Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Radikal Bebas tak Selalu Buruk, Studi Ungkap Peran Penting bagi Tubuh

Thalatie K Yani
24/11/2025 12:34
Radikal Bebas tak Selalu Buruk, Studi Ungkap Peran Penting bagi Tubuh
Ilustrasi(freepik)

RADIKAL bebas selama ini dikenal sebagai penyebab berbagai penyakit, mulai dari kanker, penuaan, hingga gangguan degeneratif seperti Alzheimer. Namun, tubuh justru memproduksi radikal bebas setiap hari sebagai bagian dari proses penting untuk mempertahankan kehidupan, termasuk respirasi, komunikasi antarsel, dan pertahanan terhadap penyakit. Lalu, apakah radikal bebas benar-benar seseram reputasinya?

Pada kadar tinggi, radikal bebas memang dapat menyebabkan kerusakan. Molekul ini, sering disebut sebagai reactive oxygen species (ROS), memiliki satu elektron tak berpasangan yang akan berusaha mencari pasangan. Akibatnya, radikal bebas mudah bereaksi dan dapat menarik elektron dari membran sel, protein, hingga DNA, sehingga merusak atau menonaktifkan struktur tersebut.

Michael Murphy, ahli biologi mitokondria dari University of Cambridge, menjelaskan bahwa kerusakan itu tidak berhenti pada satu reaksi saja. “Jika sebuah radikal mengambil elektron, elektron tak berpasangan lain akan tertinggal dan ikut bereaksi. Jadi sering kali berakhir dengan reaksi berantai yang buruk,” ujarnya.

Meski demikian, tubuh mampu memanfaatkan kekuatan radikal bebas dalam kondisi terkontrol. Sistem kekebalan menggunakan radikal untuk menyerang patogen, sementara molekul seperti nitric oxide (NO) berperan sebagai sinyal untuk komunikasi antarsel.

“Beberapa enzim menggunakan kimia radikal bebas karena memberi kemampuan melakukan reaksi yang lebih sulit,” kata Murphy kepada Live Science. Banyak reaksi fundamental tubuh, termasuk respirasi dan transportasi oksigen, bergantung pada radikal sebagai perantara.

Mayoritas radikal bebas dalam tubuh, sekitar 90%, dihasilkan mitokondria, mesin respirasi dalam sel. Michael Ristow, peneliti penuaan dari Charité University Medicine Berlin, menjelaskan respirasi melibatkan rangkaian reaksi kompleks melalui electron transport chain. Selama proses ini, sebagian kecil elektron bocor dan membentuk radikal seperti superoksida, yang kemudian bisa berubah menjadi hidrogen peroksida dan, dalam kondisi tertentu, hidroksil radikal yang sangat reaktif.

Kerusakan terjadi ketika radikal mencapai kadar berlebihan. “Tubuh telah mengembangkan banyak mekanisme pertahanan,” kata Ristow. Antioksidan alami seperti vitamin C dan E, enzim khusus, hingga sistem glutathione bekerja menetralkan radikal berlebih. Namun, faktor luar seperti paparan UV atau konsumsi alkohol berlebih dapat memicu produksi radikal tambahan yang membebani sistem pertahanan ini.

Meski sering dianggap berbahaya, bukti menunjukkan bahwa kadar radikal bebas dalam batas tertentu justru bermanfaat, fenomena yang dikenal sebagai hormesis. “Respons terhadap paparan radikal bebas pada tingkat sistemik biasanya meningkatkan kapasitas tubuh dalam menghadapi radikal bebas,” jelas Ristow.

Efek ini tampak jelas pada aktivitas fisik. Menurut Ristow, konsumsi antioksidan sebelum atau saat berolahraga dapat mengurangi manfaat olahraga, termasuk peningkatan ketahanan, pemulihan, dan sensitivitas insulin.

Radikal bebas memang berpotensi menyebabkan kerusakan. Namun, manfaat dan bahayanya sangat bergantung pada konteks serta konsentrasinya. “Ini soal keseimbangan,” kata Ristow. “Tapi jika ROS benar-benar hanya merusak, evolusi pasti sudah menghapusnya.” (Live Science/Z-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya