Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
RADIKAL bebas selama ini dikenal sebagai penyebab berbagai penyakit, mulai dari kanker, penuaan, hingga gangguan degeneratif seperti Alzheimer. Namun, tubuh justru memproduksi radikal bebas setiap hari sebagai bagian dari proses penting untuk mempertahankan kehidupan, termasuk respirasi, komunikasi antarsel, dan pertahanan terhadap penyakit. Lalu, apakah radikal bebas benar-benar seseram reputasinya?
Pada kadar tinggi, radikal bebas memang dapat menyebabkan kerusakan. Molekul ini, sering disebut sebagai reactive oxygen species (ROS), memiliki satu elektron tak berpasangan yang akan berusaha mencari pasangan. Akibatnya, radikal bebas mudah bereaksi dan dapat menarik elektron dari membran sel, protein, hingga DNA, sehingga merusak atau menonaktifkan struktur tersebut.
Michael Murphy, ahli biologi mitokondria dari University of Cambridge, menjelaskan bahwa kerusakan itu tidak berhenti pada satu reaksi saja. “Jika sebuah radikal mengambil elektron, elektron tak berpasangan lain akan tertinggal dan ikut bereaksi. Jadi sering kali berakhir dengan reaksi berantai yang buruk,” ujarnya.
Meski demikian, tubuh mampu memanfaatkan kekuatan radikal bebas dalam kondisi terkontrol. Sistem kekebalan menggunakan radikal untuk menyerang patogen, sementara molekul seperti nitric oxide (NO) berperan sebagai sinyal untuk komunikasi antarsel.
“Beberapa enzim menggunakan kimia radikal bebas karena memberi kemampuan melakukan reaksi yang lebih sulit,” kata Murphy kepada Live Science. Banyak reaksi fundamental tubuh, termasuk respirasi dan transportasi oksigen, bergantung pada radikal sebagai perantara.
Mayoritas radikal bebas dalam tubuh, sekitar 90%, dihasilkan mitokondria, mesin respirasi dalam sel. Michael Ristow, peneliti penuaan dari Charité University Medicine Berlin, menjelaskan respirasi melibatkan rangkaian reaksi kompleks melalui electron transport chain. Selama proses ini, sebagian kecil elektron bocor dan membentuk radikal seperti superoksida, yang kemudian bisa berubah menjadi hidrogen peroksida dan, dalam kondisi tertentu, hidroksil radikal yang sangat reaktif.
Kerusakan terjadi ketika radikal mencapai kadar berlebihan. “Tubuh telah mengembangkan banyak mekanisme pertahanan,” kata Ristow. Antioksidan alami seperti vitamin C dan E, enzim khusus, hingga sistem glutathione bekerja menetralkan radikal berlebih. Namun, faktor luar seperti paparan UV atau konsumsi alkohol berlebih dapat memicu produksi radikal tambahan yang membebani sistem pertahanan ini.
Meski sering dianggap berbahaya, bukti menunjukkan bahwa kadar radikal bebas dalam batas tertentu justru bermanfaat, fenomena yang dikenal sebagai hormesis. “Respons terhadap paparan radikal bebas pada tingkat sistemik biasanya meningkatkan kapasitas tubuh dalam menghadapi radikal bebas,” jelas Ristow.
Efek ini tampak jelas pada aktivitas fisik. Menurut Ristow, konsumsi antioksidan sebelum atau saat berolahraga dapat mengurangi manfaat olahraga, termasuk peningkatan ketahanan, pemulihan, dan sensitivitas insulin.
Radikal bebas memang berpotensi menyebabkan kerusakan. Namun, manfaat dan bahayanya sangat bergantung pada konteks serta konsentrasinya. “Ini soal keseimbangan,” kata Ristow. “Tapi jika ROS benar-benar hanya merusak, evolusi pasti sudah menghapusnya.” (Live Science/Z-2)
Makan pada saat sahur adalah kunci energi selama puasa.
MUSIKUS Maia Estianty kini lebih mementingkan aspek kesehatan tubuh saat usianya menginjak 50 tahun. Keluhan pada bagian sendi dan tulang yang mulai muncul membuatnya lebih waspada.
Penyanyi yang kerap disebut Bunda Maia tersebut mengatakan keluhan fisik sudah ia rasakan sejak memasuki usia 40 tahun.
Beragam jenis buah seperti kiwi, apel, pisang, dan buah beri terbukti membantu menjaga kesehatan tubuh menurut riset kesehatan internasional.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kacang hijau mengandung senyawa bioaktif dan gizi penting yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh.
Mitokondria berperan penting dalam produksi energi, imunitas, dan pencegahan penyakit. Simak cara kerja dan tips menjaga mitokondria tetap sehat.
Studi terbaru mengungkap bagaimana kerusakan mitokondria memicu stres oksidatif dan penumpukan alpha-synuclein, membuka peluang arah terapi baru untuk penyakit Parkinson.
Peneliti temukan cara mengaktifkan mitokondria di otak dengan saklar molekuler, mampu memulihkan fungsi memori pada tikus dengan gejala mirip Alzheimer.
Cacat mitokondria mengaktifkan respons stres yang mengubah perkembangan dan fungsi sel-β. Temuan mereka menyoroti mekanisme sebelumnya tidak diketahui yang dapat menjadi pusat diabetes.
Untuk memenangkan perang melawan penuaan dini, kamu harus tahu siapa musuh kamu. Radikal bebas musuh utama yang buat kita cepat menua.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved