Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Asmaul Husna Al-Mumit: Makna, Dalil Al-Qur'an, Implementasi dalam Kehidupan

Media Indonesia
16/2/2026 22:18
Asmaul Husna Al-Mumit: Makna, Dalil Al-Qur'an, Implementasi dalam Kehidupan
Ilustrasi.(Freepik)

DALAM deretan 99 Asmaul Husna, nama Al-Mumit sering kali dipandang dengan rasa gentar. Sebagai salah satu nama Allah SWT yang agung, Al-Mumit secara harfiah berarti Yang Maha Mematikan. Namun, memahami Al-Mumit tidak seharusnya hanya melahirkan ketakutan, melainkan kesadaran mendalam tentang hakikat kehidupan dan kebesaran Sang Pencipta.

Sifat ini merupakan pasangan dari Al-Muhyi (Yang Maha Menghidupkan). Keduanya menunjukkan kekuasaan mutlak Allah atas siklus eksistensi setiap makhluk di alam semesta. Tanpa adanya sifat mematikan, keseimbangan kehidupan tidak akan pernah tercapai.

Apa Arti Al-Mumit dalam Asmaul Husna?

Al-Mumit berasal dari akar kata amata yang berarti mematikan. Dalam konteks ketuhanan, Al-Mumit adalah Zat yang mencabut nyawa dari setiap makhluk yang bernyawa. Tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini, baik itu teknologi medis tercanggih maupun kekuatan sihir, yang dapat menunda atau mempercepat apa yang telah ditetapkan oleh Al-Mumit.

Secara teologis, Al-Mumit menegaskan bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan transisi yang diciptakan oleh Allah. Kematian adalah pintu gerbang menuju kehidupan yang lebih kekal. Dengan memahami sifat ini, seorang mukmin diajak untuk melihat dunia sebagai tempat persinggahan sementara (darul fana).

Dalil Al-Qur'an tentang Sifat Al-Mumit

Keberadaan sifat Allah sebagai Yang Maha Mematikan disebutkan dalam berbagai ayat Al-Qur'an. Hal ini menjadi pengingat bagi manusia agar tidak sombong atas kehidupan yang mereka miliki saat ini.

Surah Al-Baqarah Ayat 28

"Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan."

Surah Al-A'raf Ayat 158

"Katakanlah (Muhammad), Wahai manusia! Sesungguhnya aku utusan Allah bagi kamu semua, Yang memiliki kerajaan langit dan bumi; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan."

Poin Kunci: Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa otoritas hidup dan mati berada sepenuhnya di tangan Allah SWT. Manusia tidak memiliki andil sedikit pun dalam menentukan kapan detak jantungnya akan berhenti.

Hikmah dan Implementasi Sifat Al-Mumit dalam Kehidupan

Mengimani Al-Mumit bukan berarti kita harus terus-menerus meratapi kematian. Sebaliknya, ada pelajaran praktis yang bisa diambil untuk memperbaiki kualitas hidup:

1. Mengikis Sifat Sombong dan Egoisme

Kesadaran bahwa kita akan mati (diterjang sifat Al-Mumit) seharusnya membuat manusia sadar bahwa harta, jabatan, dan kecantikan adalah titipan sementara. Hal ini akan melahirkan sikap rendah hati (tawadhu).

Baca juga: Asmaul Husna Al-Muid Arti, Dalil, dan Cara Mengamalkannya

2. Mematikan Hawa Nafsu yang Buruk

Secara maknawi, implementasi Al-Mumit dalam diri adalah upaya untuk mematikan sifat-sifat tercela seperti iri, dengki, sombong, dan kikir. Sebelum kematian fisik menjemput, kita diajak untuk mematikan ego yang menghalangi kedekatan dengan Tuhan.

3. Mempersiapkan Bekal Terbaik

Orang yang memahami Al-Mumit akan menjadi pribadi yang visioner. Ia tidak hanya memikirkan hari esok di dunia, tetapi juga hari esok setelah kematian. Hal ini mendorong seseorang untuk lebih rajin beribadah dan berbuat baik kepada sesama.

4. Memberikan Ketenangan dalam Menghadapi Musibah

Memahami bahwa Allah adalah Al-Mumit membantu kita untuk ikhlas saat kehilangan orang yang dicintai. Kita menyadari bahwa mereka bukan hilang, melainkan kembali kepada Zat yang memegang otoritas atas kematian.

Baca juga: Asmaul Husna Al-Mubdi Allah Maha Memulai Segala Sesuatu dari Ketiadaan

People Also Ask: Pertanyaan Umum tentang Al-Mumit

Apakah Al-Mumit sama dengan Malaikat Maut?

Berbeda. Al-Mumit adalah sifat Allah yang menetapkan kematian, sedangkan Malaikat Maut (Izrail) adalah pelaksana tugas yang menjalankan perintah-Nya. Kekuatan untuk mematikan tetap berada pada Allah semata.

Mengapa Allah menciptakan kematian (Al-Mumit)?

Dalam Surah Al-Mulk ayat 2 disebutkan bahwa Allah menciptakan mati dan hidup untuk menguji siapa di antara manusia yang paling baik amalnya. Tanpa kematian, nilai dari sebuah perjuangan dan kebaikan di dunia tidak akan memiliki makna kompetisi spiritual.

Baca juga: Asmaul Husna Al-Hamid Makna, Dalil, dan Implementasi dalam Kehidupan

Checklist Persiapan Menghadapi Sifat Al-Mumit

  • Melakukan pertobatan (taubat nasuha) setiap hari sebelum tidur.
  • Menyelesaikan urusan utang piutang dan hak sesama manusia.
  • Memperbanyak amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.
  • Menjaga lisan dari menyakiti orang lain.
  • Melatih hati untuk ikhlas (ridha) atas segala ketetapan Allah.

Baca juga:Bacaan Asmaul Husna Lengkap 99 Nama Allah Arab dan Artinya

Kematian adalah kepastian. Namun bagaimana kita mengisi waktu sebelum saat itu tiba adalah pilihan. Dengan mengenal Al-Mumit, kita belajar untuk hidup lebih bermakna dan mati dalam keadaan husnul khatimah.

PENAFIAN

Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik