Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Penyumbatan Aliran Darah ke Otak jadi Penyebab Strok Iskemik

M Iqbal Al Machmudi
24/12/2025 13:12
Penyumbatan Aliran Darah ke Otak jadi Penyebab Strok Iskemik
Ilustrasi strok iskemik.(Dok. Freepik)

STROK masih menjadi penyebab kematian kedua di dunia dan salah satu penyakit yang paling banyak menyebabkan kecacatan jangka panjang. Dilansir dari laman Universitas Airlangga (Unair), strok iskemik merupakan kondisi ketika aliran darah ke area tertentu di otak terhenti akibat penyumbatan pembuluh darah. Ketika hal itu terjadi, sel otak akan kekurangan oksigen dan mati dalam hitungan menit. Karena itu, penanganan cepat menjadi kunci keselamatan pasien.

Untuk memahami lebih jauh bagaimana kerusakan otak terjadi pada strok iskemik, peneliti dari berbagai institusi di Indonesia melakukan studi eksperimental pada tikus. Dalam penelitian tersebut, mereka membuat hewan model strok dengan menyumbat pembuluh darah karotis komunis kiri (left CCA) pada tikus selama 60 dan 180 menit.

Setelah itu, peneliti menilai fungsi motorik serta perubahan yang terjadi pada sel-sel otak dan biomarker tertentu yang berhubungan dengan kerusakan otak. Tim peneliti menilai tiga indikator utama yaitu motorik, neuron, dan biomarker otak dalam daah.

Motorik merupakan kemampuan gerak dinilai memakai ladder rung walking test dengan sistem penilaian kesalahan kaki dalam melangkah dan akurasi penempatan kaki. Tikus yang mengalami strok menunjukkan lebih banyak kesalahan saat melangkah, terutama setelah 180 menit oklusi, yang berarti terjadi gangguan koordinasi gerak.

Neuron yakni pewarnaan jaringan otak memperlihatkan penurunan jumlah dan distribusi neuron pada tikus yang mengalami strok, dan yang paling parah pada kelompok 180 menit. Ini menegaskan bahwa semakin lama aliran darah terhenti, semakin banyak sel otak yang mati.

Biomarker otak dalam darah yaitu MMP-9 menandakan peradangan saraf, S100B menunjukkan kerusakan sel glia/astrocyte, dan GFAP menjadi indikator perubahan struktural dan aktivasi sel astroglia.

Ketiganya meningkat paling tinggi pada kelompok 180 menit. Hal ini menunjukkan kerusakan sawar darah otak, sehingga protein dari otak bocor ke dalam peredaran darah.

Selama ini, diagnosis strok sangat bergantung pada CT scan atau MRI yang tidak selalu tersedia, terutama di daerah terpencil. Penelitian ini menunjukkan bahwa suatu saat nanti, uji darah bisa membantu mengenali strok lebih cepat dan lebih mudah. Namun, tentu masih diperlukan penelitian lanjutan pada manusia sebelum bisa diterapkan di rumah sakit.
(H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik