 sekolah lainnya akan dilaksanakan oleh TNI AD.

Mendikdasmen menjelaskan bahwa menu bantuan revitalisasi yang diberikan kepada setiap sekolah tidak sama, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing satuan pendidikan, di antaranya ruang kelas baru, perpustakaan, laboratorium, toilet, ruang administrasi, dan sebagainya.

“Jadi bervariasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing sekolah. Tadi juga kita berikan untuk pengadaan sarana prasarana yang lainnya,” jelasnya.

Ia berharap program revitalisasi ini dapat mempercepat pemulihan pendidikan di wilayah Aceh sehingga kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan dengan lebih baik. “Mudah-mudahan dengan revitalisasi ini, kegiatan pembelajaran dapat berlangsung lebih baik lagi dan juga masyarakat yang terdampak oleh musibah banjir dapat bangkit maju lagi dengan sarana pendidikan yang lebih baik. Mudah-mudahan pembangunan bisa cepat selesai,” pungkasnya.

Kepala UPTD TK Negeri Muhajidin, Mursyidah, mengutarakan  sebelum mendapatkan bantuan revitalisasi, kondisi sekolahnya cukup memprihatinkan, bahkan sebelum bencana banjir melanda. Setelah banjir terjadi, kondisi bangunan semakin memburuk. Ruang kelas di sekolah tersebut termasuk kategori rusak berat dan hampir tidak dapat digunakan sebagai tempat belajar. Dengan jumlah murid mencapai sekitar 120 anak, pihak sekolah harus menyiasati kegiatan belajar dengan menempatkan sekitar 30 anak dalam satu ruang kelas.

Melalui program revitalisasi ini, TK Negeri Muhajidin menerima bantuan  Rp1,032 miliar yang akan digunakan untuk rehabilitasi tiga ruang belajar, rehabilitasi ruang administrasi, pembangunan satu ruang kelas baru, penataan lingkungan sekolah, serta perbaikan sanitasi.

“Alhamdulillah kami sangat senang dan bersyukur mendapat kesempatan menjadi salah satu sekolah yang mendapatkan bantuan revitalisasi. Ini merupakan sesuatu yang kami tunggu-tunggu, terutama ini merupakan tahun terakhir saya bekerja,” ungkap Mursyidah.

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 2 Peudada, Salawati, menyampaikan bahwa sekolahnya juga menjadi salah satu penerima bantuan revitalisasi tahun 2026 dengan nilai Rp3,4 miliar. Bantuan tersebut akan digunakan untuk pembangunan ruang administrasi, rehabilitasi sembilan ruang belajar, pembangunan dua unit toilet, rehabilitasi perpustakaan, serta pembangunan baru ruang UKS guna menunjang kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Siswa kelas IX SMP Negeri 2 Peudada, Heira Umira, juga menceritakan kondisi sekolahnya sebelum mendapatkan bantuan revitalisasi. Menurutnya, beberapa ruang kelas sering mengalami kebocoran dan bahkan tergenang air saat hujan turun. Kondisi tersebut kerap mengganggu proses pembelajaran karena siswa harus berpindah tempat belajar ke musala ketika hujan turun di tengah kegiatan belajar.

Kini ia bersyukur  ketika mengetahui sekolahnya akan segera dibangun kembali melalui program revitalisasi. “Harapannya belajarnya lebih nyaman dan tidak takut bocor dan banjir lagi saat hujan,” tukasnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya