Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Pascabanjir Besar di Sumatra, Ahli Ingatkan Potensi KLB Penyakit Menular

Atalya Puspa    
09/12/2025 09:05
Pascabanjir Besar di Sumatra, Ahli Ingatkan Potensi KLB Penyakit Menular
Ilustrasi(ANTARA/Iggoy el Fitra)

SUDAH hampir dua pekan sejak banjir bandang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatra Barat. Meski penanganan darurat masih berlangsung, aspek kesehatan masyarakat dipandang harus segera beralih pada antisipasi kemungkinan munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular.

Prof Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI dan mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, menyampaikan bahwa potensi KLB pascabencana perlu mendapat perhatian serius. Ia merujuk pada publikasi ilmiah terbaru dalam Journal of Microbiology edisi Oktober 2025 berjudul “Flood-associated disease outbreaks and transmission in Southeast Asia”, yang memaparkan pola penyakit menular setelah banjir di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Pertama, menurut hasil penelitian tersebut, ada sejumlah penyakit yang secara ilmiah terbukti kerap memicu KLB pascabanjir. “Mikroorganisme penyebab KLB utamanya adalah Leptospira, Salmonella Typhi, Vibrio cholerae, Hepatitis A, dan parasit,” kata Tjandra. Ia menekankan pentingnya pelaporan jenis mikroorganisme yang beredar saat ini di daerah terdampak agar penanganan dapat dilakukan secara tepat.

Kedua, air banjir berpotensi membawa tiga jenis kontaminan utama, feses manusia, limbah berbagai sumber, serta patogen berbahaya dari hewan. Ketiganya dapat berkontak langsung dengan warga di lokasi bencana dan menjadi sumber penularan penyakit.

Ketiga, genangan yang tersisa setelah banjir berisiko meningkatkan kasus penyakit tular vektor, khususnya demam berdarah dengue (DBD) dan malaria. Karena itu, pengendalian populasi nyamuk harus menjadi agenda prioritas dalam fase pemulihan.

Keempat, situasi pascabencana dapat diperburuk oleh lima faktor tambahan. “Yang pertama adalah tidak berjalannya sistem jaminan air bersih, kesehatan lingkungan, dan sanitasi (WASH). Kedua, terjadinya resistensi antimikroba. Ketiga, berbagai gangguan fisik dan mental para pengungsi. Keempat, penuhnya kerumunan di tempat pengungsian, dan kelima adalah terganggunya pelayanan kesehatan karena kerusakan fasilitas serta keterbatasan tenaga,” jelasnya.

Kelima, artikel ilmiah yang dirujuk juga mencatat enam kejadian peningkatan kasus penyakit menular di Asia Tenggara sepanjang 2024–2025 akibat banjir atau hujan ekstrem, tiga di antaranya terjadi di Indonesia. Penyakit yang muncul mencakup leptospirosis, dengue, diare, dan bahkan kolera.

Tjandra berharap pemerintah memberi perhatian besar agar KLB penyakit menular tidak terjadi pada bencana besar yang sedang berlangsung. “Untuk dapat mencegah dan menanggulanginya maka kini pemerintah perlu memberi perhatian besar pada kegiatan pengendaliannya,” ujarnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya