Headline

DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.

Memahami Tauhid melalui Al-Wahid dan Perbedaan dengan Al-Ahad

Media Indonesia
19/2/2026 18:10
Memahami Tauhid melalui Al-Wahid dan Perbedaan dengan Al-Ahad
tulisan arab Al-Wahid.(Youtube hasanalbasri29)

ASMAUL Husna Al-Wahid merupakan pondasi utama dalam ajaran tauhid Islam. Nama ini menegaskan bahwa Allah SWT adalah Zat yang Maha Tunggal, tidak berbilang, dan tidak memiliki sekutu dalam bentuk apa pun. Memahami Al-Wahid membantu seorang Muslim untuk memurnikan ibadahnya hanya kepada Sang Pencipta.

Pernahkah Anda merasa cemas akan masa depan atau merasa terlalu bergantung pada bantuan orang lain hingga kecewa? Dalam Islam, mengenal Allah melalui nama-nama-Nya yang indah (Asmaul Husna) bukan sekadar hafalan, melainkan obat bagi jiwa. Salah satu nama yang fundamental adalah Al-Wahid (الواحد).

Memahami Al-Wahid berarti mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya sumber kekuatan, tempat bergantung, dan tujuan akhir. Artikel ini akan mengupas tuntas makna, dalil, perbedaan dengan Al-Ahad, hingga amalan praktisnya.

Makna Al-Wahid dalam Asmaul Husna

Secara bahasa, Al-Wahid berasal dari kata Wahada yang berarti satu, tunggal, atau esa. Dalam konteks ketuhanan, Al-Wahid bermakna Allah adalah Zat yang Maha Tunggal dalam zat-Nya, sifat-Nya, dan perbuatan-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada yang setara dengan-Nya, dan Dia tidak terdiri dari bagian-bagian.

Dalil mengenai Al-Wahid tersebar luas dalam Al-Qur'an, salah satunya dalam Surah Al-Baqarah ayat 163:

*"Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa (Ilaahun Waahid); tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang."*

Makna Mendalam Al-Wahid

Al-Wahid (الواحد) secara harfiah berarti Yang Satu atau Maha Tunggal. Dalam perspektif akidah, Al-Wahid mengandung tiga dimensi utama:

  • Esa dalam Zat: Allah tidak terdiri dari bagian-bagian atau unsur-unsur.
  • Esa dalam Sifat: Tidak ada makhluk yang memiliki sifat yang sesempurna sifat Allah.
  • Esa dalam Perbuatan: Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta adalah atas kehendak-Nya semata, tanpa bantuan pihak lain.

Perbedaan Al-Wahid dan Al-Ahad

Banyak umat Muslim yang bingung membedakan antara Al-Wahid dan Al-Ahad. Meskipun sering dianggap sama, terdapat perbedaan halus tetapi penting antara kedua nama ini. Meski keduanya diterjemahkan sebagai Maha Esa, para ulama memberikan rincian berikut:

1. Al-Wahid: Menekankan pada keesaan Allah yang tidak memiliki sekutu atau tandingan. Secara bahasa, Wahid bisa diikuti oleh angka dua, tiga, dan seterusnya. Namun dalam konteks Allah, ini menegaskan bahwa Dia adalah Yang Pertama tanpa ada yang kedua.

2. Al-Ahad: Menekankan pada keesaan yang mutlak dan tidak bisa dibagi. Al-Ahad tidak bisa diikuti oleh angka lain. Ini menunjukkan bahwa Allah itu Unik, tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya dalam hal apa pun (Surah Al-Ikhlas).

Baca juga: Memahami Asmaul Husna Al-Qayyum Akar Kemandirian dan Kekuasaan Allah

Aspek Al-Wahid Al-Ahad
Konteks Bilangan Menafikan adanya sekutu (Tuhan yang kedua). Menafikan adanya bagian atau komposisi.
Penggunaan Bahasa Bisa digunakan dalam kalimat positif (Itsbat). Sering digunakan untuk penafian mutlak (Nafyu).

Manfaat Zikir Ya Wahid

Mengamalkan zikir dengan menyebut Ya Wahid secara rutin diyakini memberikan berbagai fadhilah bagi spiritualitas seorang hamba:

1. Mengatasi Kecemasan: Membantu menenangkan pikiran dari ketakutan terhadap makhluk dan masa depan.

2. Kekuatan Tauhid: Mempertebal keyakinan bahwa hanya Allah tempat meminta pertolongan.

3. Keikhlasan Amal: Menghindarkan diri dari sifat riya (pamer) karena menyadari hanya Allah yang berhak disembah.

4. Menumbuhkan Kedamaian Keluarga: Zikir ini juga sering diamalkan untuk menjaga keharmonisan dan kedekatan antaranggota keluarga.

Baca juga: Asmaul Husna Al-Mumit Makna, Dalil Al-Quran, Implementasi dalam Kehidupan

Implementasi dalam Kehidupan

Meneladani Al-Wahid dalam keseharian dapat dilakukan melalui beberapa langkah praktis:

  1. Integritas Diri: Memiliki prinsip hidup yang teguh dan tidak mudah goyah oleh pengaruh buruk lingkungan.
  2. Kemandirian Spiritual: Berusaha maksimal (ikhtiar) tetapi tetap tawakal sepenuhnya kepada Allah sebagai satu-satunya penentu hasil.
  3. Menjaga Ukhuwah: Menyadari bahwa karena Tuhan kita satu, kita harus menjaga persatuan di antara sesama manusia.

Baca juga: Rahasia Keluarga Sakinah di Balik Teguran Allah dalam Surat At-Tahrim

Amalan Al-Wahid

  • Membaca zikir Ya Wahid minimal 100x setiap selesai salat fardu untuk ketenangan hati.
  • Mengevaluasi niat sebelum bertindak, "Apakah ini untuk Allah atau untuk pujian orang?"
  • Berdoa dengan menyebut nama Al-Wahid saat merasa terhimpit masalah pelik.

Kesimpulan

Al-Wahid mengajarkan kita tentang kemandirian dan kebebasan sejati. Dengan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan, kita tidak lagi diperbudak oleh keinginan untuk menyenangkan semua orang atau takut pada kekuatan duniawi yang fana.

Baca juga: Urutan 30 Surat Juz Amma Lengkap Arab, Latin, dan Arti

PENAFIAN

Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya