Headline
Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.
Kumpulan Berita DPR RI
PROGRAM gentingisasi yang diujarkan Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Kerja Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 menuai beragam tanggapan dari kalangan akademisi. Salah satunya dosen Departemen Teknik Sipil dan Llingkungan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Dr. Ashar Saputra.
Dalam menilai penggunaan material atap bangunan, terutama genting dan seng, Ashar mengungkap sekurangnya ada tiga hal yang harus menjadi pertimbangan. "Aspek teknis, sosial budaya, dan keberlanjutan," katanya.
Menurut dia, ketiga aspek tersebut, kata dia, tidak bisa dipisahkan dalam perencanaan kebijakan pembangunan. "Saya tidak langsung mengomentari program gentingisasi itu sendiri, tetapi melihatnya dari tiga pendekatan tersebut. Setiap material pada atap memiliki konsekuensi yang berbeda," ujar Ashar, Kamis (5/2).
Pada aspek teknis, Ashar menjelaskan bahwa genting dan seng memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari sisi kinerja maupun sifat fisiknya. Seng berbentuk lembaran sehingga dapat digunakan pada atap dengan kemiringan rendah, bahkan hingga sekitar 5 persen, tanpa risiko kebocoran.
Sedangkan genting memerlukan kemiringan atap tertentu agar dapat berfungsi dengan aman. "Genting umumnya baru aman digunakan pada kemiringan lebih dari 30 persen. Hal ini sebenarnya sudah menunjukkan ada perbedaan teknis yang cukup mendasar," jelasnya.
Hal lain, berat material juga menjadi faktor penting yang harus dikalkulasikan. Genting tanah liat, genting keramik, maupun genting beton umumnya memiliki bobot lebih berat dibandingkan seng.
Konsekuensinya, struktur atap dan bangunan harus dirancang lebih kuat. "Kalau bebannya besar, struktur harus mampu menahan. Saat terjadi gempa, massa yang besar juga meningkatkan risiko jika struktur tidak direncanakan dengan baik," katanya.
Namun seng yang relatif ringan juga memiliki risiko tersendiri, terutama ketika terjadi angin kencang. Oleh karena itu, Ashar menekankan tidak ada material yang sepenuhnya tanpa risiko, karena masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.
Aspek teknis lain yang patut dipertimbangkan yaitu kemampuan material dalam merespons panas. Genting yang berat cenderung lebih baik dalam meredam panas sehingga suhu di dalam bangunan terasa lebih sejuk.
Namun, kondisi tersebut tidak selalu ideal untuk semua wilayah. "Di daerah pegunungan yang dingin, justru dibutuhkan rumah yang bisa memanen panas matahari agar bagian dalamnya hangat. Di situ, penggunaan seng bisa menjadi pilihan yang lebih sesuai," ujarnya.
Aspek lain yaitu sosial budaya juga tidak bisa diabaikan. Indonesia memiliki keragaman suku, budaya, serta kepercayaan yang memengaruhi bentuk dan material bangunan rumah.
Ia mencontohkan bahwa di beberapa wilayah di Indonesia, masih terdapat kepercayaan bahwa orang yang masih hidup tidak boleh tinggal di bawah material yang berasal dari tanah. Kepercayaan semacam ini membuat masyarakat setempat memilih material atap selain genting tanah.
"Itu bukan soal teknis atau estetika, tetapi soal keyakinan sosial budaya. Hal seperti ini tidak bisa diabaikan atau diseragamkan," jelasnya.
Desain rumah adat juga menjadi pertimbangan penting. Beberapa rumah tradisional, seperti Rumah Gadang di Sumatra Barat, Tongkonan di Toraja, atau rumah adat di Nias dan Papua, memiliki karakteristik tersendiri dalam bentuk atapnya.
Secara historis, bentuk tersebut memungkinkan penggunaan material seperti ijuk atau sirap yang lentur dan mudah dibentuk. “Jika menggunakan genteng yang berat dan kaku, itu akan menjadi tantangan tersendiri dan berpotensi menghilangkan karakter asli bangunan tradisional," kata Ashar.
Sorotan lain ialah berkelanjutan atau sustainability. Dalam ilmu material bangunan, pemilihan material sudah seharusnya mempertimbangkan energi yang dibutuhkan sejak proses produksi hingga penggunaannya.
"Harus dihitung berapa energi yang diperlukan dan emisi yang dihasilkan untuk membuat suatu material. Belum tentu penggunaan genteng selalu lebih hemat energi dibandingkan seng, atau sebaliknya," ujarnya.
Karena itu, perlu kejelasan mengenai tujuan utama dari kebijakan tersebut, apakah menitikberatkan pada bentuk atap, jenis material, atau aspek estetika secara umum. Saat ini, menurutnya, sudah tersedia berbagai material berbasis metal yang memiliki bentuk menyerupai genting dan tampilan yang lebih rapi. "Kalau yang dikejar estetika, sebenarnya ada banyak alternatif material. Pertanyaannya, yang diinginkan itu materialnya, bentuknya, atau tampilan arsitekturnya," katanya.
Menutup penjelasannya, Ashar menekankan bahwa kebijakan terkait material bangunan sebaiknya tidak diterapkan secara bersamaan di seluruh wilayah Indonesia. Dengan kondisi geografis, budaya, dan kemampuan ekonomi masyarakat yang beragam, pendekatan yang fleksibel dinilai lebih tepat.
"Indonesia itu beragam. Kalau semua dipaksa mengikuti satu pilihan, itu kurang sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Masyarakat seharusnya ditempatkan sebagai subjek, bukan sekadar objek pembangunan," katanya. (I-2)
DI balik dinamika politik nasional, hubungan personal antara Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan Presiden Prabowo Subianto tetap hangat.
Karier Juda di BI dimulai sebagai Staf Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter, termasuk penugasan di Kantor Perwakilan BI London (1992–1999).
Presiden Prabowo dijadwalkan menggelar reshuffle atau perombakan kabinet Merah Putih sore hari ini, Kamis (5/2).
Presiden Prabowo akan menyaksikan pengambilan sumpah Adies Kadir sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) di Istana Negara
PRESIDEN Prabowo Subianto dinilai mengambil sikap realistis terkait beegabungnya Indonesia dalam Board of Peace (BOP). Itu disampaikan Wamenlu Dino Patti Djalal
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved