Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
POLA hidup modern yang ditandai dengan tingginya tingkat stres, konsumsi makanan olahan, dan minimnya aktivitas fisik dinilai semakin mengganggu keseimbangan metabolisme masyarakat.
Dr. Luigi Gratton, pakar kesehatan sekaligus Office of Health and Wellness and Chair, Herbalife Nutrition Advisory Board dalam keterangan resmi, Selasa (25/11), menekankan bahwa metabolisme tidak semata terkait pembakaran kalori, tetapi berhubungan langsung dengan cara tubuh berfungsi, merespons lingkungan, serta menua.
"Untungnya, perubahan kecil yang disengaja dalam kebiasaan sehari-hari, dimulai dari nutrisi, gerakan, dan istirahat dapat memberikan dampak yang signifikan," ujar Gratton
Ia menjelaskan bahwa stres kronis dapat meningkatkan kadar kortisol yang mendorong tubuh menyimpan lebih banyak lemak. Pada saat yang sama, paparan makanan olahan tinggi gula tambahan dan rendah serat membuat pengendalian nafsu makan menjadi tidak stabil.
Kondisi tersebut, lanjutnya, dapat memengaruhi kesehatan saluran cerna dan sensitivitas insulin yang berperan penting dalam pengaturan energi.
Kebiasaan duduk dalam waktu panjang, baik karena pekerjaan kantor maupun kemacetan lalu lintas yang juga disebut menjadi faktor yang memperlambat metabolisme.
Aktivitas otot yang minim menyebabkan tubuh mengeluarkan energi lebih sedikit, sehingga menurunkan laju metabolisme dan memicu ketidakseimbangan energi.
Menurut Gratton, perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membantu memulihkan fleksibilitas metabolik tubuh. Ia menyoroti tiga langkah utama: pola makan, gerak tubuh, dan kualitas tidur.
Pada pola makan, ia menyarankan konsumsi protein tanpa lemak untuk membantu membangun dan mempertahankan massa otot, yang berperan dalam meningkatkan laju metabolisme saat beristirahat.
Serat dari sayur, buah, dan biji-bijian juga diperlukan untuk menjaga kesehatan usus dan kestabilan kadar gula darah.
Ia menambahkan bahwa sejumlah bahan alami seperti polifenol dari buah jeruk serta capsicum dari cabai menunjukkan potensi mendukung fungsi metabolisme, meski tetap perlu dikonsumsi dalam konteks pola makan seimbang.
Gerakan fisik disebut sebagai katalisator metabolisme. Aktivitas rutin, mulai dari olahraga teratur hingga berjalan cepat yang membantu tubuh mengatur pemanfaatan gula darah dan energi.
Menurut dia, semakin banyak seseorang bergerak, semakin besar peluang untuk mempertahankan kemampuan fungsional tubuh di masa mendatang.
Ia juga menekankan pentingnya tidur sebagai bagian dari pemulihan metabolik. Saat tidur, tubuh melakukan perbaikan fungsi internal, termasuk pengaturan hormon lapar dan kenyang, sensitivitas insulin, serta penurunan kadar kortisol.
Kebiasaan seperti membatasi layar menjelang tidur dan menjaga waktu tidur yang konsisten dinilai membantu meningkatkan kualitas istirahat.
"Kesehatan metabolisme dibangun melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan setiap hari. Bahkan kebiasaan sederhana dapat memberikan dampak besar bagi energi, suasana hati, dan vitalitas jangka panjang," pungkas Gratton. (Ant/Z-1)
Simak tips puasa bagi pekerja lapangan agar tetap sehat, terhidrasi, dan produktif selama Ramadan, mulai dari sahur hingga berbuka.
Simak tips sahur, hidrasi, istirahat, dan olahraga ringan agar tubuh tetap sehat dan kuat saat menjalani hari pertama puasa Ramadan.
Paparan kaporit dan air laut dapat membuat rambut kering, rapuh, hingga berubah warna. Simak tips ahli untuk melindungi kesehatan rambut dan kulit kepala Anda.
Mobil bukan hanya alat transportasi, tetapi juga bagian dari gaya hidup dan penunjang aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, memilih mobil yang tepat menjadi keputusan penting
Spesialis dermatologi dr. Riva Ambardina Pradita menekankan pentingnya hidrasi dan penggunaan pelembap untuk menjaga kelembapan kulit selama puasa Ramadan.
Saat ini, sekitar 30% kasus kanker usus besar di tanah air diderita oleh pasien di bawah usia 40 tahun, sebuah angka yang jauh melampaui statistik di negara-negara maju.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved