Headline
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PENYAKIT autoimun kronis lupus atau systemic lupus erythematosus (SLE) diduga kuat dipicu infeksi virus yang sangat umum menginfeksi manusia, yakni Epstein-Barr virus (EBV). Temuan ini diungkap para peneliti dari Stanford Medicine dan dipublikasikan dalam jurnal Science Translational Medicine pada 12 November 2025.
Profesor imunologi dan reumatologi Stanford, William Robinson, menyebut penelitian ini sebagai temuan paling berdampak sepanjang kariernya. Ia bahkan meyakini mekanisme tersebut berlaku pada hampir seluruh kasus lupus.
EBV bukanlah virus langka. Diperkirakan 19 dari 20 orang dewasa pernah terinfeksi virus ini. Penularannya terjadi melalui air liur, misalnya saat berbagi alat makan, minum dari gelas yang sama, atau melalui ciuman. Virus ini juga dikenal sebagai penyebab mononukleosis atau “penyakit ciuman”, yang ditandai demam dan kelelahan berkepanjangan.
Uniknya, setelah seseorang terinfeksi, virus ini tidak benar-benar hilang. EBV dapat bersembunyi dalam kondisi laten di dalam sel tubuh, terutama di sel B, yang menjadi salah satu komponen penting sistem kekebalan tubuh.
Sel B berfungsi memproduksi antibodi untuk melawan patogen serta membantu mengaktifkan respons imun lain. Namun, sekitar 20% sel B manusia bersifat autoreaktif, artinya berpotensi mengenali jaringan tubuh sendiri. Dalam kondisi normal, sel-sel ini berada dalam keadaan tidak aktif sehingga tidak menimbulkan masalah.
Masalah muncul ketika sebagian kecil sel B yang terinfeksi EBV menjadi aktif secara tidak wajar. Penelitian menemukan bahwa pada orang sehat, kurang dari 1 dari 10.000 sel B membawa EBV dalam keadaan dorman. Namun, pada pasien lupus, jumlahnya meningkat drastis menjadi sekitar 1 dari 400 sel B.
Virus laten tersebut sesekali memicu produksi protein bernama EBNA2, yang bertindak seperti sakelar genetik. Protein ini mengaktifkan sejumlah gen yang memicu peradangan dan membuat sel B menjadi sangat agresif. Sel B kemudian mengaktifkan sel imun lain, termasuk sel T penolong dan sel T pembunuh, untuk menyerang komponen inti sel.
Akibatnya, terbentuk antibodi antinuklir yang menjadi ciri khas lupus. Kemudian antibodi ini menyerang protein dan DNA dalam inti sel. Karena hampir semua sel tubuh memiliki inti, kerusakan dapat terjadi di berbagai organ, seperti kulit, sendi, ginjal, jantung, hingga sistem saraf.
Meski hampir semua orang terinfeksi EBV, tidak semuanya mengembangkan lupus. Peneliti menduga faktor genetik dan lingkungan turut berperan dalam menentukan siapa yang akhirnya mengalami gangguan autoimun ini.
Data menunjukkan bahwa hampir seluruh pasien lupus memiliki riwayat infeksi EBV, meski sebelumnya hubungan sebab-akibat belum bisa dibuktikan secara jelas. Studi terbaru ini memperkuat dugaan bahwa EBV bukan sekadar faktor risiko, melainkan pemicu utama dalam proses terjadinya lupus.
Saat ini, lupus belum dapat disembuhkan. Pengobatan yang tersedia hanya bertujuan mengendalikan gejala dan memperlambat perkembangan penyakit. Dengan diagnosis dan terapi yang tepat, sebagian besar pasien dapat menjalani kehidupan relatif normal. Namun sekitar 5% kasus bisa berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa.
Temuan ini membuka peluang baru untuk pengembangan terapi yang menargetkan infeksi EBV atau mekanisme aktivasi sel B yang dipicunya. Jika penelitian lanjutan berhasil, pendekatan baru ini berpotensi mengubah cara penanganan lupus di masa depan.
Penelitian dari Stanford ini menjadi tonggak penting dalam memahami bagaimana virus yang sangat umum dan sering kali tidak bergejala dapat memicu penyakit autoimun serius. (Standford Medicine/Z-2)
Penelitian baru dari Stanford University menemukan virus umum pada masa kanak-kanak, Epstein-Barr, dapat memicu lupus.
Penyanyi Halsey mengungkapkan dirinya sempat dilarikan ke rumah sakit akibat kondisi darurat medis ringan setelah konser di Boston.
Simak perjalanan karier Fahmi Bo lewat daftar sinetron populer yang dibintanginya, dari Lupus, Kiamat Sudah Dekat, hingga TOP.
Lupus menjadi inspirasi Selena Gomez saat mendesai kemasan Rare Beauty.
Sebuah studi mengungkapkan lupus menunjukan kecenderungan mereda seiring bertambahnya usia.
Penelitian baru mengungkap rheumatoid arthritis (RA) dimulai bertahun-tahun sebelum nyeri sendi muncul.
Penelitian baru dari Stanford University menemukan virus umum pada masa kanak-kanak, Epstein-Barr, dapat memicu lupus.
Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pencegahan penyakit autoimun menjadi hal yang krusial, mengingat kasusnya terus bertambah di Indonesia.
Penyakit Guillain-Barré Syndrome (GBS) kini sedang mengancam anak-anak Gaza. GBS sendiri adalah penyakit autoimun, artinya sistem kekebalan tubuh menyerang saraf perifer.
Gejalanya bisa muncul sebagai kesulitan berbicara, menelan, kelopak mata turun, atau kelemahan otot tubuh bagian atas.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved