Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Stroke Masih Menjadi Penyebab Kematian Tertinggi di Indonesia

Basuki Eka Purnama
29/11/2025 17:44
Stroke Masih Menjadi Penyebab Kematian Tertinggi di Indonesia
Ilustrasi(Freepik)

SERANGAN stroke menjadi penyebab kematian dan kecacatan tertinggi di Indonesia. Menurut data dari WHO pada 2020, lebih dari 357 ribu kematian per tahun atau sekitar 21% dari total kematian nasional, atau sekitar 1 dari 5 kematian nasional disebabkan oleh stroke. 

Tingkat kematian akibat stroke di Indonesia mencapai 178,3 per 100.000 penduduk (disesuaikan dengan usia), menempatkan Indonesia di peringkat ke-11 tertinggi di dunia. Data ini menunjukkan bahwa beban penyakit stroke di Indonesia masih sangat tinggi dan menjadi tantangan besar bagi sistem kesehatan nasional.

Sayangnya, banyak masyarakat yang masih mengabaikan gejala awal stroke seperti pusing mendadak, mulut tidak simetris ketika tersenyum, penglihatan kabur atau tangan terasa lemas dan menganggapnya sebagai kelelahan biasa. Padahal, setiap menit yang hilang tanpa penanganan medis dapat berarti hilangnya jutaan sel otak secara permanen.

"Setiap menit sangat berharga bagi pasien stroke. Golden period di bawah 4,5 jam sejak gejala pertama muncul adalah masa krusial yang menentukan keberhasilan pemulihan. Jika pasien tiba di rumah sakit dalam rentang waktu ini, peluang untuk pulih tanpa kecacatan meningkat secara signifikan. Stroke sendiri merupakan penyebab kecacatan nomor satu, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia," jelas Dokter Spesialis Neurologi Neurointervensi di Primaya Hospital PGI Cikini dr. Riski Amanda, Sp.N, FINA.

MI/HO--Dokter Spesialis Neurologi Neurointervensi di Primaya Hospital PGI Cikini dr. Riski Amanda, Sp.N, FINA.

Penyebab Stroke dan Gejalanya

Stroke bisa terjadi akibat berbagai faktor risiko yang bisa diubah ataupun yang tak bisa diubah. 

Faktor yang tidak dapat diubah meliputi 

  • Usia, dengan risiko stroke meningkat seiring bertambahnya usia; 
  • Jenis kelamin, karena pria memiliki risiko stroke lebih tinggi dibanding perempuan, meski perempuan cenderung mengalami stroke pada usia yang lebih tua dengan prognosis yang lebih buruk; 
  • Riwayat keluarga, dengan risiko stroke meningkat jika ada anggota keluarga yang pernah mengalaminya.

Sementara itu, faktor risiko yang dapat diubah mencakup 

  • Tekanan darah tinggi (hipertensi), 
  • Kadar kolesterol tinggi, 
  • Kebiasaan merokok, 
  • Diabetes, 
  • Penyakit jantung (terutama fibrilasi atrium), 
  • Obesitas, 
  • Kurang aktivitas fisik, 
  • Pola makan tidak sehat, 
  • Penyalahgunaan alkohol. 

Dengan mengenali dan mengendalikan faktor-faktor tersebut, risiko terjadinya stroke dapat diminimalkan secara signifikan.

FAST: Cara Mudah Mengenali Tanda Stroke

Gejala awal stroke dapat meliputi mati rasa atau kelemahan mendadak pada wajah, lengan, atau kaki; kesulitan berbicara atau memahami pembicaraan; gangguan penglihatan; kehilangan keseimbangan atau kesulitan berjalan; serta sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba tanpa penyebab jelas.

Untuk mempermudah mengenali gejala, gunakan istilah FAST, yaitu:

  • F (Face): Face drooping—satu sisi wajah tiba-tiba turun/terkulai atau mati rasa.
  • A (Arms): Arm weakness—sulit mengangkat satu lengan.
  • S (Speech): Speech difficulty—berbicara tidak jelas atau sulit dimengerti.
  • T (Time): Time to call emergency services—jika ada tanda-tanda di atas, segera hubungi rumah sakit.

Namun, gejala tidak selalu muncul bersamaan. Kadang hanya salah satu seperti pusing mendadak, penglihatan buram, atau kelemahan ringan di satu sisi tubuh. 

"Kunci utamanya adalah jangan menunggu gejala memburuk. Datanglah segera ke IGD rumah sakit dengan fasilitas stroke center," tegas Riski.

Mengapa Kecepatan Jadi Penentu Hidup Stroke

Stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terhenti akibat sumbatan (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik). Tanpa oksigen, sel-sel otak mulai mati dalam hitungan menit.

Jika stroke iskemik terdeteksi dini, dokter dapat memberikan obat trombolitik untuk melarutkan bekuan darah atau melakukan trombektomi mekanik guna mengangkat sumbatan. Keduanya hanya efektif jika dilakukan dalam golden period.

Setelah Serangan: Rehabilitasi tidak Kalah Penting

Bagi pasien yang berhasil melewati fase akut, perjuangan belum selesai. Proses pemulihan sering kali panjang dan membutuhkan disiplin tinggi. 

Rehabilitasi melibatkan fisioterapi, terapi okupasi, hingga terapi wicara. Tujuannya bukan sekadar memulihkan fungsi tubuh, tetapi juga mengembalikan kemandirian dan kepercayaan diri pasien.

"Banyak pasien yang depresi setelah stroke karena merasa tak berguna. Padahal, dengan terapi berkelanjutan dan dukungan keluarga, mereka bisa kembali produktif," lanjut Riski.

Lawan Sebelum Datang: Deteksi Dini dan Gaya Hidup Sehat

Faktor risiko stroke sebenarnya bisa dikendalikan. Hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, dan kebiasaan merokok adalah penyebab utama yang bisa dicegah dengan perubahan gaya hidup.

Pemeriksaan kesehatan rutin, terutama bagi usia di atas 40 tahun, menjadi langkah penting untuk mendeteksi risiko sejak dini. 

"Stroke bukan takdir, tapi akibat dari kebiasaan yang bisa diubah. Cukup dengan mengontrol tekanan darah, makan sehat, dan aktif bergerak, risiko stroke bisa turun drastis." tutup Riski. (Z-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik