Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Peneliti Ungkap Tubuh Manusia tak Lagi Selaras dengan Kehidupan Kota Modern

Ficky Ramadhan
22/11/2025 13:57
Peneliti Ungkap Tubuh Manusia tak Lagi Selaras dengan Kehidupan Kota Modern
Kondisi kepadatan lalu lintas menjadi salah satu stresor yang berdampak pada kesehatan manusia(ANTARA)

PENELITI evolusi dari Loughborough University, Inggris, menilai manusia modern kini hidup dalam lingkungan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan rancangan biologisnya. Temuan ini dipublikasikan melalui laporan yang dikutip Newsweek, yang menyebut industrialisasi telah mengubah pola hidup manusia jauh lebih cepat daripada kemampuan tubuh untuk beradaptasi.

Menurut ilmuwan tersebut, kota-kota padat, tercemar, dan minim ruang alami memicu ketidaksesuaian antara kebutuhan biologis manusia dengan lingkungan tempat mereka hidup. Kondisi ini berpotensi memicu gangguan pada berbagai fungsi penting tubuh.

Mereka menyampaikan bahwa keterputusan manusia dari alam dan paparan beragam stresor lingkungan perkotaan dapat berdampak pada reproduksi, yang meliputi infertilitas dan penurunan kualitas sperma hingga sistem kekebalan tubuh, seperti meningkatnya alergi dan penyakit autoimun. Selain itu, penurunan fungsi kognitif, fisik, kekuatan, dan daya tahan juga mungkin terjadi.

Dengan terus menurunnya tingkat kesuburan global serta meningkatnya penyakit kronis, kekhawatiran ini semakin relevan. Terlebih, diproyeksikan 68% penduduk dunia akan tinggal di daerah perkotaan pada tahun 2050.

"Sebagian besar sejarah manusia menunjukan biologi kita dibentuk oleh lingkungan alami, tapi industrialisasi dengan cepat mengubah dunia di sekitar kita, lebih cepat daripada kemampuan tubuh kita untuk beradaptasi," kata dosen senior fisiologi evolusi manusia di Loughborough, Danny Longman.

Ia menjelaskan bahwa bukti-bukti gangguan fungsi biologis yang muncul di lingkungan perkotaan modern inilah yang mendorong mereka merumuskan Hipotesis Ketidaksesuaian Lingkungan (Environmental Mismatch Hypothesis). Menurutnya, biologi manusia yang berevolusi dalam konteks alam kini tidak lagi selaras dengan kehidupan urban.

Longman mengatakan, temuan ini berasal dari berbagai penelitian laboratorium, studi lapangan, dan kajian populasi yang membandingkan respons fisiologis terhadap lingkungan alami dan lingkungan industri. Ia mencontohkan stresor harian yang kerap ditemui masyarakat kota, yakni kebisingan kronis, kerumunan, lalu lintas, stimulasi digital berlebihan, dan akses terbatas ke ruang alami membuat sistem respons stres terus menyala.

"Ini meningkatkan kecemasan, memperburuk tidur, dan mengganggu konsentrasi. Seiring waktu, stresor konstan ini berkontribusi pada masalah kesehatan mental, ketegangan kardiovaskular, gangguan kognitif, disregulasi kekebalan, dan penurunan kesehatan reproduksi,” jelasnya.

Tak hanya itu, Longman menyebut lingkungan yang bising, ramai, dan tercemar juga terbukti menurunkan performa fisik, terutama daya tahan.

"Dengan kata lain, bepergian melalui jalanan bising dan tercemar tak hanya tidak menyenangkan, stresor harian ini menumpuk dan memiliki konsekuensi biologis nyata," tambahnya.

Meski demikian, Longman mengakui bahwa kembali ke habitat alami bukanlah solusi realistis di tengah pertumbuhan populasi dan ekspansi perkotaan.

"Kehidupan perkotaan masa depan kita. Tantangannya adalah merancang kota yang bekerja selaras dengan biologi manusia, bukan melawannya," tuturnya.(M-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya