Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Studi Ungkap Virus Epstein-Barr Jadi Pemicu Penyakit Lupus

Thalatie K Yani
13/11/2025 09:12
Studi Ungkap Virus Epstein-Barr Jadi Pemicu Penyakit Lupus
Ilustrasi(freepik)

PENELITIAN terbaru menemukan virus umum pada masa kanak-kanak, Epstein-Barr virus (EBV), dapat menjadi pemicu utama penyakit autoimun lupus. Temuan ini disebut sebagai terobosan besar dalam memahami penyebab penyakit tersebut dan berpotensi mengubah cara pengobatannya di masa depan.

“Kami yakin temuan ini berlaku untuk 100% kasus lupus,” ujar Prof William Robinson, ahli imunologi dan reumatologi dari Stanford University sekaligus penulis utama studi tersebut. “Ini membuka jalan bagi generasi terapi baru yang secara mendasar dapat mengobati dan memberikan manfaat nyata bagi pasien lupus.”

Lupus merupakan penyakit autoimun kronis yang membuat sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh sendiri. Kondisi ini menyebabkan nyeri sendi dan otot, kelelahan ekstrem, serta ruam kulit. Di Inggris, sekitar 69.000 orang diketahui mengidap lupus. Hingga kini, penyebab pasti penyakit ini belum diketahui dan belum ada obat yang mampu menyembuhkannya.

Sebelumnya, sejumlah studi epidemiologis menunjukkan adanya kaitan antara EBV dan lupus. Hubungan ini semakin diperkuat setelah ditemukannya bukti virus tersebut juga terlibat dalam timbulnya multiple sclerosis, penyakit autoimun lain. Penelitian terbaru ini menjelaskan secara rinci bagaimana EBV dapat memicu lupus dengan membuat sistem kekebalan tubuh kehilangan kendali.

“Studi ini menyelesaikan misteri yang telah lama membingungkan dunia medis,” kata Shady Younis, ahli imunologi Stanford dan penulis pertama laporan tersebut.

EBV umumnya menyebabkan penyakit ringan seperti sakit tenggorokan dan demam. Hampir 95% orang dewasa di dunia telah terinfeksi virus ini tanpa gejala serius. Virus tersebut menetap secara laten di dalam sel-sel tubuh, terutama pada sel B , bagian dari sistem kekebalan yang bertugas mengenali dan menetralkan virus.

Namun, penelitian ini menemukan pada pasien lupus, EBV cenderung menginfeksi lebih banyak sel B dan membuatnya menjadi hiperaktif. Akibatnya, sel-sel tersebut tidak hanya menyerang virus, tetapi juga jaringan tubuh sendiri serta memicu sel kekebalan lain seperti sel T untuk ikut menyerang.

“Kami percaya inilah temuan penting. EBV mengaktifkan sel B tersebut dan memicu respons autoimun yang menyebabkan lupus,” jelas Robinson.

Selain infeksi virus, faktor lain seperti hormon estrogen dan latar belakang genetik juga dapat meningkatkan risiko lupus, terutama pada perempuan serta individu keturunan Afrika, Karibia, dan Asia.

Prof Guy Gorochov dari Sorbonne University menilai hasil penelitian ini “sangat mengesankan”. “Ini bukan penelitian terakhir tentang lupus, tetapi mereka telah melakukan banyak hal dan mengembangkan konsep yang menarik,” ujarnya.

Jika hasil ini dikonfirmasi melalui penelitian lanjutan, temuan tersebut dapat mempercepat pengembangan vaksin EBV yang saat ini sudah memasuki tahap uji klinis. Selain itu, para ilmuwan juga tengah mengeksplorasi penggunaan ulang terapi kanker berbasis penghancuran sel B untuk menangani kasus lupus berat. (The Guardian/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya