Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Pola Makan Jadi Faktor Kunci Kurangi Food Waste

Basuki Eka Purnama
30/11/2025 20:05
Pola Makan Jadi Faktor Kunci Kurangi Food Waste
Ilustrasi(Freepik)

ISU food waste tidak dapat lagi dipandang sebagai persoalan sampingan dalam sektor gastronomi.

"Kita tidak bisa bicara gastronomi berkelanjutan tanpa bicara limbah makanan. Food waste tidak hanya persoalan di dapur restoran, tetapi persoalan budaya makan kita sebagai bangsa. Pengurangan food waste harus menjadi standar baru dalam gerakan kuliner Indonesia,” ujar Ketua Umum Indonesian Gastronomy Community (IGC) Ria Musiawan dalam Expert Meeting: Penguatan Strategi Pengurangan Limbah Makanan demi Gastronomi Berkelanjutan di Neo+ Hotel Kebayoran, Jakarta, Sabtu (29/11). 

Pertemuan ini mempertemukan para pakar dari pemerintah, industri kuliner, akademisi, pelaku UMKM, organisasi pangan, dan lembaga filantropi untuk merumuskan strategi nasional pengelolaan food waste berbasis gastronomi berkelanjutan, dengan keluaran berupa Konsensus Pakar.

Sekretaris Jenderal IGC Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH menyoroti pola makan dan perilaku konsumsi sebagai salah satu kontributor terbesar food waste di Indonesia, terutama di level rumah tangga dan sektor layanan makanan. 

Menurut Ray dalam pemantik diskusinya, “Pola makan kita adalah faktor besar yang sering diabaikan. Apalagi data penelitian Health Collaborativ e Center (HCC) di tahun 2024 menemukan 5 dari 10 orang Indonesia cenderung alami emotional eating, dan ini berisiko tingatkan sisa makanan atau food waste di rumah hingga 3 kali lipat," ujar Ray yang sering memberi edukasi lewat akun instagram @ray.w.basrowi ini.

Dalam pernyataan sikapnya, Ria Musiawan dan Ray Wagiu Basrowi menegaskan, ketika memilih menu karena tren, bukan kebutuhan; ketika memesan berlebihan demi estetika; ketika porsi dimaknai gengsi, bukan nutrisi, di situlah food waste terjadi. Pengurangan food waste bukan sekadar urusan teknis manajemen dapur, tetapi transformasi pola makan masyarakat.

Pertemuan ini juga mendapat dukungan penuh dari Badan Pangan Nasional, yang hadir sebagai salah satu panelis utama. Perwakilan Badan Pangan Nasional Nita Yulianis sebagai Direktur Kewaspadaan Pangan menggarisbawahi bahwa food waste adalah ancaman langsung terhadap ketahanan pangan bangsa. 

“Setiap makanan yang terbuang adalah nutrisi yang hilang dan emisi yang mengancam lingkungan. Ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada seberapa banyak kita produksi, tetapi seberapa sedikit yang kita sia-siakan. Upaya kolaboratif seperti yang dilakukan IGC ini penting untuk mempercepat perubahan nyata," ungkap Nita.

Melalui pendekatan gastronomi berkelanjutan, IGC menekankan bahwa setiap bahan pangan harus dihargai dari hulu hingga hilir, mulai dari petani, dapur, hingga konsumen. 

Agenda pertemuan mencakup pembahasan strategi pencegahan food waste di hulu, pengendalian di dapur gastronomi, edukasi perilaku konsumsi, inovasi teknologi valorizasi food waste, hingga percepatan kebijakan dan kolaborasi lintas sektor.

Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari momentum Hari Gastronomi Berkelanjutan 2025 dan Hari Pangan Sedunia, dengan dukungan 10 lembaga dan organisasi kunci, termasuk Badan Pangan Nasional, food bank, industri hotel, UMKM gastronomi, pelaku food waste commercial, asosiasi industri, hingga filantropi pangan. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya