Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Kemenkes: ISPA, Penyakit Kulit, dan Diare Dominasi Penyakit Pascabanjir di Sumatra

Ficky Ramadhan
15/12/2025 14:05
Kemenkes: ISPA, Penyakit Kulit, dan Diare Dominasi Penyakit Pascabanjir di Sumatra
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman.(Dok. Antara)

KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) mencatat meningkatnya kasus sejumlah penyakit pascabencana banjir dan tanah longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Berdasarkan data Kemenkes, penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit kulit, dan diare menjadi tiga jenis penyakit terbanyak yang dialami masyarakat terdampak bencana banjir Sumatra.

Di Provinsi Aceh, data periode pengumpulan 25 November–12 Desember 2025 menunjukkan ISPA menjadi penyakit dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 5.701 kasus, disusul penyakit kulit sebanyak 4.885 kasus. Selanjutnya tercatat diare sebanyak 875 kasus, influenza-like illness (ILI) 765 kasus, serta demam 217 kasus. Sementara itu, laporan suspek penyakit menular lainnya seperti campak, dengue, dan pertusis ditemukan dalam jumlah terbatas.

Sementara di Provinsi Sumatra Utara, periode data yang sama mencatat penyakit kulit sebagai kasus terbanyak dengan 8.675 kasus, diikuti ISPA sebanyak 7.682 kasus. Diare tercatat 1.474 kasus, ILI 890 kasus, dan suspek demam tifoid sebanyak 600 kasus. Adapun suspek dengue dan campak hanya dilaporkan dalam jumlah sangat kecil.

Adapun di Provinsi Sumatra Barat, berdasarkan periode pengumpulan data 25 November–11 Desember 2025, ISPA kembali menjadi penyakit terbanyak dengan 1.239 kasus. Selanjutnya hipertensi tercatat 655 kasus, demam 463 kasus, flu 310 kasus, gangguan gastrointestinal 268 kasus, serta gangguan kesehatan lainnya seperti gangguan pegal-pegal, rematik, radang lambung, dan sakit kepala.

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai upaya pencegahan dan penanganan penyakit menular di wilayah terdampak bencana.

Langkah yang dilakukan meliputi pengendalian penyakit dengan melakukan fogging di lokasi yang mengalami lonjakan vektor demam berdarah dengue (DBD) serta disinfeksi di sejumlah lokasi berisiko.

"Selain itu, Kemenkes juga mengintensifkan layanan kesehatan lingkungan (kesling) melalui monitoring tempat penampungan air, kondisi sanitasi, serta drainase di lokasi pengungsian," kata Aji saat dihubungi, Senin (15/12).

"Distribusi obat-obatan untuk penyakit yang umum terjadi, masker, larvasida, dan hygiene kit turut disalurkan ke pengungsian dan pos kesehatan," sambungnya.

Untuk menjamin ketersediaan air bersih, Kemenkes menyediakan paket water purifier di wilayah terdampak. Di sisi promotif dan preventif, edukasi serta promosi kesehatan terus dilakukan guna mendorong masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di tengah situasi pascabencana.

Aji menegaskan bahwa upaya tersebut merupakan bagian dari langkah terpadu pemerintah dalam mencegah meluasnya penyakit pascabencana.

"Bencana banjir dan longsor berpotensi meningkatkan risiko penularan penyakit, terutama di lokasi pengungsian. Karena itu, Kementerian Kesehatan berfokus pada pengendalian faktor risiko, pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan, serta penguatan edukasi kepada masyarakat agar dampak kesehatan dapat ditekan semaksimal mungkin," ujarnya.

Ia menambahkan, Kemenkes juga terus berkoordinasi dengan dinas kesehatan daerah dan lintas sektor untuk memastikan layanan kesehatan tetap berjalan dan respons terhadap potensi kejadian luar biasa (KLB) dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
(H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik