Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Membaca dan Belajar Bahasa Kurangi Risiko Demensia Hingga 40 Persen

Thalatie K Yani
12/2/2026 10:30
Membaca dan Belajar Bahasa Kurangi Risiko Demensia Hingga 40 Persen
Ilustrasi(freepik)

KABAR baik bagi Anda yang hobi membaca, menulis, atau sedang mempelajari bahasa baru. Sebuah studi terbaru mengungkapkan aktivitas intelektual yang dilakukan secara konsisten sepanjang hidup dapat menurunkan risiko demensia hingga hampir 40%.

Penelitian yang dilakukan para ahli dari Rush University Medical Center di Chicago ini memberikan harapan baru bagi jutaan orang di tengah ancaman demensia yang diperkirakan akan meningkat tiga kali lipat secara global pada tahun 2050.

Kunci Kesehatan Otak di Masa Tua

Penulis studi, Andrea Zammit, menjelaskan kesehatan kognitif di masa tua sangat dipengaruhi paparan lingkungan yang menstimulasi otak sejak dini hingga lanjut usia.

"Temuan kami sangat membesarkan hati, menunjukkan terlibat secara konsisten dalam berbagai aktivitas yang menstimulasi mental sepanjang hidup dapat memberikan perbedaan pada kemampuan kognitif," ujar Zammit.

Ia juga menekankan pentingnya investasi publik dalam memperluas akses ke lingkungan yang memperkaya intelektual, seperti perpustakaan dan program pendidikan usia dini.

Melacak Pola Hidup Ribuan Partisipan

Peneliti memantau 1.939 partisipan dengan usia rata-rata 80 tahun yang awalnya tidak menderita demensia. Selama rata-rata delapan tahun pengamatan, peneliti membagi stimulasi intelektual ke dalam tiga tahap kehidupan:

  • Masa Muda (di bawah 18 tahun): Frekuensi dibacakan buku, akses ke surat kabar, dan belajar bahasa asing lebih dari lima tahun.
  • Masa Dewasa: Sumber daya rumah tangga seperti langganan majalah, penggunaan kamus, kartu perpustakaan, hingga kunjungan ke museum.
  • Masa Lansia: Frekuensi membaca, menulis, serta bermain gim atau permainan asah otak.

Hasilnya, setelah menyesuaikan faktor usia, jenis kelamin, dan pendidikan, mereka yang berada di kelompok stimulasi tertinggi memiliki risiko terkena Alzheimer 38% lebih rendah dan risiko gangguan kognitif ringan (MCI) 36% lebih rendah dibandingkan kelompok terendah.

Menunda Gejala Hingga 7 Tahun

Selain menurunkan risiko, aktivitas mental ini terbukti mampu menunda munculnya penyakit secara signifikan. Kelompok dengan stimulasi intelektual tertinggi rata-rata baru menunjukkan gejala Alzheimer pada usia 94 tahun, berbanding 88 tahun pada kelompok terendah, sebuah penundaan selama lebih dari lima tahun. Untuk gangguan kognitif ringan (MCI), penundaan bahkan mencapai tujuh tahun.

Dr. Isolde Radford dari Alzheimer’s Research UK, yang tidak terlibat dalam studi ini, menegaskan temuan ini membuktikan demensia bukanlah bagian yang tak terelakkan dari penuaan.

"Penelitian baru ini menunjukkan bahwa tetap aktif secara mental sepanjang hidup dapat memangkas risiko penyakit Alzheimer hingga hampir 40%," katanya. "Ini mendukung apa yang sudah kita ketahui tentang langkah-langkah pencegahan yang dapat diambil orang untuk mengurangi risiko terkena demensia."

Studi yang diterbitkan dalam jurnal medis Neurology ini kembali mempertegas pepatah "gunakan atau hilang" (use it or lose it) dalam menjaga ketajaman fungsi otak manusia. (The Guardian/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya