Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
INFEKSI bakteri Helicobacter pylori (H. pylori) yang berkoloni di lambung kini dapat dideteksi lebih dini melalui metode noninvasif yang praktis dan akurat.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastroenterohepatologi, dr. David Reinhard Sumantri Samosir, mengungkapkan bahwa Urea Breath Test (UBT) menjadi solusi utama dalam mendeteksi keberadaan bakteri pemicu kanker ini.
Dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu (14/2), David menjelaskan bahwa UBT memiliki keunggulan dibandingkan metode pemeriksaan lainnya.
“UBT menjadi pilihan utama dari berbagai pemeriksaan non-invasif untuk mendeteksi infeksi H. pylori dengan tingkat sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi,” ujarnya.
Selain untuk deteksi awal pada pasien dengan keluhan lambung, UBT juga memegang peranan vital dalam mengevaluasi keberhasilan terapi eradikasi serta memantau risiko terjadinya kekambuhan infeksi. Pemeriksaan ini menjadi alternatif selain prosedur invasif seperti endoskopi dan biopsi lambung.
Bakteri H. pylori dikenal berbahaya karena kemampuannya memproduksi enzim urease yang merusak mukosa lambung. Infeksi yang dibiarkan dapat memicu berbagai keluhan medis, mulai dari dispepsia dan gastritis hingga kondisi fatal seperti limfoma MALT (Mucosa-Associated Lymphoid Tissue lymphoma) dan kanker lambung.
International Agency for Research on Cancer bahkan telah mengklasifikasikan H. pylori sebagai bakteri karsinogenik kelas I.
David juga memaparkan temuan terbaru yang menunjukkan kaitan infeksi ini dengan kesehatan usus besar.
“Deteksi dan pengobatan dini sangat penting karena bisa membantu mencegah polip usus besar pada orang dewasa,” tambahnya.
Pentingnya deteksi dini juga ditekankan oleh Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Digestif, dr. Mudatsir, M. Ked(Surg), SpB, Subsp. BD(K), FINACS.
Menurutnya, penanganan kanker saluran cerna bersifat sangat individual dan bergantung pada stadium penyakit.
“Pada kasus tertentu, dokter akan menentukan strategi terapi berdasarkan kondisi pasien, ukuran tumor, serta luas penyebarannya, apakah hanya ada tumor primer atau sudah terjadi penyebaran ke organ lain (metastasis),” jelas Mudatsir.
Ia menambahkan bahwa operasi kuratif masih sangat mungkin dilakukan selama penyebaran belum meluas, guna menurunkan risiko kekambuhan.
Untuk melengkapi skrining, masyarakat juga dapat memanfaatkan pemeriksaan darah samar pada feses (fecal occult blood test) dan penanda tumor CEA guna mendeteksi kanker kolon.
Jika ditemukan kecurigaan keganasan, prosedur kolonoskopi dapat dilakukan agar penanganan menjadi lebih cepat dan tepat. (Ant/Z-1)
Urea Breath Test (UBT) adalah metode non-invasif paling akurat untuk deteksi dini bakteri H. pylori penyebab kanker lambung. Simak prosedur & persiapannya.
UREA breath test (UBT) atau tes napas urea merupakan pemeriksaan terkini untuk mendiagnosis kanker lambung (peptic ulcer) yang disebabkan oleh infeksi Helicobacter pylori (H. pylori).
Kanker lambung sering terlambat terdeteksi. Urea Breath Test dapat membantu menemukan infeksi H. pylori, faktor risiko utama kanker lambung, melalui tes napas non-invasif yang akurat.
Negara maju mulai melihat penurunan kasus, sementara negara berkembang masih menghadapi angka kematian yang tinggi.
Salah satu pendekatan yang kini makin banyak digunakan di dunia medis adalah teknologi nuklir modern melalui metode pemindaian seperti PET scan.
Penelitian terbaru ungkap makanan ultra proses dapat meningkatkan risiko kematian penyintas kanker hingga 57%. Ini penjelasan dan solusinya.
Pola genetik kanker pada kucing memiliki kemiripan yang signifikan dengan kanker pada manusia, membuka peluang bagi pengembangan terapi masa depan yang lebih efektif.
Pemicu utama kanker pada anak bukanlah faktor eksternal, melainkan gangguan pada proses perkembangan sel.
Area leher, yang memiliki kulit cenderung tipis dan merupakan lokasi kelenjar tiroid, dinilai rentan terhadap paparan bahan kimia dalam parfum yang berpotensi mengganggu sistem hormon.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved