Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
KITA semua tahu ponsel bukanlah teman terbaik bagi hubungan sosial, namun tetap saja kita menggunakannya berkali-kali dalam sehari. Dari kebiasaan itu muncul fenomena phubbing, mengabaikan seseorang tanpa sengaja karena lebih fokus pada ponsel.
Kebiasaan ini dapat menimbulkan dampak nyata. Dalam hubungan pasangan, phubbing membuat salah satu pihak merasa diabaikan. Pada keluarga, penggunaan ponsel orangtua bisa melemahkan ikatan dengan anak kecil dan menurunkan rasa percaya diri pada anak remaja.
Alih-alih menyalahkan diri sendiri karena kurang disiplin, pendekatan yang lebih efektif adalah belajar menggunakan ponsel secara lebih sadar dan terarah. Hal itu disampaikan Dr Kaitlyn Regehr, Associate Professor di University College London.
Regehr menawarkan satu cara sederhana untuk menghentikan kebiasaan mengambil ponsel secara otomatis saat sedang bersama orang lain. Setiap kali Anda meraih ponsel, beri tahu orang di depan Anda apa alasan Anda melakukannya. Setelah selesai, letakkan kembali ponsel dan lanjutkan percakapan.
Ia menyebut strategi itu efektif karena kita sering mengecek pesan, membuka notifikasi, atau “sekadar mencari sesuatu” tanpa berpikir. Dengan memberi tahu alasan dan durasi, kita memutus pola otomatis itu dan menunjukkan orang di sebelah kita tetap menjadi prioritas.
Regehr menjelaskan, prinsip pentingnya adalah transparansi. Jika ada pesan yang perlu segera dijawab, katakan saja: “Aku hanya perlu membalas ini sebentar, setelah itu perhatianku kembali ke kamu.” Dengan menamai tindakan itu, misalnya “Aku lagi cek jadwal kereta” atau “Aku balas pesan ibu dulu”, kita memberi sinyal mereka tetap penting.
“Itu mencegah orang lain merasa diabaikan,” kata Regehr. “Dan membuat kita lebih bertanggung jawab, karena kita jadi kurang terdorong untuk membuka aplikasi lain atau melakukan scrolling tanpa henti.”
Pendekatan ini juga bisa meningkatkan kualitas hubungan.
Dr Claire Hart, Associate Professor Psikologi di University of Southampton, memimpin sebuah studi yang melibatkan 196 responden untuk menilai hubungan dan kebiasaan penggunaan ponsel. Hasilnya menunjukkan semakin sering seseorang merasa di-phubbed, semakin buruk kualitas hubungannya.
“Tidak semua orang bereaksi dengan cara yang sama,” ujar Hart. “Ini tergantung kepribadian, tetapi ketika seseorang merasa diabaikan, itu bisa memicu balasan. Mereka lalu mengambil ponsel mereka sendiri, dan di situlah spiral berbahaya dimulai karena masing-masing merasa ditolak atau kurang dihargai dibanding apa yang ada di layar.”
Menurut Hart, setiap kali seseorang mengalami phubbing, koneksi emosional menurun. Setelah perhatian teralih ke layar, butuh waktu untuk mengembalikan kedekatan dan alur percakapan yang sebelumnya terjalin. (BBC/Z-2)
Rasa cemas berlebih terhadap penuaan, terutama soal kesehatan, ternyata mempercepat penuaan biologis pada tingkat sel.
KEWASPADAAN terhadap ancaman gangguan kesehatan mental anak dan remaja harus ditingkatkan dan menjadi kepedulian bersama untuk segera diatasi.
Namun demikian, lansia dengan penyakit kronis tetap dianjurkan berkonsultasi dengan dokter sebelum berpuasa untuk penyesuaian obat dan pola makan.
Lily Allen mengungkapkan sisi kelam di balik album kelimanya, West End Girl. Ia bicara soal trauma, kemarahan, hingga curhatan ekstrem para penggemar.
Mereka mengkaji efektivitas penggunaan semprot hidung esketamin sebagai terapi tambahan bagi penderita depresi yang resisten terhadap pengobatan konvensional.
Dukungan terhadap rekan kerja yang mengalami tekanan mental sebaiknya tidak diawali dengan ambisi untuk memberikan solusi cepat.
Pelajari sains di balik intimasi manusia bersama Dr. Justin Garcia. Temukan alasan mengapa koneksi emosional lebih dari sekadar seks dan bagaimana AI memengaruhi hubungan.
Pelajari makna couple dalam cinta, tips membangun hubungan romantis, dan rahasia keharmonisan pasangan. Panduan lengkap untuk cinta sejati!
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved