Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Nyeri Kronis Tingkatkan Risiko Hipertensi, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Thalatie K Yani
18/11/2025 12:22
Nyeri Kronis Tingkatkan Risiko Hipertensi, Ini Penjelasan Ilmiahnya
Ilustrasi(freepik)

NYERI kronis dapat diam-diam meningkatkan risiko seseorang mengalami tekanan darah tinggi. Sebuah analisis besar terhadap lebih dari 200.000 orang dewasa menemukan hubungan kuat antara nyeri yang berlangsung lama, depresi, peradangan, dan meningkatnya risiko hipertensi.

Temuan ini dipublikasikan pada 17 November dalam jurnal Hypertension milik American Heart Association. Studi tersebut menunjukkan faktor lokasi nyeri, luasnya nyeri, serta kondisi psikologis turut berpengaruh terhadap kemungkinan berkembangnya tekanan darah tinggi.

Peneliti menemukan individu dengan nyeri kronis yang menyebar ke seluruh tubuh memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipertensi dibanding mereka yang tidak memiliki nyeri, mengalami nyeri jangka pendek, atau nyeri yang hanya terfokus pada satu area.

“Semakin luas nyerinya, semakin tinggi risiko mereka mengalami tekanan darah tinggi,” ujar penulis utama, Jill Pell, M.D., C.B.E., Henry Mechan Professor of Public Health di University of Glasgow. Ia menambahkan  sebagian hubungan tersebut dijelaskan oleh kondisi depresi. “Deteksi dan penanganan dini depresi pada orang yang mengalami nyeri mungkin dapat menurunkan risiko mereka mengalami hipertensi.”

Hipertensi terjadi ketika tekanan darah terhadap dinding pembuluh terlalu tinggi, sehingga meningkatkan risiko serangan jantung atau stroke. Kondisi ini memengaruhi hampir setengah populasi dewasa di Amerika Serikat dan menjadi penyebab kematian utama secara nasional maupun global.

Dalam studi ini, peserta diminta mengisi kuesioner tentang nyeri yang mengganggu aktivitas dalam sebulan terakhir, termasuk lokasi seperti kepala, wajah, leher/bahu, punggung, perut, pinggul, lutut, atau seluruh tubuh. Mereka juga melaporkan apakah nyeri berlangsung lebih dari tiga bulan. Depresi diukur melalui pertanyaan terkait suasana hati, minat, dan tingkat energi, sementara peradangan diukur melalui tes darah C-reactive protein (CRP).

Setelah masa tindak lanjut rata-rata 13,5 tahun, hampir 10% peserta mengalami hipertensi. Risiko tertinggi terjadi pada mereka dengan nyeri kronis menyeluruh, diikuti nyeri jangka pendek dan nyeri kronis pada satu lokasi. Depresi dan peradangan turut menjelaskan sebagian hubungan tersebut.

Daniel W. Jones, M.D., FAHA, ketua pedoman hipertensi American Heart Association/American College of Cardiology 2025, mengatakan studi ini menambah pemahaman tentang bagaimana nyeri kronis memengaruhi tekanan darah. Ia menekankan perlunya penelitian lanjutan mengenai strategi manajemen nyeri dan dampaknya terhadap hipertensi.

Peneliti mencatat sebagian besar peserta berusia paruh baya hingga lanjut usia dan berasal dari kelompok etnis kulit putih, sehingga hasilnya mungkin tidak sepenuhnya mewakili populasi lebih luas. Selain itu, data nyeri dilaporkan peserta dan pengukuran tekanan darah dilakukan dua kali. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik