Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
RAMADAN sering kali digaungkan sebagai bulan untuk menahan diri. Namun, realitas di ruang digital justru sering menunjukkan hal sebaliknya. Jempol bergerak lebih cepat, komentar menjadi lebih spontan, dan reaksi muncul bahkan sebelum sebuah informasi selesai dicerna secara utuh.
Fenomena impulsivitas digital ini sebenarnya bukan barang baru. Ramadan hanyalah menjadi "kaca pembesar" yang memperjelas kebiasaan buruk yang sudah terbentuk sebelumnya.
Di tengah ritme hidup yang menuntut respons instan, masyarakat kini seolah terbiasa untuk cepat tahu, cepat berkomentar, dan cepat menilai.
Data Digital 2025 Global Overview Report mencatat bahwa masyarakat Indonesia usia 16 tahun ke atas menghabiskan rata-rata 7 jam 22 menit per hari di internet.
Tingginya durasi ini menciptakan ekosistem di mana dorongan untuk langsung bereaksi terasa sebagai hal yang normal.
Contoh nyata terlihat pada berbagai isu viral, seperti polemik penerima beasiswa LPDP yang dihujat netizen sebelum konteks utuhnya dipahami publik.
Psikolog Klinis Rika Ermasari, S.Psi., Psikolog, ACC, menjelaskan bahwa pola ini bukan sekadar masalah literasi, melainkan terkait kondisi kognitif yang terus berada dalam tekanan stimulus.
“Paparan digital yang intens membuat otak mengalami overstimulasi sehingga rentang perhatian menjadi lebih pendek. Akibatnya, kita lebih mudah terdistraksi dan sulit mempertahankan fokus pada aktivitas yang membutuhkan konsentrasi panjang,” ujar Rika.
Kondisi ini diperparah oleh akumulasi ratusan keputusan kecil setiap hari, seperti memilih untuk scroll, menonton, atau mengabaikan konten, yang memicu decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan.
Saat energi mental menurun, kontrol diri ikut melemah sehingga keputusan lebih mudah didasari emosi dan menjadi impulsif.
Situasi Ramadan memberikan tantangan tambahan. Perubahan jam tidur dan fluktuasi energi saat berpuasa menciptakan kombinasi yang membuat respons digital semakin emosional.
“Ketika kondisi fisik dan emosional berubah, kita cenderung lebih mudah hanyut oleh emosi di media sosial, baik marah, sedih, maupun tergoda promo. Penilaian menjadi lebih bias dan memicu perilaku impulsif,” kata Rika.
Terlebih lagi, platform digital memang dirancang dengan video pendek dan notifikasi mencolok untuk membentuk pola reward instan di otak. Dalam kondisi energi rendah, otak akan mencari kesenangan yang paling mudah didapat, sehingga kemampuan menunda keinginan pun melemah.
Untuk mengatasi hal ini, Rika memperkenalkan konsep Wise Mind dari Dialectical Behavior Therapy (DBT), yaitu kondisi ketika pikiran rasional dan emosi bekerja secara seimbang. Tantangan utamanya adalah kecenderungan bereaksi sebelum Wise Mind sempat bekerja.
Sebagai solusi, masyarakat disarankan membangun ritual jeda yang sederhana namun konsisten, seperti:
Ramadan dapat menjadi momentum latihan yang tepat. Sebab, meski bulan suci ini berlalu, arus digital akan tetap deras dan kemampuan untuk berhenti sejenak adalah kunci utama untuk mempertahankan kendali diri. (Z-1)
BELANJA bulanan bagi ibu rumah tangga terkadang cukup sulit untuk menyesuaikan dengan anggaran yang telah ditetapkan. Sehingga tak jarang ibu belanja bulanan secara impulsif.
Salah satu fenomena yang paling sering muncul dari penggunaan media sosial adalah kecenderungan remaja untuk melakukan perbandingan sosial secara ekstrem.
Laporan Kebahagiaan Dunia terbaru mengungkap dampak negatif algoritma TikTok dan Instagram pada mental pemuda.
Matcha memang kaya akan katekin, terutama epigallocatechin gallate (EGCG) yang bersifat antioksidan.
Cara seseorang mengekspresikan kesedihannya berkaitan erat dengan apa yang dirasa paling menguatkan bagi dirinya sendiri.
Narasi-narasi menyesatkan di media sosial menjadi salah satu pemicu utama keengganan orangtua untuk memberikan vaksinasi kepada anak mereka.
ANGGOTA Komisi VIII DPR RI Atalia Praratya dukung SKB 7 Menteri & Permenkomdigi No 9 Tahun 2026 terkait pembatasan AI instan & medsos bagi anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved